FAD https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad <p>Prosiding Fakultas Arsitektur dan Desain</p> en-US Tue, 25 Oct 2022 02:48:36 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENERAPAN TEMA WATERFRONT PADA PERANCANGAN SAMBAS WATERFRONT ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1215 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas memiliki mayoritas penduduk beragama Islam. Dengan mayoritas penduduk beragama Islam maka dibutuhkan tempat yang dapat mewadahi kegiatan keislaman atau Islamic Center yang menjadi fungsi bangunan pada perancangan. Selain itu, Kalimantan Barat merupakan Provinsi yang dijuluki dengan sebutan Provinsi “Seribu Sungai”. Julukan tersebut dikarenakan Provinsi Kalimantan Barat memiliki ratusan sungai besar dan kecil, dimana diantara sungai tersebut terdapat sungai yang dapat dan sering dilayari. Salah satunya sungai yang berdampingan dengan langsung tapak yaitu sungai Sambas Kecil. Berdasarkan hal tersebut, maka tema Waterfront dipilih dalam merancang Islamic Center guna mengangkat potensi tapak yang berdampingan langsung dengan perairan sungai Sambas Kecil sebagai pendekatan desain. Metoda yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menguraikan potensi-potensi yang dimiliki oleh sungai Sambas Kecil yang berdampingan dengan tapak. Penerapan tema Waterfront dalam perancangan Islamic Center ini yaitu dengan mengatur orientasi massa bangunan masjid sebagai bangunan utama serta plaza utama untuk aktifitas publik menghadap ke arah sungai, kelengkapan fasilitas dermaga sebagai jalur aksesibilitas dari arah sungai dan penggunaan unsur air berupa kolam pada area lansekap. Diharapkan dengan penerapan tema Waterfront, melalui pemanfaatan potensi sungai sebagai kekuatan lokal dalam tapak pada perancangan Sambas Waterfront Islamic Center ini dapat dihasilkan desain yang mampu beradaptasi dengan tapak.<br>Kata kunci: Islamic Center, Sungai, Waterfront</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency has a majority Muslim population. With a Muslim population, places that can accommodate Islamic activities or Islamic Centers are needed which are the functions of the building in the design. In addition, West Kalimantan is a province dubbed the "Thousand Rivers" Province. The nickname is because the Province of West Kalimantan has hundreds of large and small rivers, where between these rivers there are rivers that can and are often navigable. One of them is the river that rises directly to the tread, namely the Sambas Kecil river. Based on this, the Waterfront theme was chosen in designing the Islamic Center in order to raise the potential of the site directly with the waters of the Sambas Kecil river as a design approach. The method used is descriptive qualitative by describing the potentials of the Sambas Kecil river which is adjacent to the site. The application of the Waterfront theme in the design of the Islamic Center is to regulate the orientation of the mass of the mosque building as the main building and the main plaza for public activities facing the river, the completeness of the pier facility as an accessibility point from the direction of the river and the use of water elements in the form of a pond in the landscape area. It is hoped that with the application of the Waterfront theme, through the utilization of the potential of the river as a local strength in the site in the design of the Sambas Waterfront Islamic Center, a design that is able to adapt to the site can be produced.<br>Keywords: Islamic Center, River, Waterfront</p> Try Bahi Faisal, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1215 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR ORGANIK PADA RANCANGAN NATURAL HISTORY MUSEUM OF GUA PAWON https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1216 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Gua Pawon yang terletak di Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu situs manusia purba di Indonesia yang Karts kelas 1. Pada Situs ini banyak ditemukan alat-alat budaya peninggalan masa lalu dari zaman Preneolitik hingga tulang manusia purba. Peninggalan sejarah ini dapat menunjukkan asal suatu bangsa khususnya leluhur Sunda di Bandung. Agar temuan ini dapat terjaga perlu adanya suatu sarana kebudayaan seperti musem yang akan menyimpan dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat. Bangunan yang akan dirancang yaitu Natural History Museum of Gua Pawon dengan menerapkan tema Arsitektur Organik. Natural History Museum of Gua Pawon merupakan bangunan museum yang untuk memberikan tempat untuk penyimpanan benda-benda penemuan di Gua Pawon dan juga berbagai fasilitas pendukung lain seperti guest house, camping ground, dan juga cafetaria yang dapat dimanfatkan menjadi salah satu tujuan wisata edukasi serta sebagai wadah rekreasi kembali ke alam. Oleh karena itu, tema Arsitektur Organik dinilai cocok untuk diterapkan pada bangunan. Arsitekur Organik menampilan kesan visual yang harmonis dengan lingkungan tapak.seperti yang tercermin pada karya Frank Lloyd Wright. Hal ini diharapkan dapat diterima oleh masyarakat sekitar dan pengguna museum nantinya.<br>Kata kunci: Arsitektur Organik, Museum, Gua Pawon,</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Pawon Cave, which is located in West Bandung Regency, is one of the ancient human sites in Indonesia with Class 1 Karts. At this site, many cultural tools from the past, from the Preneolithic era to ancient human bones, were found. This historical heritage can show the origin of a nation, especially the Sundanese ancestors in Bandung. In order for these findings to be maintained, it is necessary to have a cultural facility such as a museum that will store and also provide education to the public. The building to be designed is the Natural History Museum of Pawon Cave by applying the Organic Architecture theme. The Natural History Museum of Pawon Cave is a museum building that provides a place for storing discoveries in Pawon Cave as well as various other supporting facilities such as guest houses, camping ground, and cafeterias which can be used as an educational tourism destination as well as a place for learning. recreation back to nature. Therefore, the theme of Organic Architecture is considered suitable to be applied to buildings. Organic Architecture creates a visual impression that is harmonious with the site's environment, as reflected in the work of Frank Lloyd Wright. This is expected to be accepted by the surrounding community and museum users later.<br>Keywords: Organic Architecture, Museum, Gua Pawon</p> Meifi Winarsyah, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1216 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA RANCANGAN MUSEUM ETNOLOGI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1217 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Indonesia bangsa yang kaya akan keberagaman budaya dan suku bangsa, yang tercermin dalam kehidupan bersosial, kepercayaan, individu, bahasa, dan objek karya benda yang berwujud dan dapat disentuh. Seiring dengan perubahan zaman, pada era globalisasi ini nilai – nilai kelokalan atau kearifan lokal mulai terlupakan dan tergantikan. Masyarakat yang ingin tampil tidak ketinggalan zaman justru mengubah cara pandang yang sudah ditanamkan dari leluhur menjadi kehilangan identitas, oleh karena itu perlu wadah yang menghimpun dan melestarikan nilai – nilai kelokalan dan mengingatkan masyarakat kembali akan budaya yang sudah mengakar lama. Kabupaten Bandung Barat mempunyai peninggalan budaya yaitu Guha Pawon yang menyimpan berbagai benda bersejarah. Museum Etnologi direncanakan menjadi salah satu fasilitas yang dapat mewadahi, mengkomunikasikan dan melestarikan nilai – nilai kelokalan yang direncanakan dengan konsep arsitektur Neo-Vernakular. Konsep ini mengangkat kembali unsur – unsur kelokalan yang diterapkan pada bentuk, ornamen, material, hubungan bangunan dengan tapak yang menginterpretasikan lingkungan dan disesuaikan dalam bentukan yang baru. Museum direncanakan dalam sebuah konsep yang dikemas dalam suatu bentuk objek ekowisata yang menarik dan edukatif berorientasi pada konservasi pelestarian alam dan fina budaya. Diharapkan peran Museum Etnologi dengan konsep Arsitektur Neo-Vernakular ini dapat mewakili dan mengangkat budaya Sunda yang mewakili lokasi Museum tersebut.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo-Vernakular, Ekowisata, Museum</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Indonesia is a nation that is rich in cultural and ethnic diversity, which is reflected in social life, beliefs, individuals, languages, and tangible and touchable objects of work. Along with the changing times, in this era of globalization, local values or local wisdom are starting to be forgotten and replaced. People who want to appear not out of date actually change the perspective that has been instilled from their ancestors to lose their identity, therefore they need a forum that collects and preserves local values and reminds people of a culture that has been rooted for a long time. West Bandung Regency has a cultural heritage, namely Guha Pawon which stores various historical objects. The Ethnology Museum is planned to be one of the facilities that can accommodate, communicate and preserve local values which are planned with the Neo-Vernacular architectural concept. This concept re-elevates local elements which are applied to forms, ornaments, materials, the relationship of the building to the site which interprets the environment and is adapted in a new form. The museum is planned in a concept that is packaged in an attractive and educative form of ecotourism object oriented towards nature conservation and culture . It is hoped that the role of the Ethnology Museum with the Neo-Vernacular Architecture concept can represent and elevate Sundanese culture which represents the location of the Museum.<br>Keywords: Ecotourism, Museums, Neo-Vernacular Architecture</p> Bukhori Tamam, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1217 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA BANGUNAN GRAND MALL PARAHYANGAN https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1218 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota baru parahyangan yaitu kawasan mandiri yang terus berkembang, sehingga dengan konsep kota mandiri tersebut diperlukan fasilitas - fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan yang akan terus berkembang untuk masyarakat sekitar, salah satunya yaitu bangunan komersial berupa pusat perbelanjaan. kebutuhan tersebut semakin meningkat dibarengi oleh adanya pademi covid-19. Pemilihan tema desain bangunan harus diperhatikan, apalagi dengan adanya covid-19 kita memerlukan area terbuka yang lebih nyaman sehingga pola ruang luar dan ruang dalam dapat menjadi satu kesatuan yang membuat bangunan tersebut unik, nyaman dan aman. Pemilihan tema rancangan tema arsitektur kontekstual memiliki nilai lebih bagi lingkungan dalam atau pun luar bangunan, sehingga pemilihan tema tersebut diharapkan dapat menjadi solusi bagi kawasan tersebut untuk kebutuhan masyarakat.<br>Kata kunci: Kota Baru Parahyangan, Arsitektur Kontekstual, Pusat Perbelanjaan.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The new city of Parahyangan is an independent area that continues to grow, so with the concept of an independent city, facilities are needed that can meet the needs that will continue to grow for the surrounding community, one of which is a commercial building in form of a shopping center. This need is increasing in line with the Covid-19 pandemic. The choice of building design theme must be considered, especially with the presence of covid-19, we need a more comfortable open area so that the pattern of outdoor and indoor spaces can become a single unit that makes the building unique, comfortable and safe. The choice of a contextual architectural theme design theme has more value for the environment inside or outside the building, so that the choice of the theme is expecte to be a solution for the area to meet the need of the surrounding community.<br>Keywords: Kota Baru Parahyangan, Shopping Center, Contextual Architecture</p> Alif Al Farisi Hartono, Ucu Makmur Kosasih Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1218 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR SUNDA PADA PERANCANGAN APARTEMEN DI BOJONGSOANG KABUPATEN BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1219 <p><strong>Abstrak</strong><br>Sebuah kota besar dalam sebuah negara memiliki masalah yang sama yaitu meningkatnya populasi manusia yang berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan hunian. Kota Bandung merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki masalah tersebut. Hal itu diakibatkan oleh terbatasnya ketersediaan lahan dan harga tanah yang semakin mahal. Menanggapi masalah tersebut, maka timbul inovasi hunian vertikal atau bertingkat atau biasa disebut rumah susun atau apartemen. Tantangan dalam merancang apartemen yang berlokasi di tengah kota yaitu memerlukan olahan desain yang memaksimalkan lahan dengan baik serta ramah lingkungan. Adapun konsep Neo Vernakular diangkat agar bangunan apartemen tersebut menjadi ciri khas yang mengangkat Gaya Arsitektur Sunda yang memberikan kesan ramah untuk penghuni maupun masyarakat Kota Bandung. Penerapan tema tersebut diterapkan melalui penggunaan atap Arsitektur Sunda parahu kumeureub yang dikombinasikan dengan rumah adat Sunda Papandak di Garut. Hal ini sekaligus menghasilkan estetika yang baik pada fasad bangunan, serta mengolah lahan hijau sesuai aturan untuk memenuhi standar bangunan ramah lingkungan.<br>Kata Kunci: Apartemen, Arsitektur Sunda, Neo Vernakular</p> <p><strong>Abstract</strong><br>A large city in a country has the same problem, namely solving the problem of increasing human population which is directly proportional to the increase in housing needs. The city of Bandung is one of the big cities in Indonesia that has a similar problem. This is due to the limited availability of land and the increasingly expensive land prices. In response to this problem, vertical or multi-storey residential innovations arise or commonly called flats or apartments. The challenge in designing an apartment located in the middle of the city is that it requires a processed design that maximizes land properly and is environmentally friendly. The Neo Vernacular concept was appointed so that the apartment building became a characteristic that raised the Sundanese Architectural Style which gave a good impression to the residents and the people of Bandung City. The application of this theme is implemented through the use of the roof of the Sunda Parahu Kumeureub architecture combined with the Sunda Papandak Traditional House in Garut, while producing a good aesthetic on the building's facade, as well as cultivating green land according to regulations to meet environmentally friendly building standards.<br>Keywords: Apartment, Sundanese Architectural, Neo Vernacular</p> Fathan Maulana Hidayat, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1219 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR MODERN PADA PERANCANGAN APARTEMEN LA’VENUE DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1220 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Bandung sebagai salah satu kota destinasi pendidikan di Indonesia mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan kebutuhan lahan dan hunian yang layak, namun berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang ada. Keterbatasan lahan membuat hunian tidak lagi dibangun horizontal melainkan vertikal, salah satu contohnya adalah apartemen. Konsep arsitektur modern dengan dasar ide “form follow function” diterapkan pada perancangan apartemen ini, dengan lebih memperhatikan aspek ruang dalam yang akan menjadikan sebuah apartemen memiliki kualitas ruang penunjang kehidupan yang baik. Pendekatan “5 Point Of New Architecture” dari Le Corbuzier dipilih sebagai pendekatan dari konsep Arsitektur Modern yang akan membantu mewujudkan desain apartemen yang layak huni. Lima poin tersebut antara lain open plan dan pilotis yang akan digunakan sebagai dasar perancangan denah lantai dasar, serta free façade, horizontal window, dan roof garden yang akan terlihat jelas pada bagian fasad bangunan sebagai penunjang kualitas ruang dalam pada apartemen ini. Desain apartemen dengan konsep arsitektur modern tidak hanya menghasilkan apartemen yang layak huni dan dapat memfasilitasi para penghuninya, namun juga dapat menjadi jalan keluar bagi permasalahan akan hunian vertikal dan keterbatasan lahan yang ada di daerah perkotaan.<br>Kata Kunci: Apartemen, Arsitektur Modern, Desain.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Bandung as one of the educational destinations in Indonesia has resulted in an increase in population which is directly proportional to the need for decent land and housing, but inversely proportional to the availability of existing land. Limited land makes housing no longer built horizontally but vertically, one example is apartments. The concept of modern architecture based on the idea of "form follow function" is applied to the design of this apartment, with more attention to the aspect of interior space which will make an apartment have a good quality of life support space. The “5 Point Of New Architecture” approach from Le Corbuzier was chosen as an approach to the Modern Architecture concept that will help realize a livable apartment design. The five points include open plans and pilotis which will be used as the basis for designing the ground floor plan, as well as free facades, horizontal windows, and roof gardens which will be clearly visible on the facade of the building to support the quality of the interior space in this apartment. Apartment designs with modern architectural concepts not only produce apartments that are livable and can facilitate their residents, but can also be a way out for problems with vertical housing and limited land in urban areas.<br>Keywords: Apartment, Architecture Modern, Design.</p> Reyza Pribadi Lukita, Shirley Wahadamaputera Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1220 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MINIMALIS PADA RANCANGAN ISLAMIC CENTER KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1221 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Banyaknya masyarakat muslim serta aktivitas keislaman yang banyak dilakukan di kabupaten Sambas menjadikan daerah ini membutuhkan suatu wadah yang dapat disebut dengan pusat kegiatan muslim atau Islamic Center, kehadiran Islamic Center diharapkan dapat melestarikan kepercayaan rakyat Sambas yang telah tumbuh dan juga memperkenalkan kembali jati diri kabupaten Sambas yang telah dikenal dengan sebutan Sarambi Mekkah. Tema dari perancangan Islamic Center ini adalah arsitektur minimalis yang mengadaptasi karakter islam dan arsitektur kontekstual di kabupaten Sambas. Pendekatan desain yang digunakan menitik beratkan pada bentuk dan pola rancangan yang merujuk pada fungsi dan rencana tata ruang yang efektif, efisien, dan fleksibel. Islamic Center ini nantinya akan memberikan pembaharuan pada Kabupaten Sambas baik dalam segi desain/ aspek fisik melalui langgam arsitektur minimalis yang mengadaptasi ajaran Islam dan tetap mengangkat kearifan budaya lokal melalui karakter arsitektur Sambas. Juga memberikan pembaharuan pada Kabupaten Sambas dalam karakteristik keislaman yang sederhana/ aspek metafisik melalui pendakatan fungsi desain yang memberi stimulus kepada penggunanya untuk senantiasa mengikuti syariat Islam yang sesuai.<br>Kata kunci: Arsitektur, Islamic Center, Minimalis</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The large number of Muslim communities and the many Islamic activities carried out in Sambas district make this area need a forum that can be called a Muslim activity center or Islamic Center. has been known as the Sarambi Mecca. The theme of this Islamic Center design is minimalist architecture that adapts Islamic characters and contextual architecture in Sambas district. The design approach used focuses on the form and design patterns that refer to the functions and spatial plans that are effective, efficient, and flexible. This Islamic Center will later provide renewal in Sambas Regency both in terms of design / physical aspects through a minimalist architectural style that adapts Islamic teachings and still raises local cultural wisdom through the architectural character of Sambas. It also provides reforms to Sambas Regency in simple Islamic characteristics/metaphysical aspects through a design function approach that provides a stimulus to its users to always follow the appropriate Islamic law..<br>Keywords: Architecture, Islamic Center, Minimalism</p> Allam Rizaldi, Dian Duhita, Bambang Subekti Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1221 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 APARTEMEN AMORFATI DI KOTA BANDUNG DENGAN PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR INDUSTRIAL https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1222 <p><strong>Abstrak</strong><br>Kepadatan penduduk di Indonesia mengakibatkan lahan untuk masyarakat tinggal menjadi terbatas, saat kondisi perkotaan semakin padat, permintaan untuk apartemen yang luas dan multifungsi semakin meningkat. Hal tersebut didorong oleh penduduk yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti Bandung yang bertambah dari tahun ke tahunnya. Melihat hal tersebut konsep hidup vertikal akan lebih solutif dan lebih populer, bahkan sangat dibutuhkan untuk masyarakat yang ingin tinggal di perkotaan. Seorang pengamat properti David Cornelis memprediksi bahwa generasi milenial saat ini tidak lagi menggunakan indekos, namun mereka beralih ke apartemen, Hal ini juga mendorong kehadiran apartemen di dekat perguruan tinggi semakin mewabah untuk menunjang aktifitas mahasiswa. Konsep yang kini digemari generasi milenial salah satunya adalah Arsitektur Industrial. Selain memberi kesan maskulin, konsep ini juga memberi nuansa berbeda dalam hunian. Konsep ini memiliki beberapa kelebihan selain hemat akan biaya, konsep ini juga mengedepankan kelancaran sirkulasi udara, sehingga generasi milenial tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli Air Conditioner (Pendingin Ruangan) nantinya.<br>Kata Kunci: Kepadatan penduduk, Apartemen, Milenial, Arsitektur Industrial</p> <p><strong>Abstract</strong><br>The population density in Indonesia results in limited land for people to live in, when urban conditions are increasingly crowded, the demand for spacious and multifunctional apartments is increasing. This is driven by the population migrating to big cities such as Bandung which is increasing from year to year. Seeing this, the concept of vertical living will be more solution and more popular, even very much needed for people who want to live in urban areas. A property observer David Cornelis predicts that the current millennial generation no longer uses boarding houses, but they switch to apartments. This also encourages the presence of apartments near universities to become increasingly epidemic to support student activities. One of the concepts favored by the millennial generation is Industrial Architecture. In addition to giving a masculine impression, this concept also gives a different feel in the dwelling. This concept has several advantages besides being cost-effective, this concept also prioritizes smooth air circulation, so that the millennial generation does not need to spend money to buy an Air Conditioner later.<br>Keywords: Population destiny, Apartment, Millennial, Industrial Architecture</p> Muhammad Ilham Aprizal, Achsien Hidayat Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1222 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA KONTEMPORER PADA RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1223 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumahisakit mata khususiadalah rumah sakitiyangimemberikan pelayananikritis padaibidang atauijenis penyakit tertentu berdasarkanidisiplin ilmu, kelompok umur, organ, atau jenis penyakit, yaitu penyakit mata. Kesehatan mata sangat penting karena tidak ada tempat untuk melihat, sehingga mata membutuhkan perawatan. Kebutaan akibat katarakimerupakan masalah kesehatan global yang perlu segera ditangani, karena mengabaikan masalah mata dan penglihatanidapat menyebabkan kebutaan dan hilangnya fungsi mata.. Pada kawasan Ujungberung ini, belum adanya pusat kesehatan terkait dengan fungsi mata menjadi alasan utama dibangunnya rumah sakit khusus mata dengan tema arsitektur kontemporer.Konsep yang diterapkan pada bangunan rumah sakit ini yaitu kontemporer, dari konsep tersebut dapat diharapkan menjadi daya tarik baru bagi masyarakat sekitar pada kawasan Ujungberung maupun kawasan kota Bandung. Penerapan konsep kontemporer dalam prinsipnya yaitu menciptakan ruangan yang memiliki kesan nyaman bagi pengguna bangunan, bernuansa interaktif, serta menjadi tipologi baru terhadap wilayah perancangan tersebut.<br>Kata kunci: Arsitektur Kontemporer, Kota Bandung, Rumah sakit khusus mata</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Special Eye Hospitaliis a hospital that provides main services in one fieldior a certain typeiof disease, basedion discipline, age group, iorgan or type of disease, namely eye disease. eyes need care. Blindness caused by cataracts is a global health problem that must be addressed immediately, because ignoring eye and vision problems can lead to blindness and loss of eye function. In this Ujungberung area, the absence of a health center related to eye function is the main reason for the construction of a special eye hospital with a contemporary architectural theme. The concept applied to this hospital building is contemporary, from this concept it can be expected to be a new attraction for the surrounding community in the Ujungberung area and Bandung city area. The application of contemporary concepts in principle is to create a room that has a comfortable impression for building users, interactive nuances, and becomes a new typology for the design area.<br>Keywords: Kontemporer Architecture, Bandung City, Eye Hospital</p> Ghifar Syahrul Ramadhan, Dian Duhita Permata, Shirli Putri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1223 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR MODERN PADA RANCANGAN AARASH ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1224 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kabupaten Sambas adalah suatu wilayah di Indonesia yang dihuni oleh penduduk mayoritas beragama muslim. Oleh sebab itu, Kabupaten Sambas mempunyai potensi kuat untuk dibangun tempat kegiatan keagamaan serta penunjang kegiatan keagamaan berupa Islamic center. Pembangunan Islamic center menjadi pilihan tepat untuk menunjang kebutuhan dakwah islam dimana didalam satu kawasan tidak hanya berisi masjid. Adapun bangunan penunjang lain seperti gedung pendidikan, gedung serbaguna, tempat pameran islam, kantin, serta perpustakaan. Perancangan akan dibuat menggunakan konsep arsitektur modern. Pada dasarnya, prinsip arsitektur modern menekankan kesederhanaan bentuk serta fungsionalitas dari sebuah bangunan. Hal ini, sesuai dengan prinsip islam yang mengajarkan agar tidak mubadzir dan berlebihan dalam segala hal. Maka, prinsip ini dipilih untuk perancangan pada Aarash Islamic center dengan penerapan aritektur modern dibagian fasad, tatanan massa, serta bentuk bangunan. Prinsip arsitektur modern ini juga tetap memperhatikan kondisi serta keadaan lingkungan sehingga pada pelaksanaan perancangan ini tidak merusak lingkungan dan membuat lingkungan yang lebih baik. Perancangan ini diharapkan dapat menampung dan mengkomodir segala kebutuhan dakwah islam di Kabupaten Sambas dan sekitarnya, serta dapat menjadi tempat beribadah antara manusia dengan tuhanNya atau sebagai tempat bersilaturahmi antar manusia.<br>Kata kunci: Keagamaan, islamic center, dakwah islam, arsitektur modern</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is an area in Indonesia which is inhabited by a Muslim majority population. Therefore, Sambas Regency has strong potential to build a place for religious activities as well as supporting religious activities in the form of an Islamic center. The construction of an Islamic center is the right choice to support the needs of Islamic da'wah where in one area it does not only contain a mosque. As for other supporting buildings, such as educational buildings, multipurpose buildings, Islamic exhibition venues, canteens, and libraries. The design will be made using the concept of modern architecture. Basically, the principles of modern architecture emphasize the simplicity of form and functionality of a building. This is in accordance with Islamic principles which teach not to be redundant and excessive in everything. Thus, this principle was chosen for the design of the Aarash Islamic center with the application of modern architecture in the facade, mass structure, and building form. The principle of modern architecture also pays attention to environmental conditions and conditions so that in the implementation of this design it does not damage the environment and makes a better environment. This design is expected to accommodate and accommodate all the needs of Islamic da'wah in Sambas Regency and its surroundings, and can be a place of worship between humans and God or as a place for friendship between humans.<br>Keywords: Religion, Islamic center, Islamic da'wah, modern architecture</p> Nita Angraeni, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1224 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR ISLAM PADA PERANCANGAN SAMBAS AL-JABBARU ISLAMIC CENTRE https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1225 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Banyaknya penduduk Sambas yang menuntut ilmu hingga di kota Madinah, itulah sebabnya daerah tersebut dikenal dengan sebutan Serambi Madinah. Penggunaan tema Arsitektur Islam di Kabupaten Sambas akan lebih mudah diterima oleh masyarakat dikarenakan masyarakat sambas memiliki religi islam yang kuat. Oleh sebab itu perancangan arsitektur islam ini mengambil pendekatan tema Arsitektur Islam. Metode yang digunakan pada Sambas Al-Jabbaru Islamic Centre adalah deskriptif kualitatif yang menjelaskan dasar-dasar filosofi islam dalam perancangannya. Perancangan masjid dengan kubah memiliki makna kekuasaan dan kebesaran Tuhan, pemilihan warna putih pada masjid memiliki makna kesederhanaan dan kemurnian, perancangan bangunan dengan gubahan dasar kubus memiliki makna sederhana, dan pembuatan taman firdaus yang memancarkan keindahan dari islam merupakan penerapan dari prinsip - prinsip tema arsitektur Islam. Penekanan prinsip “Islam tidak berlebihan” juga diterapkan dalam perancangan Islamic Centre dengan pemanfaatan media sungai, penggunaan material dan perancangan ruang yang tidak mubazir namun tetap dapat dinikmati keindahannya. Diharapkan perancangan Islamic Centre dengan tema Arsitektur Islam dapat memberikan pemahaman terkait filosofi islam melalui aplikasi dalam perancangan fasilitas Islamic Center tersebut. Untuk membuat segalanya lebih baik bagi pelanggan Islamic Centre, fokus yang lebih besar akan ditempatkan pada fasilitas.<br>Kata Kunci: Arsitektur Islam, Islamic Centre, Kabupaten Sambas.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The large number of Sambas residents who study up to the city of Medina, which is why the area is known as the Veranda of Medina. The use of the theme of Islamic architecture in Sambas Regency will be more easily accepted by the community because the Sambas community has a strong Islamic religion. Therefore, the design of Islamic architecture takes an approach to the theme of Islamic Architecture. The method used at the Sambas Al-Jabbaru Islamic Center is descriptive qualitative which explains the basics of Islamic philosophy in its design. The design of a mosque with a dome has the meaning of God's power and greatness, the choice of white color in the mosque has the meaning of simplicity and purity, the design of the building with a cube-based composition has a simple meaning, and the creation of a paradise garden that exudes the beauty of Islam is the application of the principles of Islamic architectural themes. . The emphasis on the principle of "Islam is not excessive" is also applied in the design of the Islamic Center with the use of river media, the use of materials and the design of space that is not redundant but can still be enjoyed by its beauty. It is hoped that the design of the Islamic Center with the theme of Islamic Architecture can provide an understanding of Islamic philosophy through applications in the design of the Islamic Center facility. To make things better for Islamic Center customers, greater focus will be placed on facilities.<br>Keywords: Islamic Architecture, Islamic Centre, Sambas Kabupaten District.</p> Reza Rizky Hermana, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1225 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1226 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Sambas merupakan salah satu kabupaten yang mayoritas penduduknya beragama islam, selain itu Sambas juga mendapatkan julukan sebagai Serambi Madinah, hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang menuntut ilmu sampai ke Kota Madinah. Dikarenakan jumlah masyarakat yang memeluk agama islam dan aktifitas-aktifitas keislaman yang banyak, kabupaten Sambas dipilih sebagai lokasi perancangan yang diharapkan dapat menampung kebutuhan dari aktifitas masyarakat islam. Perancangan tersebut disebut sebagai pusat aktifitas ke-Islaman atau Islamic center. Islamic center yang akan dibangun dengan konsep arsitektur kontemporer ini. menerapkan konsep pada bentuk bangunan dengan cara membuat massa bangunan yang dinamis dan tidak terikat oleh waktu. Pendekatan rancangan konsep bangunan Islamic center ini diambil dari beberapa prinsip arsitektur kontemporer yaitu menerapkan sistem struktur dan konstruksi yang kokoh, gubahan massa berbentuk geometris, penggunaan dinding kaca antara ruang dalam dan koridor, pengolahan area ruang terbuka yang terstruktur. Diharapkan dapat menjadi suatu bentuk pendekatan yang efektif bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi para remaja yang beragama islam.<br>Kata kunci: Arsitektur Kontemporer, Islamic center, Kabupaten Sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas is one of the districts where the majority of the population is Muslim, besides that Sambas also gets the nickname as the Veranda of Medina, this is because many people are studying to the city of Medina. Due to the large number of people who embrace Islam and many Islamic activities, Sambas district was chosen as the design location which is expected to accommodate the needs of Islamic community activities. The design is referred to as the center of Islamic activity or Islamic center. The Islamic center will be built with this contemporary architectural concept. applying the concept to the shape of the building by creating a dynamic building mass that is not bound by time. The approach to the design of the Islamic center building concept is taken from several contemporary architectural principles, namely applying a solid structure and construction system, geometric compositions of mass, the use of glass walls between the inner room and the corridor, the processing of structured open space areas. It is hoped that it can become an effective approach for the surrounding community, especially for teenagers who are Muslim.<br>Keywords: Contemporary Architecture, Islamic Center, Sambas District</p> Hudan Muhammad Ilman, Widji Indahing Tyas, Reza Pahlevi Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1226 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 KONSEP ARSITEKTUR ORGANIK "BIOMIMIKRI" DALAM PERANCANGAN ISLAMIC CENTER, KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1227 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Sambas Kalimantan Barat adalah kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Barat yang mayoritas penduduk Sambas adalah muslim. Kalimantan Barat dikenal dengan keindahan hayati berupa flora dan fauna, sehingga sudah selayaknya pembagunan dilaksanakan dengan tidak mengganggu alam dan dapat bersatu dengan lingkungan sekitar. Arsitektur organik adalah cara berpikir yang mengacu pada keselarasan antara alam sekitar dan manusia, yang merangkul satu sama lain menjadi satu, menyajikan arsitektur organik sebagai gaya arsitektur berdasarkan bentuk-bentuk alam. Konsep yang diterapkan dalam perancangan Islamic Center ini adalah Arsitektur Organik Biomimikri,yaitu melalui desain massa bangunan Islamic Center yang menggambarkan tumbuhan bunga anggrek: bunga, daun, serta batang nya. Bentuk dari bunga anggrek diterapkan pada bangunan masjid, daun diterapkan diantaranya yaitu pada massa bangunan gedung serba guna, gedung pendidikan, asrama. Terakhir yaitu batang, diterapkan pada desain seluruh area jalan yang ada di dalam site . Perancangan Sambas Islamic Center ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi perancangan bangunan-bangunan organic lainnya yang akan dibangun di daerah tersebut kelak.<br>Kata kunci: alam, anggrek, biomimikri, islam, islamic center, organik, sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas West Kalimantan is a regency in West Kalimantan province where the majority of Sambas residents are Muslims. West Kalimantan is known for its biological beauty in the form of flora and fauna, so it is appropriate that development is carried out without disturbing the surrounding nature and can unite with the surrounding environment. Organic architecture is a way of thinking that refers to the harmony between the surrounding nature and people, embracing each other into one, presenting organic architecture as an architectural style based on natural forms. The concept applied in the design of this Islamic Center is biomimicry organic architecture through the MASS Design of the Islamic Center building is taken that describes the orchid plants including orchids, leaves, and stems. The Shape of the orchid flower is applied to the mosque building, the leaves are applied among others, namely to the mass of multipurpose buildings, educational buildings, dormitories, and the last is the stem, applied to the design of the entire road area on the site . The design of Sambas Islamic Center is expected to be a source of inspiration for the design of organic buildings in the area in the future.<br>Keywords: anggrek, biomimicry, islam, islamic center, nature, organic, sambas</p> Derry Julian Dwi Putra, Shirley Wahadamaputera Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1227 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP NEO VERNAKULAR SUNDA PADA PERANCANGAN “HALU CULTURE EXPERIENCE” https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1228 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Perkembangan pariwisata Jawa Barat secara perlahan dirasakan meningkat dari segi kualitas maupun kuantitas. Elemen pembentuk pariwisatanya bukan sebatas objek wisata saja tetapi terdapat budaya, kuliner, hingga kerajinan kriya yang terus dilestarikan dan dipelihara dengan baik menjadi pendukung. Banyak wilayah yang memiliki potensi baik, tetapi pengelolaan pariwisata yang masih belum bisa bersaing dari segi fasilitas. Salah satunya adalah wilayah Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat karena perkembangan pariwisata yang belum merata di Jawa Barat. Gunung Halu memiliki potensi pariwisata yang baik, mulai dari lansekap yang indah, budaya Sunda yang masih kental, hingga hasil bumi kopi dan teh yang baik di wilayah ini. Melihat potensi yang dimiliki Gunung Halu, maka akan dibangun Halu Culture Experience. Sebuah ekowisata yang memiliki fasilitas pusat informasi wisata, souvenir shop, workshop pengolahan kopi, river tubing, restoran, penginapan, ruang pertemuan dan amphitheater. Fasilitas tersebut akan dibangun dengan konsep Neo Vernakular Sunda. Konsep tersebut bertujuan untuk melestarikan unsur-unsur lokal. Namun dengan adanya perkembangan jaman dan teknologi, disesuaikan dan kemudian sedikit atau banyaknya mengalami pembaruan menuju suatu karya yang lebih modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat. Konsep ini akan diterapkan pada peletakan tatanan masa, bentuk masa, fasad hingga ruang dalamnya.<br>Kata kunci: Budaya, Ekowisata, Gunung Halu, Neo Vernakular</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The development of West Java tourism is slowly increasing in terms of quality and quantity. The elements that make up tourism are not limited to tourist objects, but there are culture, culinary, and craft crafts that continue to be preserved and well maintained as supporters. Many areas have good potential, but tourism management is still unable to compete in terms of facilities. One of them is the Gunung Halu area, West Bandung Regency because of the uneven development of tourism in West Java. Mount Halu has good tourism potential, ranging from beautiful landscapes, Sundanese culture is still strong, to the good coffee and tea crops in this region. Seeing the potential of Mount Halu, a Halu Culture Experience will be built. An ecotourism facility that has a tourist information center, souvenir shop, coffee processing workshop, river tubing, restaurants, lodging, meeting rooms and an amphitheater. The facility will be built with the Neo Vernacular Sundanese concept. The concept aims to preserve local elements. However, with the development of the times and technology, it is adjusted and then more or less undergoes renewal towards a more modern or advanced work without compromising local traditional values. This concept will be applied to the laying of the mass order, the shape of the mass, the facade to the interior space.<br>Keywords: Culture, Ecotourism, Gunung Halu, Neo Vernacular</p> Dani Krisyandi, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1228 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP ISLAMIC ARSITEKTUR PADA BANGUNAN SAMBAS ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1229 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas merupakan wilayah di Kalimantan Barat yang memiliki masyarakat yang mayoritasnya menganut agama Islam. Maka dari itu, diperlukan sebuah lembaga yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pengembangan dan pembinaan agama Islam bagi masyarakat muslim di Kabupaten Sambas dan sekitarnya. Lahan pada Kabupaten Sambas itu sendiri memiliki kendala dan potensi dengan kontur tanah cenderung datar yang memungkinkan untuk mendirikan Islamic Centre sesuai dengan solusi desain yang diterapkan. Tema yang diterapkan ialah konsep arsitektur Islam, dimana rancangan bangunan dapat membina hubungan yang positif antara manusia dengan alam dan tetap menjunjung konsep keIslaman. Penerapan konsep arsitektur islam bisa dilihat dari bentuk kubah pada bagian masjid dan beberapa ornamen islam di bagian dinding terutama dinding asrama. Fungsi utama dari kawasan tersebut merupakan Islamic Center, oleh karena itu harus memiliki fasilitas dan saana pendukung yang baik. Penerapan tema arsitektur Islam bisa dilihat dari ornament ornament yang ada di bangunan pada kawasan tersebut. Harapan dengan penerapan tema ini merupakan keterkaitan untuk meningkatkan kesehatan dan kenyamanan ruang hidup di Islamic Centre dengan penerapan konsep arsitektur Islam.<br>Kata kunci: Arsitektur Islam, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Pusat Kajian Agama Islam</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Kabupaten Sambas is an area in Kalimantan Barat which has a community whose majority adheres to Islam. Therefore, we need an institution that functions as a center for Islamic religious development and guidance activities for the Muslim community in Kabupaten Sambas and its surroundings. The land in Kabupaten Sambas itself has constraints and potential with flat land contours which make it possible to establish an Islamic Center in accordance with the applied design solutions. The theme applied is the concept of Islamic architecture, where building designs can foster a positive relationship between humans and nature and still uphold the Islamic concept. The application of the concept of Islamic architecture can be seen from the shape of the dome on the mosque and some Islamic ornaments on the walls, especially the dormitory walls. The main function of the area is the Islamic Center, therefore it must have good supporting facilities and facilities. The application of the theme of Islamic architecture can be seen from the ornaments in the buildings in the area. It is hoped that the application of this theme is related to improving the health and comfort of living spaces in the Islamic Center by applying the concept of Islamic architecture.<br>Keywords: Islamic Architecture, Islamic Center, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat</p> Lintang Maulidya Prymaranti, Juarni Anita, Shirli Putri Asri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1229 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN INTEGRASI ARSITEKTUR TRADISIONAL DAN ARSITEKTUR MODERN PADA RANCANGAN ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1230 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar di Asia Tenggara dan juga merupakan negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak didunia. Banyaknya penduduk Indonesia yang beragama Muslim maka dibutuhkan juga adanya ruang penunjang untuk melakukan aktivitas keIslaman. Perancangan Islamic Center di Kabupaten Sambas dengan konsep Arsitektur Tradisional dan Arsitektur Modern diharapkan dapat mudah diterima oleh masyarakat Kabupaten Sambas. Sambas adalah kabupaten yang berada di provinsi Kalimantan Barat yang penduduknya mayoritasnya merupakan bersuku Dayak dan Melayu. Islamic Center yang bertujuan sebagai tempat keagamaan umat Islam yang mencakup Pendidikan, tempat beribadah dan juga sebagai tempat wisata Islami. Dengan diterapkannya tema Arsitektur Tradisional dan Arsitektur Modern pada bangunan Islamic Center ini diharapkan bahwa masyarakat dapat menerima dan melestarikan budaya yang dianut<br>The Great Sambas Islamic Center diharapkan dapat menjadi tempat yang dapat menopang aktivitas-aktivitas keIslaman dan memberikan kenyamanan untuk penggunanya. Islamic Center ini mempunyai fasilitas seperti Masjid, Gedung Serba Guna, Perpustakaan, Asrama dan Floating Market.<br>Kata kunci: Arsitektur Tradisional, Arsitektur Modern, Pusat KeIslaman , Kabupaten Sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Indonesia is a nation with the greatest population in Southeast Asia and also the biggest Muslim people in the world. With the large number of Indonesians who are Muslim, there is also a need for supporting space to carry out Islamic activities. The concept of Islamic Center in Sambas Regency with the concept of Traditional Architecture and Modern Architecture is expected to be easily accepted by the people of Sambas Regency. Sambas is a district in West Kalimantan where the majority of the population is Dayak and Malay. Islamic Center which aims as a religious place for Muslims which includes education, a place of worship and also as an Islamic tourist place. With the application of the theme of Traditional Architecture and Modern Architecture on the Islamic Center building, it is hoped that the community will accept and embrace the culture<br>The Great Sambas Islamic Center were expected to be a place that can support Islamic activities and provide comfort for its users. This Islamic Center has facilities such as a Mosque, Multipurpose Building, Library, Dormitory, and Floating Market<br>.<br>Keywords: Traditional Architecture, Modern Architecture, Islamic Center, Sambas District</p> Neisha Inestasya, Meta Riany, Ardhiana Muhsin Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1230 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN PRINSIP BIOPHILIC DESIGN PADA ISLAMIC CENTRE DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1231 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupatem Sambas merupakan wilayah di Kalimantan Barat memiliki masyarakat yang mayoritasnya menganut agama Islam. Maka dari itu, diperlukan sebuah lembaga yang berfungsi sebagai wadah pusat kegiatan pengembangan dan pembinaan agama Islam bagi masyarakat muslim di Kabupaten Sambas. Lahan pada Kabupaten Sambas memiliki kendala dan potensi dengan kontur tanah yang cukup datar memungkinkan untuk pendirian Islamic Centre sesuai dengan solusi desain yang diterapkan. Tema yang diusung untuk perancangan Islamic Centre ini adalah Biophilic Design atau arsitektur biofilik, dimana rancangan bangunan dapat membina hubungan yang positif antara manusia dengan alam. Tema arsitektur biofilik, Islamic Centre ini akan fokus pada pola Presence of Water atau kehadiran elemen air dalam rancangan desain. Dikarenakan fungsi bangunan ini merupakan Islamic Centre, penting untuk mempunyai kemampuan dalam merancang desain rumah ibadah yang memiliki lingkungan yang tenang agar jamaah dapat mencapai tujuan ibadah yang khusyuk. Oleh karena itu, perancangan Islamic Centre ini mengambil pendekatan tema desain biofilik yang fokus pada pola Presence of Water agar dapat terciptakan suasana dan lingkungan yang menenangkan dan dapat meningkatkan konsentrasi bagi jama’ah masjid. Penerapan tema dengan unsur air dalam desain Islamic Centre ini diimplementasikan dengan pembuatan wading pools, water fountains, dan trickling streams pada bangunan. Harapan dengan penerapan tema ini merupakan keterkaitan untuk kenyamanan ruang hidup di Islamic Centre dengan penerapan elemen- elemen dengan unsur air.<br>Kata kunci: Desain Biofilik, Islam, Keberadaan Air</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is an area in West Kalimantan whereas the majority of the adheres to Islam. Therefore, it’s important to have an institution that functions as a center for the development of Islamic religion for the Muslim community in Sambas Regency. The site in Sambas Regency itself has obstacles and potential with a fairly flat land contour that allows for the establishment of an Islamic Center in accordance with the applied design solutions. The theme for the design of the Islamic Center is biophilic design, whereas building design can foster a positive relationship between humans and nature. On the theme of biophilic architecture, this Islamic Center will focus on the pattern of Presence of Water. Because the function of this building is an Islamic Center, it is important to be able to design a house of worship that encounters a calming environment so that worshipers can achieve their sole purpose of worship. Therefore, the design of this Islamic Center takes a biophilic design theme approach that focuses on the Presence of Water pattern in order to create a calming atmosphere and environment and can increase concentration for the congregation of the mosque. The application of the theme with the element of water in the design of the Islamic Center is implemented by making wading pools, water fountains, and trickling streams in the buildings. The hope with the application of this theme is an increase in physical health and the comfort of living space in the Islamic Center by applying elements with the elements of water.<br>Keywords: Biophilic Design, Islam, Presence of Water</p> Giska Alliya Chikila, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1231 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR METAFORA PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTRE DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1232 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten sambas termasuk dalam wilayah administrasi di provinsi Kalimantan barat yang letaknya dekat dengan perbatasan RI-Malaysia, kebutuhan pelayanan public dan ruang publik di sambas masih cenderung tidak terlalu lengkap salah satunya fasilitas public utuk pusat Pendidikan, pengembangan dan kegiatan agama islam di daerah tersebut yang mayoritas memeluk agama islam. Islamic Centre dibangun sebagai pusat aktivitas agama islam seperti Pendidikan, pengembangan dan aktivitas ruang publik pada area tersebut. Arsitektur metafora dipilih sebagai prinsip dalam mendesain karena bisa merefleksikan pesan dalam bentuk arsitektur yang menggambarkan tentang area sekitar site.artsitektur metafora akan membuat tema yang diangkat menjadi lebih terasa secara visual maupun suasana dalam kawasan Islamic centre karena suatu pesan yang tersirat dalam visual akan lebih mudah ditangkap. Kawasan diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat karena area diolah untuk kebutuhan aktivitas indoor dan outdoor.<br>Kata kunci: Arsitektur Metafora, Islamic Centre, Kabupaten Sambas, Ruang Publik</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is part of the administrative area in the province of West Kalimantan which is located close to the RI-Malaysia border, the need for public services and public spaces in Sambas still tends to be incomplete, one of which is public facilities for the center of education, development and Islamic religious activities in the area. majority embraced Islam. The Islamic Center was built as a center for Islamic religious activities such as education, development and public space activities in the area. Metaphoric architecture was chosen as a design principle because it can reflect messages in the form of architecture that describes the area around the site. Metaphoric architecture will make the themes raised more visually and feel more visually pleasing in the Islamic center area because a message implied in the visual will be easier to capture. . The area is expected to become a center for community activities because the area is processed for the needs of indoor and outdoor activities.<br>Keywords: Metaphoric Architecture,Islamic Centre, Sambas Regency, Public Space</p> Fauzan Ismatullah, Widji Indahing Tyas, Reza Pahlevi S Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1232 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA BIOPHILIK PADA PERANCANGAN NATURE THRIVE APARTMENT DI SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1235 <p><strong>Abstrak</strong><br>Sleman termasuk dalam kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang sering disebut kota pariwisata, budaya dan juga pendidikan. Daerah Istimewa Yogyakarta juga termasuk daerah di Indonesia yang berkembang pesat dari segi ekonomi, edukasi, pembangunan dan lainnya. Julukan kota pendidikan dilihat dari tersedianya perguruang tinggi yang bermacam. Hal ini menjadikan Sleman jumlah penduduknya berkembang meningkat dari tahun ke tahun yang dipengaruhi pula oleh banyaknya migran. Faktor tersebut menjadikan kebutuhan dasar yaitu tempat tinggal meningkat. Solusi dari permasalahan ini adalah dengan membangun hunian vertikal yang mementingkan masalah kesehatan dunia pada saat ini di era pandemi. Coronovirus 19 (COVID–19) sangat berdampak pada kegiatan sosial dan ekonomi yang menjadikan terbatasnya kegiatan manusia. Hal ini menjadi pertimbangan dalam perancangan apartemen. Prinsip biophilik menjadi solusi dalam perancangan bangunan Nature Thrive Apartment yang terdiri dari 2 lantai basement sebagai area parkir dan servis, 2 lantai podium yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, lantai tower berjumlah 5 lantai difungsikan sebagai unit hunian dengan 3 macam tipe serta 2 buah core untuk sirkulasi vertikal. Pada apartemen ini mengambil poin Nature in The Spaces yang bertujuan menciptakan lingkungan agar meningkatkan kesehatan, kebugaran dan kesejahteraan manusia dengan memasukkan unsur alam baik secara langsung, fisik dan sementara pada ruang luar maupun ruang dalam.<br>Kata Kunci: Alam dalam Ruang, Apartemen, Pandemi, Prinsip Biophilik</p> <p><strong>Abstract</strong><br>Sleman is part of Yogyakarta's Special Region, which is known for its tourism, culture, and education. Yogyakarta's Special Region is also an area in Indonesia that is rapidly developing in terms of economy, education, and development, among other things. The city's nickname, "the city of education," comes from the abundance of universities. As a result, Sleman's population is increasing year after year, a trend that is impacted by the number of migrants. As a result of these circumstances, the basic housing requirements have increased. The solution to this problem is to construct a vertical residence that focuses on global health issues during this pandemic era. COVID-19 (coronovirus 19) has had a significant impact on social and economic activity, limiting human activities. This is taken into account in the apartment's design. The biophilic principle was used in the design of the Nature Thrive Apartment building, which has two basement floors for parking and service areas, two podium floors with various supporting facilities, five tower floors with three types of residential units, and two circulation cores. vertical. This apartment is inspired by the concept of Nature in the Spaces, which strives to create an atmosphere that promotes health, fitness, and human well-being by incorporating natural elements directly, physically, and temporarily in outdoor and indoor spaces.<br>Keywords: Nature in The Spaces, Apartment, Pandemic, Biophilic principles</p> Azzatunisa Arifatul Maulida, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1235 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR MODERN PADA RANCANGAN CREATIVE ISLAMIC CENTER SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1236 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas adalah satu kabupaten yang ada di provinsi Kalimantan Barat, dengan mayoritas penduduk kabupaten Sambas menganut agama islam. Kabupaten ini memiliki kegiatan ke-islaman yang sering dilakukan sehari-hsri pada lingkungan masyarakatnya. Seperti kegiatan memperingati hari besar islam, berangkat Jemaah Haji, merayaan budaya Kabupaten Sambas yang bertema islam, contohnya yaitu acara saprahan, acara nikahan, acara gunting rambut, acara khitanan, acara khatam al-qur’an dan lain sebagainya. Dengan banyaknya kegiatan-kegiatan keislaman, maka diperlukannya suatu wadah yang dapat memfasilitasi kegiatanya. Deskriptif Kualitatif merupakan metoda yang digunakan pada penulisan ini, dengan mengolah dan mengumpulkan teori maupun data-data yang di dapat, kemudian diterapkan pada perancangan bangunan yang akan desain, sehingga dapat sejalan dengan yang dibutuhkan. Penerapan Arsitektur Modern pada bangunan Creative Islamic Center ini menerapkan pola ruang dalam maupun ruang luar bangunan yang dimana bentuk yang ada mengikuti fungsi Bangunan di dalamnya. Ini mengacu pada prinsip-prinsip Arsitektur Modern, yaitu Form Follow Function, sederhana apa adanya atau kejujuran struktur, dan lainnya. Serta menerapkan ruang dalam yang terbuka agar pengguna lebih leluasa dalam melakukan aktivitas dan juga untuk memudahkan pengguna dalam berinteraksi dengan lingkungan ataupun pengguna lainnya. Sehingga dapat menambah pengalaman ruang maupun menambah kreatifitas penggunanya,maka ruang yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan fungsinya bangunan masing-masing.<br>Kata kunci: Arsitektur Modern, Islamic Center, Kabupaten Sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is one of the regencies in the province of West Kalimantan, with the majority of the population of Sambas Regency practicing Islam. This district has Islamic activities that are often carried out daily in its community. such as activities to commemorate Islamic holidays, leaving for the Hajj congregation, celebrating the culture of Sambas Regency with an Islamic theme, for example, saprahan events, wedding events, hair cutting events, circumcision events, Khatam al-qur'an events, and so on. With so many Islamic activities, it is necessary to have a forum that can facilitate their activities. Qualitative-descriptive is the method used in this writing. It involves processing and collecting theory and data, which are then applied to the design of the building to be designed, so that it can be in line with what is needed. The application of modern architecture in the Creative Islamic Center building creates a pattern of indoor and outdoor spaces where the existing form follows the function of the building. It refers to the principles of modern architecture, namely Form Follow Function, simple as is or honesty of structure, and others. as well as implementing an open inner space so that users are more flexible in carrying out activities and to make it easier for users to interact with the environment or other users. So that it can add to the experience of space and increase the creativity of its users, then the existing space can be used properly according to the function of each building.<br>Keywords: Modern Architecture, Islamic Center, Sambas Regency</p> Adi Kurnia, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1236 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN NEO-VERNAKULAR SUNDA PADA RANCANGAN ARTCHAEOLOGY MUSEUM OF GUA PAWON DI BANDUNG, JAWA BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1237 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kebudayaan yang dimiliki Indonesia sangatlah beragam. Dalam hal ini, sangat penting bagi masyarakat Indonesia untuk mempertahankan warisan budaya yang telah ada. Diperlukan strategi untuk mempertahankan warisan budaya khususnya di Jawa Barat. Upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian warisan budaya adalah dengan memberi wadah seperti mendirikan Museum Arkeolog. Untuk membangkitkan kembali budaya Jawa Barat yang mulai berkurang diperlukan penanaman kembali nilai, ciri khas dan eksistensi. Penerapan tema Aristektur Neo-Vernakular menjadi solusi dalam permasalahan tersebut. Rancangan desain dalam neo vernakular menghadirkan langgam tradisional sunda dengan penerapan pada bentuk dasar bangunan, bentuk atap dan elemen khas sunda namun tetap diolah secara ‘modern’. Hal ini bertujuan bahwa museum arkeologi selain menjadi tempat wisata edukasi bagi pengunjung, tetap menghadirkan edukasi mengenai warisan budaya setempat dengan memperkenalkan elemen dan identitas budaya sunda dalam penerapan fasad bangunan yang mewakili kearifan lokal budaya Sunda khususnya di Jawa Barat.<br>Kata kunci: Arsitektur Sunda, Neo-Vernakular, Museum Arkelog</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Indoensia’s culture is very diverse. In this case, it is very important for the Indonesian people to maintain the existing cultural heritage. A strategy is needed to maintain cultural heritage, especially ini West Java. Efforts that need to be made to preserve the cultural heritage is so provide a forum such as establishing the Archaeological Museum. To revive the culture of West Java which is starting ti diminish, it is necessary to replant values, characteristict and existence. The application of the theme of Neo-Venacular Achitecture is the solution too this problem. The design is neo vernacular present the traditional Sundanese style by applying it to the basic form of the building, the shape of the roof and the typical Sundanese element bu still processed in a ‘modern’ way. It is intended that the archaeological museum apart from being an educationl tourist spot for visitor, still presents education about local cultural heritage by introducing elements and Sundanese cultural identity in the application of building facades that represent local wisdom of Sundanese culture, especially in West Java.<br>Keywords: Sundanese Architecture, Neo-Vernacular, Archaeological Museum.</p> Frizki Oktaviani, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1237 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN KUBISME PADA PERANCANGAN RAJAWALI EYES CENTER DI JALAN RAJAWALI BARAT, KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1238 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Manusiaadapat menikmati keindahan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan baik, salah satunya karena memiliki kedua mata. Mata adalah salah satu panca indra untuk emlihat, mata juga merupakan organ inti dalam kegiatan yang dilakukan manusia. Semakin berkembanganya teknologi pada zaman modern ini, membuat masyarakat tidak bisa melepas pandangannya dari layar monitor apapun. Masyarakat mendapatkan atau menggali informasi dari perangkat digitalnya yang berakibat buruk bagi kesehatan mata. Jika mata mengalami gangguan, hal tersebut mengurangi bahkan menghambat fungsinya.<br>Pada era digital ini, pekerjaan yang dilakukan pun menuntut organ untuk bekerja sehingga sangat penting untuk merawat dan menjaga kesehatan mata, akan tetapi kesehatan mata kurang diperhatikan oleh masyarakat sehingga masyarakat mengalami gangguan atau penyakit mata. Maka dari itu, perlu dibangun RumahiiSakit Khusus Mata sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan derajat masyarakat dibidang kesehatan mata. Dengan merancangirumahiisakit khusus mata dengan penerapan arsitektur modern kubisme dapat membantu masyarakat lebih mudah dalam menjaga kesehatan mata jika melakukan perawatan dan pemeriksaan secara berkala ke rumah sakit khusus mata yang ditangani oleh dokter. Rumah sakit khusus mata ini bisa memebuhi masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan mata.<br>Kata kunci: Rumah Sakit, Khusus Mata, Kota Bandung, Arsitektur, Modern Kubisme.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Humans can enjoy beauty and interact with the surrounding environment well, one of which is because they have both eyes. The eye is one of the five senses to see, the eye is also a core organ in human activities. With the development of technology in modern times, people cannot take their eyes off any monitor screen. People get or dig up information from their digital devices that are bad for eye health. If the eye is impaired, it reduces or even hinders its function.<br>In this digital era, the work done also requires organs to work so iteis veryeimportanteto careifor and maintain eye health, but eye health is not paid attention to by the public so that people experience eye disorders or diseases. Therefore, itiisinecessary to build a.SpecialiEyeiHospital as a forum to improve the degree of society in the field of eye health. By designing a special eye hospital with the application of modern cubism architecture, it can help people more easily maintain eye health if they carry out regular care and examinations at a special eye hospital that is handled by a doctor. This special eye hospital can meet people who are already aware of the importance of eye health.<br>Keywords: Hospital, Eyes Hospital, Bandung City, Architecture, Modern Cubism.</p> Nadia Nastiti Laksitajati, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1238 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR ORGANIK PADA RANCANGAN YORE MUSEUM DI KABUPATEN BANDUNG BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1239 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Museum Arkeologi adalah museum yang dapat memperkenalkan sejarah dengan cara memperkenalkan benda-benda arkeolog atau zoologi. Museum ini diciptakan untuk menarik minat masyarakat untuk memperdalam ilmu arkeologi serta memperbanyak fasilitas museum di Indonesia. Tapak berada di Cibukur, Kec. Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, mempunyai luas lahan 11.300 m2. Tapak berada di iklim tropis dengan kondisi berkontur. Museum ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi dan edukasi. Proyek ini bertujuan untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat umum, pelajar, wisatawan, serta meningkatkan ekonomi sekitar. Museum ini juga dibuat dengan tujuan menyimpan artefak dari Gua Pawon. Arsitektur Organik akan digunakan sebagai tema dalam desain, dipilih karena memiliki keterkaitan dengan kondisi sekitar yang berkontur. Dengan pendekatan arsitektur organik, maka dibuat secondary skin berbentuk ranting pohon, gubahan massa berbentuk daun, dan interior dalam bangunan dibentuk agar dapat merespon kontur natural tapak.<br>Kata kunci: Arsitektur Organik, Kabupaten Bandung Barat, Museum Arkeologi</p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Archaeological Museum is a museum that can introduce history by introducing archaeological or zoological objects. This museum was created to attract public interest in deepening archeology and increasing museum facilities in Indonesia. The site is located in Cibukur, Kec. Cipatat, West Bandung Regency, has a land area of 11,300 m2. The site is in a tropical climate with contoured conditions. This museum also serves as a place of recreation and education. This project aims to introduce history to the general public, students, tourists, as well as improve the local economy. This museum was also created with the aim of storing artifacts from Pawon Cave. Organic Architecture will be used as a theme in the design, chosen because it is related to the surrounding contoured conditions. With Archicetcture Organic theme, secondary skin which been build like a tree branch, leaf shaped mass composition, and shaped interior building is made to respond natural site contours.<br>Keywords: Organic Archiceture, West Bandung Regency, Archaeology Museum</p> Putri Hendriyani, Juarni Anita, Shirli Putri Asri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1239 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA HEALING ARCHITECTURE PADA RANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1240 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Berkembangnya gaya hidup masyarakat baik di perkotaan dan pedesaan rentan menyerang kesehatan tubuh, diantaranya adalah penyakit jantung dan hipertensi. Fasilitas kesehatan yang melayani pengobatan jantung dan pembuluh darah (cardiovascular) di Indonesia masih minim dan belum merata. Maka dari itu, perlu adanya perluasan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terlebih di Kota Bandung. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan tersebut melatar belakangi perancangan proyek rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah kelas B di Kota Bandung. Rumah sakit khusus ini direncanakan berada di atas lahan sebesar 10.540 m2 yang terdiri dari empat lantai. Pendekatan konsep yang diterapkan pada perancangan rumah sakit ini adalah Healing Architecture sebagai upaya untuk mewujudkan lingkungan pemulihan yang nyaman dan sehat bagi pasien sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. Penggunaan prinsip Healing Environment baik pada aspek bangunan maupun non-bangunan merupakan implementasi dari tema yang dipilih. Desain yang dihasilkan diantaranya berupa bentuk massa pada bangunan yang menciptakan inner court serta adanya roof garden khusus bagi pasein rawat inap. Berdasarkan konsep tersebut, perancangan rumah sakit khusus ini diharapkan mampu membantu menunjang kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang berkualitas baik dari segi fungsionalitas dan efektivitas ruang maupun kondisi psikis penggunanya.<br>Kata kunci: Arsitektur Healing, Kota Bandung, Jantung dan Pembuluh Darah, Rumah Sakit</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The development of people's lifestyles, both in urban and rural areas, is vulnerable to attacking the health of the body, including heart disease and hypertension. Health facilities that serve the treatment of the heart and blood vessels (cardiovascular) in Indonesia are still minimal and not evenly distributed. Therefore, it is necessary to expand the reach of health services for the community, especially in the city of Bandung. The need for health facilities is the background for the design of a class B special hospital for heart and blood vessels in the city of Bandung. This special hospital is planned to be located on an area of 10,540 m2 consisting of four floors. The conceptual approach applied to the design of this special hospital is Healing Architecture as an effort to create a comfortable and healthy recovery environment for patients so that they can accelerate the healing process. The use of the Healing Environment principle in both the building and non-building aspects is an implementation of the chosen theme. The designs produced include the form of mass in the building that creates an inner court and the existence of a special roof garden for inpatients. Based on this concept, the design of this special hospital is expected to be able to support the need for quality health facilities both in terms of functionality and effectiveness of the room as well as the user's psychological condition.<br>Keywords: Healing Architecture, Bandung City, Cardiovascular, Hospital</p> Ninda Shofa Azizah, Juarni Anita Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1240 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR MODERN HEALING ENVIRONMENT PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1241 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota Bandung merupakan kota yang berlokasi di Jawa Barat, kota Bandung juga adalah Induk Kota dari Provinsi Jawa Barat, Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu penentu kelayakan dan ketentuan di dalam pelayanan Rumah Sakit. Jumlah penduduk pada setiap tahunnya mengalami peningkatan, selain itu Kota Bandung adalah Kota besar dan menjadi pusat kota di Jawa Barat, menandakan bahwa akan terjadinya peningkatan jumlah penduduk Kota Bandung setiap tahunnya. Ini menyebabkan kebutuhan Kesehatan mata yang akan terus meningkat sehingga dengan adanya Rumah Sakit khusus mata yang akan memenuhi kebutuhan kesehatan mata di Kota Bandung. Dengan adanya Soetta Eye Healing Care Center diharapkan bisa meningkatkan kesehatan mata dan mengurangi penderita penyakit mata. Rumah Sakit Khusus Mata ini mengusung tema Arsitektur Modern dengan penerapan Healing Environment, beberapa elemen Healing Environment yang terlihat pada bagian eksterior dan interior khususnya di Ruang Rawat Inap. Dengan penerapan Arsitektur Healing Environment pada bangunan akan dapat membantu menolong penderita dan keluarga untuk mengurangi masa-masa sulit akibat komplikasi, rawat inap, anjangsana klinis, penyembuhan dan berbelasungkawa serta membantu kelangsungan pemulihan pasien secara psikologis.<br>Kata kunci: Rumah Sakit Khusus Mata, Arsitektur Modern, Healing Environment, Bandung, Jawa Barat</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Bandung city is a city located in West Java, Bandung city is also the capital city of Wesr Java Province. Population growth is one of the determinants of eligbility and provisions in hospital service. The number of residents every year in the city of Bandung has increased, beside that Bandung is a big city and is the center in West Java, indicating that there will be an increase in the population of the city of Bandung every year. This cause the need for eye health to continue to increase, so there is a special eye hospital that will meet needs of eye health in the city of Bandung. With Soetta Eye Healing care Center,hoped that it can improve eye health and reduce eye diseases. This hospital special of eyes carries the Modern Architechture theme with the application of Healing Environment which can be seen on the exterior and interior, especially in the patient room. Its hoped that the application of the Healing Environment in the building can support patients and families to relieve stress caused by illness, hospitalization, medical visits,recovery and bereavement as well as help the patient’s psychological recovery process.<br>Keywords: Hospital Special Of Eyes, Modern Architecture, Healing Environment, Bandung, West Java</p> Raden Selva Nurul Firdha, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1241 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR MODERN PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA SOETTA MEDICAL EYE CENTER DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1242 <p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Mata merupakan salah satu panca indera, yakni indera penglihatan yang berfungsi supaya manusia bisa melihat dengan baik dan sempurna. Namun permasalahan gangguan kesehatan mata di Indonesia terutama di Kota Bandung semakin meningkat. Keberadaan Rumah Sakit Mata di Kota Bandung masih kurang keberadaannya sehingga jangkauan fasilitas kesehatan mata sangat minim. Melihat dari permasalahan yang terjadi, sebagai solusi untuk mengurangi dan mengatasi penderita gangguan mata dibutuhkan penambahan fasilitas pelayanan kesehatan mata di Kota Bandung. Rumah Sakit Mata Soetta Medical Eye Center akan direncanakan dibangun di kawasan Bandung Timur tepatnya di di kawasan Soekarno-Hatta.Rumah Sakit Mata ini akan mengaplikasikan tema Arsitektur Modern. Arsitektur Modern berprinsip mengutamakan bentuk bangunan dibandingkan dengan ornamen dan bentuk mengikuti fungsi bangunan sehingga bangunan lebih fungsional. Implementasi tema Arsitektur Modern pada rancangan Rumah Sakit ini yaitu bentuk bangunan yang simple dan pada fasad menggunakan material hasil industri juga anti ornamen. Desain Rumah Sakit mata ini akan dilengkapi dengan fasilitas, diantaranya: IGD, poli rawat jalan, rawat inap, laboratorium, farmasi, optik, bedah, ICU, BDRS dan radiologi. Dengan diterapkannya tema Arsitektur Modern di harapkan tercipta desain yang bersih, stylist, dan suasana ruang yang simple juga nyaman.<br>Kata kunci: Perancangan, Rumah Sakit, Mata, Kota Bandung, Arsitektur Modern</p> <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Eyes are one of the five senses, namely the sense of sight that functions so that humans can see properly and perfectly. However, the problem of eye health problems in Indonesia, especially in the city of Bandung, is increasing. The existence of the Eye Hospital in Bandung City is still lacking so that the reach of eye health facilities is very minimal. Seeing from the problems that occur, as a solution to reduce and overcome people with eye disorders, it is necessary to add eye health service facilities in the city of Bandung. Soetta Eye Hospital Medical Eye Center will be planned to be built in the East Bandung area, precisely in the Soekarno-Hatta area. This Eye Hospital will apply the theme of Modern Architecture. Modern architecture has the principle of prioritizing the shape of the building compared to ornaments and the shape follows the function of the building so that the building is more functional. The implementation of the Modern Architecture theme in the design of this Hospital is a simple building form and on the facade using industrial materials as well as anti ornaments. The design of this eye hospital will be equipped with facilities, including: emergency room, outpatient polyclinic, inpatient, laboratory, pharmacy, optics, surgery, ICU, BDRS and radiology. With the implementation of the Modern Architecture theme, it is hoped that a clean, stylish design will be created, and a simple and comfortable space atmosphere.<br>Keywords: Design, Hospital, Eye, Bandung City, Modern Architecture</p> Levia Dayanti Suryana, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1242 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR POST-MODERN PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1243 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Gedebage merupakan wilayah Bandung Timur yang minim fasilitas dalam pelayanan kesehatan, fasilitas yang belum tersedia yakni Rumah Sakit Khusus yang melayani Ibu dan Anak. Hingga saat ini pelayanan khusus ibu dan anak hanya tersedia di lingkup komplek Margahayu Raya yaitu Rumah Sakit Harapan Bunda. Sehingga masyarakat khususnya ibu dan anak di wilayah Bandung Timur yang akan melahirkan/berobat akan menuju ke Rumah sakit Harapan Bunda yang memilki aksesibilitas menuju lokasi agak sulit, sehingga untuk alternatif Rumah Sakit, masyarakat akan menuju ke Rumah Sakit Al Islam yang termasuk Rumah Sakit Umum, karena akses yang mudah. Populasi Bandung Timur semakin bertambah dari tahun ke tahun maka rumah sakit yang berada di wilayah timur kurang bisa memadai untuk melayani masyarakat sekitar, maka dari itu Rumah Sakit Ibu dan Anak yang berada di Bandung Timur ini hadir dan akan memberikan kemudahan, kenyamanan bagi masyarakat yang akan menuju Rumah Sakit ini. Rumah Sakit Ibu dan Anak ini berada di wilayah Sumarecon maka dari itu konsep yang diterapkan pada Rumah Sakit Ibu dan Anak ini berkonsep Arsitektur Post-Modern dengan rancangan yang kontekstual pada lingkungan sekitar yang dapat meminimalkan kejenuhan pada pasien Ibu dan Anak karena bangunan ini didesain sedemeikian rupa memiliki fasad, roof garden dan plaza garden agar terlihat nyaman untuk penyembuhan pasca menjalani perawatan dan tidak terkesan seperti Rumah Sakit yang monoton pada umumnya.<br>Kata kunci: Arsitektur Post-Modern, Bandung Timur, Rumah Sakit, Ibu dan Anak</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Gedebage is an area of East Bandung that lacks facilities in health services, facilities that are not yet available, namely the Special Hospital that serves mothers and children. Until now, special services for mothers and children are only available within the Margahayu Raya complex, namely Harapan Bunda Hospital. So that the community, especially mothers and children in the East Bandung area who will give birth / treatment will go to Harapan Bunda Hospital which has accessibility to a rather difficult location, so for an alternative hospital, the community will go to Al Islam Hospital which is a General Hospital, because of easy access. The population of East Bandung is increasing from year to year, so hospitals in the eastern region are not adequate to serve the surrounding community, therefore the Mother and Child Hospital in East Bandung is present and will provide convenience, comfort for the people who want to go to Bandung. to this hospital. This Mother and Child Hospital is located in the Sumarecon area, therefore the concept applied to this Mother and Child Hospital is a Post-Modern Architecture concept with a contextual design in the surrounding environment that can minimize boredom for mother and child patients because this building is designed in such a way has a facade, roof garden and plaza garden to make it look comfortable for post-treatment healing and not seem like a monotonous hospital in general.<br>Keywords: Post-Modern Architecture, East Bandung, Hospital, Mother and Child</p> Adli Arief Luthfan, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1243 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER DENGAN BIOMORPHIC FORMS AND PATTERN PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1244 <p><strong>Abstrak</strong><br>Kenyamanan pengguna baik dari segi fisik maupun psikologis perlu diperhatikan pada perancangan bangunan. Hal tersebut juga perlu diperhatikan dalam merancang Rumah Sakit Ibu dan Anak, agar mengurangi kesan kaku dan menakutkan pada bangunan. Oleh karena itu Rumah Sakit Ibu dan Anak “Alaia” ini dirancang dengan konsep Arsitektur Kontemporer yang memiliki prinsip bentuk yang dinamis dan ekspresif untuk menghilangkan kesan kaku pada bangunan. Metode yang digunakan dalam penerapan Arsitektur Kontemporer pada Rumah Sakit Ibu dan Anak “Alaia” yaitu deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data-data mengenai Arsitektur Kontemporer yang kemudian diterapkan pada bangunan. Arsitektur Kontemporer yang diterapkan dipadukan dengan Biomorphic Forms and Pattern dalam mengaplikasikan prinsip menyatu dengan alam melalui bentuk. Biomorphic Forms and Pattern diaplikasikan pada bentuk secondary skin yang menyerupai sarang lebah. Arsitektur Kontemporer pada bangunan ini diterapkan pada bentuk bangunan dengan menggunakan unsur lengkung pada bangunan, menerapkan bukaan yang besar dengan menggunakan curtain wall, dan penggunaan warna netral pada secondary skin serta adanya warna kontras pada secondary skin dengan bentuk kisi-kisi. Penggunaan secondary skin dapat berfungsi sebagai estetika dan mengurangi cahaya matahari yang berlebih pada bangunan. Memberikan kesan dinamis dan ekspresif dengan menerapkan Arsitektur Kontemporer pada bangunan diharapkan dapat mengurangi ketakutan anak terhadap lingkungan fisik Rumah Sakit.<br>Kata Kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Arsitektur Kontemporer, Biomorphic Forms and Pattern</p> <p><strong>Abstract</strong><br>User comfort both in terms of physical and psychological needs to be considered in building design. This also needs to be considered in designing the Mother and Child Hospital, in order to reduce the stiff and scary impression on building. Therefore, “Alaia” Mother and Child is designed with Contemporary Architecture which has dynamic and expressive principle. The method used in the application of Contemporary Architecture at “Alaia” Mother and Child Hospital is descriptive qualitative with collect data on Contemporary Architecture and then applied to building. Contemporary Architecture is combined with biomorphic Forms and Patterns in applying the principle of blending with nature through forms. Biomorphic Forms and Pattern are applied to the secondary skin that resamles a honeycomb. Contemporary Architecture in this building is applied to the shape of the building using curved elements, applying large opening with curtain wall, and using neutral colors on the secondary skin as well as contrasting colors on the secondary skin with a lattice shape. The application of secondary skin can serve an aesthetic and reduce excessive sunlight on building. Giving a dynamic and expressive impression by applying Contemporary Architecture to the building is expected to reduce children’s fear of the hospital physical environment.<br>Keywords: Mother and Child Hospital, Contemporary Architecture, Biomorphic Forms and Pattern</p> Liani Aprillia, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1244 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN VISUAL CONNECTION WITH NATURE PADA BANGUNAN ADANU EYE HOSPITAL DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1245 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Mata merupakan indera perangsang yang menstimulasi emosi dan pikiran secara visual. Secara pandangan luas, kita merasakan dan memproses hal dari apa yang kita lihat. Maka dari itu kesehatan indera pengelihatan sangat penting untuk kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sesuai dengan Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030, ditargetkan distribusi spesialis mata sebesar 1:250.000 penduduk. Perancangan Rumah Sakit khusus mata di Bandung ini diharapkan dapat membantu menanggulangi segala gangguan penyakit mata dan mendukung program penanggulangan gangguan penglihatan mata masyarakat Indonesia. Arsitektur Biofilik dipilih dalam perancangan bangunan ini, dengan penerapan salah satu prinsipnya yaitu Visual Connection with Nature. Tujuan dari Visual Connection with Nature adalah untuk menyediakan lingkungan yang membantu fokus pergeseran individu untuk mengendurkan otot-otot mata dari kesibukan sehari-hari dan emosi negatif dampak dari kegiatan-kegiatan tersebut. Penerapan konsep dalam rancangan dengan menggunakan banyak elemen natural agar pengguna merasa sejuknya tanaman dan memberikan visual yang nyaman agar secara fisik dan fisis pengguna terasa relaks, sehingga bangunan Rumah Sakit ini memiliki tipologi dan desain yang tidak terkesan kaku dan dingin.<br>Kata kunci: Mata, Rumah Sakit Khusus, Visual, Arsitektur Biofilik, Bandung</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Eye is a stimulating sense that stimulates emotions and thoughts visually. Broadly speaking, we perceive and process things from what we see. Therefore, the health of the sense of sight is very important for the quality of human resources in improving the quality of people's lives. In accordance with the 2017-2030 Roadmap for the Management of Visual Impairments in Indonesia, the distribution of eye specialists is targeted at 1:250,000 of the Indonesia’s population. The design of this special eye hospital in Bandung is expected to help overcome all eye disease disorders and support the Indonesian people's eye vision disorder prevention program. Biophilic Architecture was chosen in the design of this building, with the application of one of the principles: Visual Connection with Nature. The goal of Visual Connection with Nature is to provide an environment that helps the individual shift focus to relax the eye muscles from their daily activities and the negative emotions that these activities impact. The implementation of the concept in this design is by using many natural elements, so that users feel the coolness of plants and provide comfortable visuals so that physically and psycologicaly the user feels relaxed. By the end, the goal to this hospital building design is a typology and design that does not seem stiff and cold to the users experience.<br>Keywords: Eye, Special Hospital, Visual, Biophilic Architecture, Bandung</p> Zalfa Asilah, Meta Riany Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1245 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 KONSEP MODERN CULTURAL PADA PERANCANGAN SAMBAS ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1246 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas menjadi salah satu kota di Kalimantan Barat yang memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak karena pada tahun 2020 terdapat 88% penduduknya memeluk agama Islam, tetapi di sana belum memiliki fasilitas pusat keagamaan yang lengkap. Sambas Islamic Center dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Sambas terutama bagi yang ingin mempelajari dan memperdalam pengetahuannya mengenai agama Islam, dengan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung di dalamnya diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk datang berkunjung. Tema “Modern Cultural” diterapkan pada Sambas Islamic center dengan tujuan mempresentasikan desain bangunan modern tetapi tidak melupakan kebudayaan daerah. Motif batik Dayak dan bentuk atap rumah adat Radakng menjadi salah satu kebudayaan yang paling ditonjolkan pada desain bangunan Sambas Islamic Center ini. Penataan massa bangunan dirancang tidak merusak lingkungan sekitar tapak dengan membuat area terbuka hijau yang luas dan berfungsi sebagai area resapan air hujan. Bangunan Sambas Islamic Center ini diharapkan mampu menjadi tempat atau wadah dalam melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan Islam di Kabupaten Sambas.<br>Kata kunci: Kabupaten Sambas, Islamic center, Modern Cultural</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is one of the cities in West Kalimantan that has the largest Muslim population because in 2020 there are 88% of the population embraced Islam but there do not yet have complete religious center facilities. The Sambas Islamic Center is designed to meet the needs of the people of Sambas Regency, especially for those who want to learn and deepen their knowledge about Islam, equipped with various supporting facilities in it, it is hoped that more people will be interested in coming to visit. The theme "Modern Cultural" is applied to the Sambas Islamic center with the aim of presenting modern building designs but not forgetting local culture. Dayak batik motifs and the shape of the roof of the Radakng traditional house are one of the cultures that are most highlighted in the design of this Sambas Islamic Center building. The building mass arrangement is designed not to damage the environment around the site by creating a large green open area and functioning as a rainwater catchment area. The Sambas Islamic Center building is expected to be a place or forum for carrying out various Islamic religious activities in Sambas Regency.<br>Keywords: Sambas Regency, Islamic center, Modern Cultural</p> Kevin Hilman Zulwaqar, Shirley Wahadamaputera Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1246 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PERANCANGAN ISLAMIC CENTRE ARIFATASEEN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR KONTEMPORER DI KAB. SAMBAS KALIMANTAN-BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1247 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pada era modern ini masyarakat dituntut untuk mempunyai kualitas yang baik dan unggul dalam menggunakan teknologi, namun sebagai warga negara Indonesia yang mayoritas beragama yang menjunjung tinggi norma dan budaya, keunggulan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) saja tidak cukup, harus ada instansi yang memperhatikan kebutuhan pendidikan &amp; pelayanan Agama sebagai bagian dari memajukan masyarakat Indonesia ditengah gempuran globalisasi, Dalam Islam dikenal sebagai Pendidikan Iman dan Taqwa (IMTAQ) [1]. Kesadaran atas pentingnya 2 aspek inilah yang mendasari komunitas muslim untuk membangun lebih banyak Islamic Centre yang dirasa masih sangat kurang dibandingkan persentase pemeluk agama Islam Indonesia yang jumlahnya 237,53 juta orang. Pada perancangannya, Islamic Centre ini menggunakan pendekanatan Arsitektur Kontemporer. Kontemporer sendiri merupakan aliran desain dengan dasar apa saja yang dibuat maupun diproduksi pada saat ini. Dari sinilah disimpulkan bahwa aliran kontemporer bersifat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Gaya kontemporer tidak mewakili satu gaya tertentu, melainkan kombinasi dari beberapa gaya dan zaman, sehingga penerapan konsep ini dirasa tepat untuk menggambarkan ciri khas bangunan Islamic Centre yang dapat berkontribusi bukan dalam hal keagamaan, sosial dan budaya saja namun juga dalam manifestasi bangunan Arsitektur sebagai simbol kemajuan peradaban masyarakatnya yang mengerti pada pentingnya keseimbangan dua hal pada era modern ini, IPTEK &amp; IMTAQ.<br>Kata kunci: Arsitektur, Islamic Centre, Kontemporer.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>In this modern era, people are required to have good quality and excel at using technology, but as Indonesian citizens who are predominantly religious and uphold norms and culture, the superiority of science and technology is not enough. There must be an agency that pays attention to educational needs &amp; Religious services as part of advancing Indonesian society amidst the onslaught of globalization, in Islam, it is known as Faith and Taqwa Education [1]. Awareness of the importance of these two aspects is what underlies the Muslim community to build more Islamic centers, which is still very low compared to the percentage of Indonesian Muslims who are 237.53 million people. In its design, the Islamic Center uses a Contemporary Architecture approach. Contemporary itself is a design flow based on anything that was made or produced at this time. From this, it is concluded that the contemporary flow is dynamic and always follows the times. Contemporary style does not represent one particular style, but a combination of several styles and times, so the application of this concept is deemed appropriate to describe the characteristics of the Islamic Center building, which can contribute not only in terms of religion, society and culture, but also in the manifestation of architectural buildings as symbols of progress. The civilization of the people who understand the importance of balancing two things in this modern era, science, technology &amp; Taqwa.<br>Keywords: Architecture, Islamic Centre, Contemporary.</p> Zakaria Hadi Prayoga, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1247 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTRE OF SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1248 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pulau Kalimantan merupakan salah satu wilayah Indonesia dengan keberagaman budaya yang sangat luas. Hal ini tidak hanya tercermin pada adat kebiasaan sehari hari, namun juga elemen elemen kebudayaan yang terlihat secara fisik, termasuk pada bangunan. Konsep bangunan yang dapat memaksimalkan representasi tersebut adalah penerapan arsitektur neo-vernakular. Tulisan ini akan menjelaskan penerapan tema arsitektur neo-vernakular terhadap perancangan Islamic Center of Sambas yang terletak di Kabupaten Sambas dengan tujuan pelestarian dan penonjolan budaya tradisional setempat. Penerapan tema ini tidak hanya akan menerapkan nilai nilai lokal Kabupaten Sambas, namun juga penerapan elemen elemen arsitektural peninggalan kesultanan Islam terdahulu yang berkembang di Kabupaten Sambas. Kabupaten Sambas memiliki banyak jenis bangunan tradisional dengan elemen elemen budaya Kalimantan Barat dirasa cocok untuk diterapkan pada rancangan Islamic Center.Tema arsitektur Neo-Vernakular akan banyak diterapkan pada penggunaan material utama kayu pada bangunan, corak kain songket Sambas Melayu pada bagian fasad hingga bentuk bangunan yang terinspirasi dari bentuk bangunan tradisional Kabupaten Sambas. Adapun rumah tradisional tersebut adalah rumah Potong Kawat yang diimplementasikan pada denah Masjid dan Asrama yang simetris dan rumah Potong Godang yang bentuk atapnya diimplementasikan pada bentuk atap Asrama, Gedung Serbaguna dan Kantor.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo-Vernakular, Islamic Centre, Rumah Tradisional Melayu Sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The island of Borneo is one of Indonesia's regions with a very wide cultural diversity. This is not only reflected in daily activities, but also elements of cultural elements that are physically visible, including in buildings. This paper will explain the application of the theme of neo-vernacular architecture to the design of the Islamic Center of Sambas located in Sambas Regency with the aim of preserving and protruding local traditional culture. The application of this theme will not only apply the local values of Sambas Regency but also the application of architectural elements left by the previous Islamic sultanate that developed in Sambas Regency. Sambas Regency has many types of traditional buildings with elements of West Kalimantan cultural elements that are considered suitable to be applied to the design of the Islamic Center. The neo-vernacular architectural theme will be widely applied to the use of the main material of wood in the building, the pattern of Malay Sambas songket cloth on the façade to the shape of the building inspired by the traditional building form of Sambas Regency. The traditional houses are the Wire Cutting house which is implemented on the symmetrical mosque and dormitory plan and the Godang Cut house whose roof shape is implemented in the form of the roof of the Dormitory, The Hall and The Office.<br>Keywords: Neo-Vernacular Architecture, Islamic Centre, Melayu Sambas Traditional Houseff</p> Puspa Saryatina Anggraeni, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1248 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN HEALING ENVIRONMENT PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG MIRACLE https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1249 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit jantung adalah fasilitas pelayanan khusus yang memiliki spesialiasasi dalam diagnosis dan perawatan penyakit jantung dan pembuluh darah. Maraknya penyakit jantung di kota Bandung, sehingga diperlukan sarana rumah sakit khusus jantung, dengan memperhatikan regulasi pembangunan. Tema arsitektur modern dipilih untuk konsep bangunan yang mengutamakan kesederhanaan dan fungsional suatu bangunan. Selain mengutamakan dua hal tersebut, Healing Environment juga dibutuhkan dalam rumah sakit jantung, dimana dalam konsep ini mengedepankan interaksi antara pasien dan lingkungan guna mempercepat penymebuhan pasien. Tujuan utama merancangkan bangunan rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah untuk memberikan kenyamanan bagu pengguna sesuai kebutuhan ruang dan regullasi yang berlaku di Kota Bandung.<br>Kata kunci: Arsitektur Modern, Healing Environment, Rumah Sakit Khusus Jantung</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Heart Specialist Hospital is a facility that specializes in the diagnosis and treat of blood and vessel siseases. The prevelance of heart disease in the city of Bandung, Heart specialist Hospital facilities are needed, taking into account development regulations. The theme of modern architecture was chosen for the building concept prioroitizes the simplicity and functionality of the building. In additon to prioritizing these two things Healing Environment is also needed which in the concept emphasizes the interaction between the patient and the environment in order to accelerate the patient healing. The main objective is to design a special hospital building for Heart and cardiovascular to provide comfort users according to space requirements and regulations that aplied in the city of Bandung.<br>Keywords: Modern Architecture,Healing Environment, Heart Hospital</p> Feby Astriani, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1249 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTER DI SAMBAS, KALIMANTAN BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1250 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Islamic Center adalah tempat kegiatan keagamaan umat Islam, sehingga dapat dikatakan bahwa Islamic Center di Indonesia merupakan pusat aktivitas kebudayaan Islam. Kalimantan Barat yang salah satu yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Penduduk Islam yang tercatat pada sensus 2018-2020 menurut BPS Kabupten Sambas sebesar 629.905 orang dan memliki rumah ibadah khusus umat Islam berupa masjid dan musholla.. Denga mengingat banyaknya jumlah masyarakat Islam yang banyak dan kegiatan Islam di Kabupaten Sambas, maka memilih Kawasan ini sebagai lokasi dan merancang sebuah wadah yang dapat menampung semua kegiatan tersebut. Wadah ini bisa disebut sebagai pusat kegiatan Islam, yaitu Islamic Center. Pada umumnya Islamic Center adalah tempat untuk beribadah, memenuhi kebutuhan umat Islam, menuntut Ilmu, berdagang, dan bermusyawarah. Pemilihan tema Arsitektur Neo-Vernakular dalam desain Islamic Center ini, dikarenakan Arsitektur Neo-Vernakular adalah arsitektur yang berprinsip kepada nilai budaya lokal, kaidah-kaidah normatif serta kosmologis yang mengalami pembaruan yang memberikan peluang kebebasanI penggalian sumber-sumber inspirasi desain yang menghadirkan suatu identitas atau karakter dengan sumber berasal dari semangat masa lalu serta kelokalan. Maka kawasan ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan hubungan masyarakat dan informasi, serta dokumentasi.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo-Vernakular, Arsitektur, Islamic Center, Kabupaten Sambas.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The Islamic Center is a place for Muslim religious activities, so it can be said that the Islamic Center in Indonesia is a center for Islamic cultural activities. West Kalimantan is one of the majority of the population is Muslim. The Muslim population recorded in the 2018-2020 census according to the Sambas Regency BPS is 629,905 people and has a special place of worship for Muslims in the form of mosques and prayer rooms. Considering the large number of Islamic communities and Islamic activities in Sambas Regency, then choosing this area as the location and designing a container that can accommodate all these activities. This container can be called the center of Islamic activities, namely the Islamic Center. In general, the Islamic Center is a place to worship, meet the needs of Muslims, seek knowledge, trade, and consult. The choice of the Neo-Vernacular Architecture theme in the design of the Islamic Center is because Neo-Vernacular Architecture is an architecture that is based on local cultural values, normative and cosmological principles that have undergone renewal which provides opportunities for freedom to explore sources of design inspiration that present an identity or identity. characters with sources derived from the spirit of the past as well as locality. So this area is expected to become a center for public relations activities and information, as well as communication documentation for Muslims<br>Keywords: Neo-Vernacular Architecture, Architecture, Islamic Centre, Sambas Regency.</p> Alvansyah Framayudha, Widji Indahing Tyas, Reza Pahlevi Sihombing Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1250 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR BIOFILIK PADA BANGUNAN PAWON HERITAGE MUSEUM DI GUA PAWON BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1252 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pandemi Covid-19 yang menyebar cukup pesat sejak awal tahun 2020 menyebabkan diberlakukannya Adaptasi Kebiasaan Baru bagi masyarakat agar penyebaran virus dapat segera berhenti. Pandemi ini berdampak buruk pada sektor industri dan pariwisata. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan dilakukannya pengembangan kawasan cagar alam warisan dunia yaitu Gua Pawon dengan pendekatan arsitektur biofilik yang diharapkan dapat memberi nilai bagi masyarakat serta meningkatkan perekonomian setempat. Tujuan perancangan dengan tema arsitektur biofilik ini untuk menekankan hubungan erat antara manusia, bangunan, dan alam melalui desain dengan material atau bentuk alami. Tema tersebut diwujudkan melalui rancangan museum dengan bentuk melingkar yang dinamis dan memiliki banyak bukaan sehingga dapat meneruskan banyak sinar matahari ke dalam bangunan, serta menampilkan pemandangan asri perkebunan di sekitarnya. Bangunan juga menggunakan atap miring agar menyesuaikan dengan iklim setempat yaitu iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi. Air hujan yang mengalir dari atap akan jatuh ke taman-taman kecil yang di rancang di sekitar bangunan sehingga pengunjung dapat merasakan keterkaitan dengan alam sekitar yang asri.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Gua Pawon, Museum</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The Covid-19 pandemic, which has spread rapidly since the beginning of 2020, has led to the implementation of New Habits of Adaptation for the community so that the spread of the virus can stop immediately. This pandemic has had a negative impact on the industrial and tourism sectors. One of the efforts that can be done to overcome this is by developing a world heritage nature reserve area, namely Pawon Cave with a biophilic architectural approach which is expected to provide value to the community and improve the local economy. The purpose of this design with the theme of biophilic architecture was to emphasize the close relationship between humans, buildings, and nature through design with natural materials or forms. This theme was realized through the design of the museum with a dynamic circular shape and has many openings so that they can transmit a lot of sunlight into the building, as well as displaying beautiful views of the surrounding plantations. The building also used a sloping roof to adapt to the local climate, namely a tropical climate with high rainfall. Rainwater that flows from the roof will fall into small gardens that were designed around the building so that visitors could feel the connection with the beautiful surrounding nature.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Museum, Pawon Cave</p> Amila Salma Nisa, Juarni Anita, Shirli Putri Asri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1252 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENDEKATAN DESAIN TROPIS MODERN PADA PERANCANGAN EKO WISATA KOPI GUNUNGHALU https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1253 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kecamatan Gununghalu terletak di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terkenal sebagai daerah yang sejuk asri, keindahan alamnya masih terjaga serta berpotensi di industri pengolahan kopi dan teh, dapat mengangkat daerah ini menjadi destinasi wisata di bidang pertanian, khususnya industri kopi. Eko Wisata kopi Gununghalu dirancang dengan menerapkan tema Arsitektur Tropis Modern. Pengunjung akan mendapatkan wisata edukasi tentang kopi yang kompleks, mulai dari sejarah kopi di Indonesia, edukasi tentang jenis-jenis kopi, cara pengolahan kopi, sampai kopi itu bisa disajikan dalam secangkir minuman. Tak hanya itu, pengunjung pun dapat menikmati keindahan bangunan yang berkonsep Tropis Modern. Konsep Tropis Modern ini diterapkan pada setiap bangunan yang terdapat dalam Eko Wisata. Bangunan memiliki tampilan fasad yang berulang, minim ornamen dan bentuk massa sederhana tetapi tetap menerapkan kaidah tropis seperti atap miring, sirkulasi udara dalam bangunan dan bukaan yang besar, sehingga keindahan bangunan menyatu dengan keindahan alam gununghalu yang asri. Eko Wisata Gununghalu ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan industri pariwisata dan pertanian kawasan Gununghalu, serta memberikan pengalaman berwisata yang berbeda kepada pengunjung domestik atau mancanegara.<br>Kata kunci: Eko Wisata, Gununghalu, Industri kopi, Tropis Modern.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Gununghalu District is located in West Bandung Regency, West Java Province, Indonesia. It is known as a cool and beautiful area, with its natural beauty is still maintained and has potential in the coffee and tea processing industry. This can lift this area into a tourist destination in the agricultural sector, especially the coffee industry. Eco Wisata Kopi Gununghalu was designed by applying the theme of Modern Tropical Architecture. Visitors will get an educational tour about complex coffee, starting from the history of coffee in Indonesia, education about the types of coffee, how to process coffee, until the coffee can be served in a cup of drink. Not only that, visitors can also enjoy the beauty of the building with a Modern Tropical concept. This Modern Tropical concept is applied to every building contained in Ecotourism. The building has a repetitive facade, minimal ornamentation and simple mass forms but still applies tropical rules such as sloping roofs, air circulation in the building and large openings, so that the beauty of the building blends with the beautiful natural beauty of Gununghalu. This Gununghalu Eco Tourism is expected to be useful for the development of the tourism and agricultural industry in the Gununghalu area, as well as providing a different travel experience for domestic or foreign visitors.<br>Keywords: Coffee Industry, Eco Tourism, Gununghalu, Tropical Modern.</p> Muhamad Arya, Shirley Wahadamaputera Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1253 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA PERANCANGAN SAMBAS ISLAMIC CENTER https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1254 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Sambas Islamic Center merupakan pusat keagamaan berlokasi di Jalan Lkr. Sambas, Kabupaten Sambas yang menjadi wadah fisik untuk menampung aktivitas ibadah, pembinaan, dan pengembangan berdasarkan ajaran Islam. Pembangunan Islamic center ini diharapkan dapat mengembalikan Kabupaten Sambas yang sebagian besar populasi masyarakatnya menganut agama Islam, agar kembali dijuluki sebagai Serambi Madinah seperti dahulu. Bangunan ini memiliki fasilitas bangunan masjid, Gedung Serba Guna, kantor pengelola dimana di dalamnya terdapat tempat pendidikan, kafetaria, dan koperasi, serta guest house. Selain meningkatkan kegiatan ke-Islaman, pembangunan Sambas Islamic Center diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perekonomian untuk masyarakat sekitarnya. Sebagai sasaran pengguna khususnya adalah para remaja yang diharapkan mampu mendorong perkembanganan diri dalam aktivitas ke-Islaman dan mampu ikut serta dalam berbagai kegiatan ke-Islaman yang berhubungan dengan masyarakat. Melalui analisis deskriptif kualitatif, dilakukuan proses desain Sambas Islamic Center yang menerapkan tema arsitektur kontemporer melalui gubahan massa dengan bentuk geometri sederhana persegi panjang, menempatkan bukaan yang optimal sehingga memberikan kesan terbuka/ transparan pada bangunan, serta penggunaan warna netral seperti warna putih, abu beton unfinished, dan warna kayu yang memiliki kesan alami agar tidak menggangu kenyamanan visual pengguna. Dengan penerapan arsitektur kontemporer diharapkan tema ini menjadi pendekatan yang mampu memperlihatkan citra baru pada masyarakat di Kabupaten Sambas.<br>Kata kunci: Arsitektur Kontemporer, Islam, Kabupaten Sambas, Sambas Islamic Center</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Islamic Center is a religious center located on Jalan Lkr. Sambas, Sambas Regency which is a physical place to accommodate worship activities, coaching, and development based on Islamic teachings. The construction of this Islamic center is expected to be able to restore Sambas Regency, where most of the population adheres to Islam, so that it is again dubbed as the Veranda of Medina as it used to be. This building has the facilities of a mosque building, a multipurpose building, a management office in which there are places of education, cafeteria, and cooperatives, as well as a guest house. In addition to increasing Islamic activities, the construction of the Sambas Islamic Center is expected to increase economic activity for the surrounding community. The target users in particular are teenagers who are expected to be able to encourage self-development in Islamic activities and be able to participate in various Islamic activities related to the community. Through qualitative descriptive analysis, the Sambas Islamic Center design process was carried out which applied contemporary architectural themes through mass compositions with simple rectangular geometric shapes, placing optimal openings so as to give the building an open/ transparent impression, as well as the use of neutral colors such as white, unfinished concrete ash, and the color of the wood that has a natural impression so as not to disturb the visual comfort of the user. With the application of contemporary architecture, it is hoped that this theme will become an approach that is able to show a new image to the people in Sambas Regency.<br>Keywords: Contemporary Architecture, Islam, Sambas Islamic Center, Sambas Regency</p> Akbar Wihernanda Fauzan, Nur Laela Latifah Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1254 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG COR HEALTHCARE CENTER https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1255 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Penyakit Jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang berpotensi besar di Indonesia khususnya Kota Bandung patut diperhatikan. Diketahui bahwa Kota Bandung hanya memiliki satu rumah sakit khusus yang menangani jantung, hal tersebut menjadikan sebuah tujuan keselamatan bagi pasien pengidap jantung yang merupakan peran terpenting dalam mewujudkan kualitas sarana pelayanan kesehatan yang baru di Kota Bandung. Rumah sakit sebagai wadah fasilitas kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang cukup penting yang mengharuskan rancangan rumah sakit ini dapat membantu para pengidap jantung sebagai proses sebuah penyembuhan dari pengimplementasian tema terhadap bangunan. Perancangan Rumah Sakit Cor Healthcare Center ini menerapkan tema Healing Architecture sebagai wadah dalam mengurangi peningkatan penyakit jantung yang memungkinkan sebuah elemen arsitektur dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan pengguna melalui interaksi visual dengan alam didalamnya. Metode deskskriptif kualitatif dilakukan dalam penulisan ini berupa data literatur, pengamatan dan dokumentasu yang berkaitan dalam perancangan. Hasil desain yang diterapkan pada rumah sakit ini diharapkan dapat menciptakan suatu lingkungan yang disebut healing environment guna memberikan dampak postitif bagi pasien.<br>Kata kunci: Healing Architecture, Healing environment, Penyakit Jantung, Rumah Sakit</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Heart disease is one of the causes of death with great potential in Indonesia, especially the city of Bandung. It is known that the city of Bandung only has one special hospital that treats the heart, this makes a safety goal for heart patients which is the most important role in realizing the quality of new health service facility in Bandung City. The hospital as a place for health facilities to the community has an important role that requires the design of this hospital to be able to help people with heart disease as a healing process from implementing the theme to the building. The design of the Cor Healthcare Center Hospital applies the Healing Architecture theme as a place to reduce the increase in heart disease which allows an architectural element to affect the user's recovery process through visual interaction with nature in it. Qualitative descriptive method is used in this writing in the form of literature data, observations and related documentation in the design. The results of the design applied to this hospital are expected to create an environment called a healing environment has a positive impact on patients<br>Keywords: Healing Architecture, Healing environment, Heart Disease, Hospital</p> Adwin Raffizky Maysanto, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1255 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR NEOVERNAKULAR PADA KAWASAN EKOWISATA GUNUNGHALU HOME OF COFFEE & TEA DI GUNUNGHALU, KABUPATEN BANDUNG BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1256 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Wisata adalah salah satu sektor yang menunjang perekonomian di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Kepariwisataan yang ada di Indonesia merupakan salah satu sektor andalan, sehingga diharapkan akan mampu untuk mendorong pendapatan nasional dan daerah. Beberapa objek wisata di Kabupaten Bandung Barat berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Barat. Wilayah Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat memiliki kekayaan perkebunan teh dan kopi yang cukup terkenal. Wilayah ini dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi dan rekreasi yang mengharapkan pengunjung dapat belajar mengenai pelestarian lingkungan dan budaya di wilayah Gununghalu khususnya budaya Sunda. Maka, Kawasan Ekowisata Gununghalu Home of Coffee &amp; Tea ini diharapkan dapat memberikan edukasi dan rekreasi kepada masyarakat atau wisatawan yang datang dengan menjadikannya fasilitas untuk melestarikan alam dan kebudayaan Sunda dengan memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai galeri kopi dan teh. Arsitektur Neo-vernakular digunakan sebagai tema dari perancangan kawasan ini dengan tujuan untuk melestarikan budaya Sunda. Penerapan Arsitektur Neo-vernakular dapat menghidupkan kembali bentuk-bentuk tradisional seperti penerapan bentuk-bentuk atap Sunda pada bangunan-bangunan yang ada dengan mengembangkan bentuk juga material yang lebih modern.<br>Kata Kunci: Arsitektur Neo-vernakular, Ekowisata, Galeri Kopi, Galeri Teh, Gununghalu.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Tourism is one of the sectors that support the economy in all countries in the world, including Indonesia. Tourism in Indonesia is directed as a mainstay sector, so it is hoped that it will be able to encourage national and regional income. West Bandung Regency has several tourist objects that have the potential to be developed into one of the tourist destinations in West Java. Gununghalu, West Bandung Regency, West Java has a wealth of well-known tea and coffee plantations. This area can be developed into educational and recreational tourism that expects visitors to learn about environmental and cultural preservation in the Gununghalu area, especially Sundanese culture. Thus, the Gununghalu Home of Coffee &amp; Tea Ecotourism Area is expected to provide education and recreation to the public or tourists who come by making it a facility to preserve nature and Sundanese culture by having a main building that functions as a coffee and tea gallery. The implementation of Neo-vernacular architecture theme in this ecotourism area design has a purpose to preserving Sundanese culture. The application of Neo-vernacular architecture can revive traditional forms such as the application of Sundanese roof forms to existing buildings by developing more modern forms and materials.<br>Keywords: Coffee Gallery, Ecopark, Gununghalu, Neo-vernacular Architecture, Tea Gallery.</p> Kireina Fahira, Meta Riany, Ardhiana Muhsin Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1256 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 IMPLEMETASI ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PERANCANGAN KAWASAN WISATA ALAM GUNUNGHALU https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1257 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Potensi alam dan budaya Indonesia yang beragam merupakan sebuah ladang potensi yang patut<br>dikembangkan. Ditengah gencarnya pengembangan industri, diperlukan pula pengembangan juga<br>konservasi alam guna menjaga ekosistem yang ada. Kegiatan pariwisata berbasis alam atau ekowisata<br>merupakan sebuah pengembangan dengan banyak dampak baik. Selain sebagai bentuk konservasi,<br>ekowisatapun harus berorientasi pada lingkungan dan masyarakat sekitar, yang artinya harus berupaya<br>meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar. Metode deskriptif kualitatif dipilih dalam penulisan<br>ini dengan harapan dapat menghasilkan data deskripsi berupa implementasi tema berbasis alam pada<br>sebuah kawasan wisata yang menjadi sarana pemulihan dan penyegaran serta membantu potensi<br>masyarakat lokal. Kawasan yang akan dirancang adalah Kawasan Wisata Alam Gununghalu dengan<br>implementasi Arsitektur Biofilik. Kawasan Wisata Alam adalah tempat wisata yang menaruh perhatian<br>khusus pada kelestarian alam, maka penerapan arsitektur biofilik ini dinilai memiliki napas yang sama<br>dengan fungsinya. Implementasi dari Arsitektur Biofilik pada kawasan ini diwujudkan dengan<br>menghubungkan ruang dalam bangunan dengan lingkungan sekitar dari berbagai aspek, mulai dari visual,<br>audial, dan spasial. Perancangan kawasan dengan konsep biofilik yang ditunjang fasilitas wisata dan<br>edukasi ini diharapkan dapat turut melestarikan alam serta memberikan dampak positif dari berbagai<br>aspek bagi pengguna juga masyarakat lokal yang akan dilibatkan.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Gununghalu, Interaksi Visual dengan Alam, Wisata Alam</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Indonesia's diverse natural and cultural potential is a potential field that should be developed. In the midst<br>of the incessant industrial development, it is also necessary to develop nature conservation in order to<br>maintain the ecosystem. Nature-based tourism or ecotourism is a development with many positive impacts.<br>Apart from being a form of conservation, ecotourism must also be oriented to the environment and the<br>surrounding community, which means that it must strive to improve the quality of the surrounding<br>community’s life. The qualitative descriptive method was chosen in this paper with the hope of producing<br>descriptive data in the form of implementing a nature-based theme in a tourist area which is a means of<br>recovery and refreshment and helps the potential of local communities. The area to be designed is the<br>Gununghalu Ecotourism with the implementation of Biophilic Architecture. Ecotourism pays special<br>attention to the preservation of nature, so the application of this biophilic architecture is still considered<br>to have the same breath as its function. The implementation of Biophilic Architecture in this area is realized<br>by connecting the interior with the surrounding environment from various aspects, ranging from visual,<br>audial, and other experiences. The area with biophilic concept supported by tourism and educational<br>facilities is expected to provide knowledge, positive impacts from various aspects for users as well as local<br>communities who will be involved.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Ecotourism, Gununghalu, Visual Interaction with Nature</p> Balya Brainmumtaz Basima, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1257 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR BIOFILIK DENGAN PENDEKATAN KONEKSI VISUAL ALAM PADA RANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1258 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit dikala ini memiliki rintangan besar mengalami persaingan yang terus menjadi terbuka sehingga butuh sesuatu upaya guna tingkatkan mutu pelayanan rumah sakit terhadap pasien. Salah satu hambatan yang dialami para pasien dikala ini yaitu lamanya waktu tunggu penderita atau pasien untuk memperoleh layanan kesehatan di rumah sakit, rata-rata waktu tunggu untuk menemui atau mendapatkan fasilitas kesehatan di rumah sakit, paling tidak membutuhkan waktu kurang lebih sampai empat jam. Dimana hal tersebut sangat meningkatkan tingkat kejenuhan para pasien saat akan berobat dirumah sakit ini. Kebutuhan tersebut tidak hanya bagi para pasien atau pengunjung saja tetapi fasilitas tersebut bisa digunakan untuk seluruh staff atau pekerja yang berada dirumah sakit khusus mata ini. Untuk itu sangat dibutuhkan fasilitas penunjang lainnya seperti ruangan yang hijau,ruang terbuka hijau, taman, dan sebagainya. Memandang perkara tersebut, sehingga sangat bernilai Rumah Sakit Mata buat memenuhi dan meningkatkan kenyamanan para pasien saat mengunjungi atau melakukan kegiatan dirumah sakit, dengan permasalahan yangada tersebut maka penerapan konsep biofilik dengan konsep koneksi visual dengan alam ini sangat tepat untuk bangunan rumah sakit. Dengan adanya sebuah taman yang berada ditengah bangunan rumah sakit serta banyaknya tumbuhan hijau diharapkan dapat membuat pasien lebih nyaman saat melakukan seluruh kegiatan dirumah sakit Netra Eye Hospital ini.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Rumah sakit, Rumah sakit mata, Kualitas Pelayanan.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Hospitals currently have a big challenge experiencing competition that continues to be open so it takes something to improve the quality of hospital services to patients. One of the obstacles experienced by patients at this time is the length of time the patient or patient waits to obtain health services at the hospital, the average waiting time to see or get health facilities at the hospital, at least takes approximately four hours. Where this greatly increases the level of saturation of the patients when they will seek treatment at this hospital. These needs are not only for patients or visitors but these facilities can be used for all staff or workers who are in this special eye hospital. For this reason, other supporting facilities are needed such as green rooms, green open spaces, parks, and so on. Looking at this case, it is very valuable for the Eye Hospital to fulfill and increase the comfort of patients when visiting or carrying out activities at the hospital, with these existing problems, the application of the biophilic concept with the concept of visual connection with nature is very appropriate for hospital buildings. With the existence of a park in the middle of the hospital building and the abundance of green plants, it is hoped that it can make patients more comfortable when carrying out all activities at the Netra Eye Hospital.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Hospitals, Eye hospitals, Quality of service</p> M Luthfi Fauzi S, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1258 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP DESAIN HEALING ARCHITECTURE PADA RUMAH SAKIT JANTUNG VENTRICLE CARDIAC CENTER BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1259 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Meningkatnya populasi membawa pengaruh terhadap meningkatnya pembangunan di kota. Hal ini terlihat dari berkurangnya atau bahkan hilangnya ruang terbuka hijau berganti dengan bangunan. Dari segi Arsitektur hal ini dapat diatasi dengan membuat taman-taman di luar bahkan di dalam bangunan untuk tetap dapat berinteraksi dengan alam. Di kota-kota besar hal ini menjadi keharusan bahkan merupakan syarat untuk perizinan. Healing Architecture merupakan sebuah konsep disain yang dinilai dapat memecahkan permasalahan kurangnya ruang terbuka hijau di perkotaan. Makalah ini akan memaparkan penerapan konsep disain Healing Architecture pada perancangan Rumah Sakit Jantung Ventricle Cardiac Center di kota Bandung. Penerapan tema ini berupaya untuk mengintegrasikan alam ke dalam ruangan untuk membantu mengurangi stress sehingga mempercepat proses pemulihan fisik dan psikis pasien. Penerapan tema terlihat pada perencanaan area hijau pada plaza dan penempatan healing garden pada ruang tunggu. Selain itu desain sirkulasi dibuat untuk memudahkan pengguna Rumah Sakit terutama pasien penderita jantung. Diharapkan penggunaan konsep disain Healling Architecture pada perancangan Rumah Sakit ini dapat mendorong tingkat kesembuhan para pasien penderita jantung. Diharapkan pula konsep serupa dapat diterapkan pada bangunan-bangunan lain untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan ruang terbuka hijau sehingga interaksi dengan alam masih dapat dirasakan sekalipun berada di kawasan padat di pusat kota.<br>Kata kunci: Healing Architecture, Healing Garden, Plaza, Rumah Sakit, Rumah sakit Jantung</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The increase in population brings an impact towards the increase in city development. This can be seen in decreasing or even disappearance of green open spaces that is replaced by buildings. From an architecture point of view this can be solved by creating outside and inside gardens to stay in touch with nature. In big cities this has become a necessity even becoming a requirement for building permission. Healing Architecture is a design concept which is considered to be able to solve the lack of green open spaces in city areas. This paper will explain the application of Healing Architecture design concept in Cardiovascular Hospital Ventricle Cardiac Center in Bandung City. The theme application aims to integrate nature into inner spaces to help with reducing stress so that it can speed up patients physical and psychological healing. Theme application can be seen in the design of the green spaces in the plaza and the placement of healing garden at waiting rooms. Moreover circulation design are made to ease the flow for Hospital patient especially heart patient. It is expected the use of Healing Architecture design concept in Hospital design can boost the healing rate of heart disease patient. It is also expected that similar concept can be applied to other buildings to solve the decreasing of green open spaces problems so that interaction with nature can still be felt even in congested area in city center.<br>Keywords: Healing Architecture, Healing Garden, Heart Hospital, Hospital, Plaza</p> Syamil Shiddiq Abdullah, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1259 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR BIOPHILIC PADA RANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1260 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Bandung adalah wilayah metropolitan terbesar dan kota terpadat di Indonesia setelah Surabaya dan Jakarta. Derajat kesehatan masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan, seluruh masyarakat harus memperoleh pelayanan di bidang kesehatan secara merata dan murah. Maka dari itu, perlu adanya rancangan rumah sakit mata yang sesuai dengan peraturan perancangan rumah sakit mata dan memenuhi persyaratan kapasitas ruangan, kelengkapan peralatan, kualitas bangunan, juga merespon lingkungan alam di sekitarnya. Rumah sakit berkaitan erat dengan penyembuhan pasien, maka dari itu tema Arsitektur Biophilic dan rumah sakit bisa saling berkesinambungan, Arsitektur Biophilic adalah “mengarahkan manusia ke kemampuan optimal mereka di lingkungan alami mereka” dan hubungan visual dengan alam yang memungkinkan manusia mengakses lanskap alam, sistem kehidupan, dan proses alami. Perencanaan Rumah Sakit Mata Buah Batu Center menggunakan pendekatan arsitektur biophilic yang dapat membantu proses penyembuhan pasien, seperti pengadaan taman sebagai orientasi utama pada bangunan yang menerapkan green wall, pencahayaan alami (sky light), bayangan dinamis, olahan pola lantai tone berwarna abu-abu, pergola, pengadaan fitur air dan kenyamanan thermal (penghawaan alami) serta pada kamar inap yang menerapkan balkon dengan tanaman yang colorful seperti bunga kembang sepatu yang memanjakan mata sehingga membantu proses penyembuhan pasien mata.<br>Kata kunci: Arsitektur Biophilic, Kota Bandung, Rumah Sakit Khusus Mata</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Bandung is the largest metropolitan area and the most populous city in Indonesia after Surabaya and Jakarta. Inthe era of Indonesian public health continues to increase, all people must obtain services in the health sector evenly and cheaply. Therefore, it is necessary to design an eye hospital that is in accordance with the regulations for the design of an eye hospital and meets the requirements of room capacity, equipment completeness, building quality, as well as responding to the surrounding natural environment. Rumah sick is closely related to the healing of patients, therefore the theme of Biophilic Architecture and hospitals can be mutually sustainable, Biophilic Architecture is "directing humans to their optimal capabilities in their natural environment" and visual relationships with nature that allow humans to access natural landscapes, living systems, and natural processes. The planning of Mata Buah Batu Center Hospital uses a biophilic architectural approach that can help the patient's healing process, such as the procurement of a garden as the main orientation in buildings that apply green walls, natural lighting (sky light), dynamic shadows, processed gray tone floor patterns, pergolas, procurement of water features and thermal comfort (natural living) as well as in inpatient rooms that apply balconies with colorful plants such as hibiscus flowers that spoil the eyes so that they help the healing process of eye patients.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Bandung City , Special Eye Hospital</p> Sidik Nugraha, Juarni Anita Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1260 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR MODERN KONTEMPORER PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT MATA BAGJA https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1261 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota Bandung merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat. Provinsi ini memiliki jumlah masyarakat terpadat di Indonesia, dan tentunya membutuhkan fasilitas kesehatan antara lain untuk rumah sakit khusus mata. Rumah Sakit Mata Bagja adalah rumah sakit kelas B dengan pelayanan 8 subspesialis khusus mata yang dirancang untuk memenuhi tuntutan tersebut. Lokasinya strategis di Jl. Soekarno-Hatta No. 550 Bandung, yaitu jalan arteri penghubung antarkota yang dilalui kendaraan umum. Sesuai makna arti namanya runah sakit ini diharapkan tidak hanya memberikan pelayanan medis yang baik tetapi juga desain bangunan dan tapaknya dapat memberi kebahagiaan bagi pengguna. Analisis data lapangan dilakukan secara deskriptif kualitatif. Sebagai tema perancangan dipilih arsitektur modern kontemporer yang diterapkan melalui bentuk gubahan massa bangunan yang ekspresif dan dinamis, pengolahan fasad dengan elemen transparan kaca yang menghubungkan ruang luar dan dalam, penggunaan warna netral, pengolahan lanskap/ ruang terbuka pada tapak, serta mengolah eksterior dan interior agar menghasilkan desain yang memberi kenyamanan hakiki secara visual dan spasial bagi pengguna. Melalui penerapan tema ini diharapkan bangunan Rumah Sakit Mata Bagja menjadi rumah sakit yang menarik sekaligus mampu memberikan pelayanan terbaik terkait kesehatan mata khususnya bagi masyarakat di Kota Bandung dan umumnya di Jawa Barat.<br>Kata kunci: Arsitektur Modern Kontemporer, Kesehatan, Masyarakat, Rumah Sakit Mata</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Bandung is one of the big cities in Indonesia and is the capital of West Java Province. This province has the most densely populated population in Indonesia, and of course requires health facilities, including a special eye hospital. Bagja Eye Hospital is a class B hospital with 8 subspecialty eye services designed to meet these demands. Its strategic location on Jl. Soekarno-Hatta No. 550 Bandung, which is an inter-city connecting arterial road that is traversed by public transportation. In accordance with the meaning of the name, this hospital is expected to not only provide good medical services but also the design of the building and its site can provide happiness for users. Field data analysis was carried out in a qualitative descriptive manner. As the design theme, contemporary modern architecture was chosen which was applied through expressive and dynamic forms of building mass composition, processing of facades with transparent glass elements that connect the outer and inner spaces, the use of neutral colors, processing of landscapes/ open spaces on the site, as well as processing the exterior and interior so that produce designs that provide true visual and spatial comfort for users. Through the application of this theme, it is hoped that the Bagja Eye Hospital building will become an attractive hospital as well as being able to provide the best services related to eye health, especially for people in the city of Bandung and generally in West Java.<br>Keywords: Contemporary Modern Architecture, Eye Hospital, Health, Society</p> M. Rifadz Bahtiar Alif, Nur Laela Latifah Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1261 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA HEALING ENVIRONMENT PADA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK TERLEKA PULIH BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1262 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit seringkali identik dengan hal-hal yang menakutkan seperti kematian, air, darah, obat (pahit), dll. Hal ini membuat pasien/pengunjung takut untuk datang ke rumah sakit, terutama anak-anak. Lingkungan yang menakutkan mempengaruhi psikologi dalam menjalani penyembuhan. Menulis memiliki tujuan untuk memecahkan masalah saat ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, hasil penulisan berupa deskripsi data kebutuhan ruang yang sesuai dengan kondisi psikologi pasien. Bangunan yang di rancang adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan menerapkan tema arsitektur Healing Environment. Tema Healing Environment dipilih karena “Healing” merupakan proses membangun kembali keharmonisan batin dan bagian dari hubungan timbal balik antara perorangan dengan lingkungan sekitar, keluarga, masyarakat, dan semangat hidup. Penerapan tema pada desain dilakukan dengan penambahan beberapa unsur alam yang dekat dengan pasien sehingga pasien tidak merasa seperti di rumah sakit pada umumnya. Hal ini diharapkan dapat membantu psikologi pasien dalam menjalani proses penyembuhan di rumah sakit.<br>Kata kunci: Arsitektur Healing, Healing Environment, Rumah Sakit Ibu dan Anak</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Hospitals are often synonymous with scary things like death, water, blood, medicine (bitter), etc. This makes patients/visitors afraid to come to the hospital, especially children. The scary environment affects the healing process. Writing has a purpose to solve current problems. The method used is descriptive qualitative, the results of the writing are in the form of a description of the data on space requirements in accordance with the patient's psychological condition. Mother and Child Hospital by applying the architectural theme of Healing Environment is a building designed. The theme of Healing Environment was chosen because “Healing” is a process of rebuilding inner harmony and part of the reciprocal relationship between the individual and the surrounding environment, family, and the spirit of life. The application of the theme to the design is done by adding some natural elements that are close to the patient so that the patient does not feel like in a hospital in general. This is expected to help the patient's psychology in undergoing the healing process in the hospital.<br>Keywords: Healing Architecture, Healing Environment, Mother and Child Hospital</p> Muhammad Nugraha, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1262 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI PRINSIP NATURE IN THE SPACE PADA MEDICAL EYES CENTER DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1263 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Mata yaitu elemen tubuh yang penting dalam kehidupan kita. Secara pandangan luas, kita merasakan hal dari apa yang kita lihat. Kesehatan mata dapat mengakibatkan penyakit rabun yang dapat menimbulkan kebutaan dan disebabkan oleh beberapa faktor. Perancangan Rumah Sakit khusus mata di Bandung ini diharapkan dapat membantu menanggulangi segala gangguan penyakit mata dan mendukung program penanggulangan gangguan penglihatan mata masyarakat Indonesia. Metodeoperancangan Rumah Sakit khusus Mata ini dikajioberdasarkan pendekatanoperancangan dan kerangka pikir. Melalui pendekatanpkajian objek, pendekatan kajianytapak dan melalui pendekatan tematik yang terdiri dariokajian tipologi objek, kajian tematik, dan kajian lokasi dan tapak. Ketiga kajian tersebut dianalisa sehingga menghasilkan konsepoumum perancangan. Konsep tersebut lalu di wujudkan dalam bentuk desain0yang menjadi hasil akhir darioPerancangan Rumah Sakit khusus Mata. Arsitektur Biofilik dipilih dalam perancangan bangunan ini, dengan penerapan salah satu prinsipnya yaitu Naturemin themSpace. Agar bangunan Rumah Sakit ini memiliki tipologi dan desain yang tidak terkesan kaku dan dingin maka penerapan konsep biofilik dirasa sudah sangat tepat karena dalam penerapannya arsitektur biofilik dapat memberikan pengalaman ruang atau visual yang nyaman agar secara fisik dan fisis pengguna relaks. Penggunaan tema ini diharapkan menghasilkan lingkungan kesehatan yang menenangkan, nyaman, tenang, dan berorientasi, sehingga bermanfaat bagi lingkungan perawatan kesehatan. Kemampuan mengurangi stres, membantu pemulihan, dan berdampak positif terhadap gangguan perilaku.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Mata, Rumah Sakit Khusus, Kota Bandung, Nature</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Eyes are an important body element in our life. Broadly speaking, we feel things from what we see. Eye health can cause myopic disease which can cause blindness and is caused by several factors. The design of a special eye hospital in Bandung is expected to help overcome all eye disease disorders and support the Indonesian people's eye vision disorder prevention program. The design method of this special Eye Hospital was reviewed based on a design approach and framework of thought. Through an object study approach, a site study approach and through a thematic approach consisting of object typology studies, thematic studies, and site and site studies. The three studies were analyzed to produce a general design concept. The concept is then realized in the form of a design which is the final result of the Design of a Special Eye Hospital. Biophilic architecture was chosen in the design of this building, with the application of one of the principles, namely Naturemin themSpace. In order for this hospital building to have a typology and design that does not seem stiff and cold, the application of the biophilic concept is deemed very appropriate because in its application the biophilic architecture can provide a comfortable space or visual experience so that the user physically and physically relaxes. The aim of this theme is to produce a health environment that is calming, comfortable, calm, and oriented, so that it is beneficial for the health care environment. Ability to reduce stress, aid recovery, and have a positive impact on behavioral disorders.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Eye, Specialty Hospital, Bandung City, Nature</p> Salma Syaida Puteri, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1263 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA HEALING SENSE PADA RUMAH SAKIT JANTUNG AORTIC SENSE CENTER BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1264 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah Sakit Jantung merupakan sarana kesehatan yang dapat menunjang dalam bidang medis, terkhusus pada penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Bandung merupakan kota besar dengan banyak rumah sakit yang memiliki pelayanan penyakit jantung, namun hal tersebut tidak dapat mengakomodir pelayanan dalam penyakit jantung secara keseluruhan, hal ini menjadi acuan untuk merancang Rumah Sakit jantung yang baru dan dapat memenuhi kebutuhan kesehatan terkhusus pada penyakit jantung. Perancangan Rumah Sakit jantung yang bernama Aortic Sense Center Bandung akan memiliki tiga lantai podium dan enam lantai tipikal. Perancangan Rumah Sakit Aortic Sense Center Bandung akan menerapkan pendekatan tema healing sense dalam menangani permasalahan desain lingkungan pengobatan yang mengacu pada unsur alam, indra, dan psikologis. Tema tersebut sangat cocok diterapkan pada Rumah Sakit jantung, karena dapat membentuk proses penyembuhan pada psikologis pasien dengan pendekatan pada alam dan pendekatan konsep arsitektur organik pada aspek Building As Nature sebagai impelementasi tema yang diusung. Penerapan Healing Sense pada rancangan terdapat pada ruang dalam bangunan, sirkulasi, zona, dan pemilihan warna. Sedangkan penerapan konsep arsitektur organik yaitu Building As Nature pada rancangan terdapat pada massa bangunan, fasad bangunan, zoning, dan taman pada Tapak.<br>Kata kunci: Rumah Sakit, Rumah Sakit Jantung, Psikologis, Arsitektur Organik, Healing Sense</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The Heart Hospital is a health facility that can support the medical field, especially in diseases related to the heart and blood vessels. Bandung is a big city with many hospitals that have heart disease services, but it cannot accommodate services in heart disease as a whole, this is a reference for designing a new heart hospital and can meet health needs, especially for heart disease. The design of a heart hospital called Aortic Sense Center Bandung will have three podium floors and six typical floors. The design of the Bandung Aortic Sense Center Hospital will apply a healing sense theme approach in dealing with treatment environment design problems that refer to natural, sensory, and psychological elements. The theme is very suitable to be applied to the heart hospital, because it can shape the healing process in the patient's psychology with an approach to nature and an approach to the concept of organic architecture in the aspect of Building As Nature as the implementation of the theme carried. The application of Healing Sense to the design is found in the space in the building, circulation, zones, and color selection. While the application of the concept of organic architecture, namely Building As Nature, in the design is found in the mass of buildings, building facades, zoning, and gardens on the site.<br>Keywords: Hospital, Heart Hospital, Psikologist, Organic Architecture, Healing Sense</p> Risar Dwiripa Abdilla, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1264 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP THERAPEUTIC ENVIRONMENT PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1265 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit ibu anak merupakan tempat pelayanan kesehatan yang menangani segala penyakit berkaitan dengan kandungan dan kebidanan. Pada kenyataannya, kematian akibat melahirkan masih tergolong tinggi. Hal ini berdampak terhadap keluarga dan masyarakat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu adanya penambahan fasilitas pelayanan kesehatan khusus ibu dan anak diseluruh wilayah Indonesia khususnya Kota Bandung. Dalam proses persalinan, faktor psikologis ibu juga harus diperhatikan. Ibu lebih mudah untuk merasakan ketakutan, adanya perasaan pesimis dan rasa bingung yang mengganggu pikirannya. Oleh sebab itu, konsep yang diterapkan pada perancangan rumah sakit ibu dan anak ini adalah konsep therapeutic environment. Konsep ini mengutamakan lingkungan yang berfokus pada kesehatan pasien. Tujuan dari penggunaan konsep ini adalah untuk memberikan pengaruh psikologis bagi fisik dan mental pasien, memberikan rasa tenang, nyaman dan pasien akan lebih dapat menikmati proses penyembuhan yang sedang dilakukannya. Prinsip therapeutic environment berguna untuk mengurangi atau menghilangkan stres lingkungan serta sumber kebisingan, memberikan pengaruh positif, dan mengaktifkan dukungan sosial. Dengan dibangunnya Rumah Sakit Ibu dan Anak ini diharapkan mampu mewadahi pelayanan kesehatan terhadap ibu-ibu di masa pra kehamilan hingga pasca persalinan tanpa memberikan kesan yang menyeramkan bagi anak-anak dan dapat merelaksasi tubuh dan pikiran pasien.<br>Kata kunci: Lingkungan, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Therapeutic</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Mother and child hospital is a place of health service that handles all diseases related to obstetrics and gynecology. In fact, mortality due to childbirth is still relatively high. This has an impact on families and communities. To overcome these problems, it is necessary to add special health care facilities for mothers and children throughout Indonesia, especially the city of Bandung. In the process of childbirth, the mother's psychological factors must also be considered. Mothers are easier to feel fear, pessimism and confusion that interfere with his mind. Therefore, the concept applied to the design of this mother and child hospital is the concept of a therapeutic environment. This concept prioritizes an environment that focuses on patient health. The purpose of using this concept is to provide a psychological impact on the patient's physical and mental, giving a sense of calm, comfort and the patient will be able to enjoy the healing process he is doing. The principle of therapeutic environment is useful for reducing or eliminating environmental stress and noise sources, providing positive influence, and activating social support. With the construction of the Mother and Child Hospital, it is hoped that it will be able to accommodate health services for mothers during the pre-pregnancy and post-natal period without giving a scary impression to the children and can relax the patient's body and mind.<br>Keywords: Environment, Maternal and Child Hospital, Therapeutic</p> Arfina Khalda Lutfiyah, Meta Riany Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1265 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP SUSTAINABLE DESAIN PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI JALAN SOEKARNO HATTA https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1266 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Penderita penyakit mata semakin meningkat di Indonesia, seiring dengan pertambahan usia masyarakat. Upayaiuntukimenjagaikesehatanimataiperluiditingkatkani untuki meningkatkan kualitas mata masyarakat Indonesiai dalam rangka mewujudkan manusia yang cerdas, produktif, mandiri, maju, dan sejahtera. Maka dari itu untuk membantu menghadapi penurunan prevalensi gangguan penglihatan di Indonesia, diperlukan Rumah Sakit khusus mata yang dapat memberikan fasilitas untuk menunjang penanganan dan pencegahan penyakit mata. Tingginya jumlah penduduk di Bandung Timur dan sekitarnya sebanding lurus dengan tingginya akses kesehatan yang diperlukan khususnya dibidang kesehatan mata. Tidak hanya itu, jauhnya akses menuju rumah sakit mata terdekat membuat pembangunan ini sangat diperlukan, Rumah sakit khusus mata ini direncanakan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mulai dari toko alat kesehatan dan apotik., maka dari itu perancangan bangunan dengan menggunakan tema Sustainablei Designi bertujuan menghasilkani rancangan bangunan yang memberikan efek positif terhadapi penggunanya. Metode yang digunakan dengan cara pengumpulani data menggunakani metodei pengumpulan data primeri yaitu berupai pengamatan, pemetaani lokasi sertai dokumentasi, dan metodei pengumpulani datai sekunderi yaitu berupai data dari instansi yangi terkaiti serta studi literatur terhadapi jurnal ataui karya ilmiah yangi berkaitan. Hasil penerapan konsep Sustainable desain pada rumah sakit Anemone Hospital ini diterapkani pada fasadi bangunani, ruang luari dan ruang dalami pada rumah sakit yang dapati membantu proses penyembuhani pasien dengan mempertimbangkani struktur pada bangunani dani utilitas untuk kebutuhan rumah sakit. Pemilihan material yang ramah lingkungan dan zoning yang nyaman membuat pemilihan tema Sustainable Design cocok diterapkan dirumah sakit khusus mata karena memperhatikan aspek ekonomi, social dan lingkungan serta pola pembangunan yang menyeluruh dan dilakukan secara berkelanjutan.<br>Kata kunci: Material ramah lingkungan, Rumah Sakit khusus mata, Sustainable Desain</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Patients with eye disease are increasing in Indonesia, along with the increasing age of the community. Efforts to maintain eye health need to be improved to improve the quality of the eyes of the Indonesian people in order to create intelligent, productive, independent, advanced, and prosperous human beings. Therefore, to help deal with the decrease in the prevalence of visual impairment in Indonesia, a special eye hospital is needed that can provide facilities to support the treatment and prevention of eye diseases. The high population in East Bandung and its surroundings is directly proportional to the high level of health access needed, especially in the field of eye health. Not only that, the far access to the nearest eye hospital makes this development very necessary. This special eye hospital is planned as a place to meet the needs of the communityi starting fromi medicali equipmenti stores and pharmacies. Therefore, the design of the building using the themei of Sustainablei Designi aims to producei building design thati has a positive effect on its users. The method used is by collecting data using primary data collection methods, namely in the formi of observationi, location mapping and documentationi, and secondary data collection methods, namely in the form of data from relevant agencies and literature studies of related journals or scientific works. The results of the application of the Sustainable design concept at the Anemone Hospital are applied to the facade of the building, the outside and the inside of the hospital which can help the patient's healing processi by considering the structure of the building and utilities for hospital needs. The selection of environmentally friendly materials and comfortable zoning makes the selection of the theme of Sustainable Design suitable to be applied in a special eyei hospital because it pays attention to economic, social andi environmental aspectsi as well as a comprehensivei and sustainable developmenti pattern.<br>Keywords: Special eye hospital, Sustainable Design, Environmentally friendly materials</p> Faizal Zean Razaq, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1266 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP “HEALING THERAPY” PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG H.O.H DI BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1267 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah Sakit merupakan bangunan yang yang penting keberadaanya di setiap kota, terlebih lagi rumah sakit spesialis seperti rumah sakit khusus jantung karena penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Penanganan yang tepat akan menyelamatkan jiwa,dan setelah itu perawatan pasca serangan jantung, menjadi hal yang penting untuk pemulihan. Sebuah rumah sakit khusus jantung dengan konsep “Healing Therapy”,diharapkan bisa membantu penyembuhan pasien.. “Healing Therapy” melalui desain pada bagian rawat inap dan rawat jalan, dengan permainan cahaya matahari melalui “secondary skin” vertikal garden, sehingga ruang dalam menerima panas matahari yang terkendali. Bagian Rawat Inap dirancang senyaman mungkin dengan balkon yang dilengkapi dengan taman. Desain sirkulasi mementingkan kemudahan pencapaian kesetiap bagian Rumah Sakit,mulai dari area gawat darurat yang ditempatkan didekat pintu masuk site, sampai akses menuju ruang rawat inap dan ruang penanganan khusus lainnya. “Healing Therapy”’melalui desain diharapkan menjadi masukan yang berharga bagi desain rumah sakit di masa yang akan datang.<br>Kata kunci: Rumah Sakit, Penyakit Jantung, “Healing Therapy”</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Hospitals are important buildings in every city, especially specialist hospitals such as a special heart hospital because this disease is one of the diseases that can cause death. Proper treatment is life-saving, and after that, post-cardiac arrest care is critical to recovery. A special heart hospital with the concept of Healing Therapy, is expected to help patients heal. Healing Therapy through the inpatient and outpatient design by controlled sun through secondary skin vertical garden, therefore the inner space receive a controlled sun heat. The Inpatient Section is designed to be as comfortable as possible with a balcony equipped with a garden. The circulation design emphasizes the ease of reaching every part of the hospital, starting from the emergency room which placed near the site entrance, to access to the inpatient room and other special treatment rooms. "Healing Therapy"' through design is expected to be a valuable input for hospital design in the future.<br>Keywords: Hospital, Heart Disease, Healing Therapy,</p> Andri Ramadhan, Shirley Wahadamaputera Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1267 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER METAFORA PADA RANCANGAN MUSEUM GUHA DI KAWASAN SEKITAR GUA PAWON https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1268 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Ribuan benda peninggalan sejarah yang telah ditemukan di seluruh Indonesia, menjadi bukti dari adanya keberagaman budaya,, kepercayaan, ras, suku,, dan bahasa di negara kepulauan ini. Salah satunya adalah benda peninggalan sejarah yang ditemukan di kawasan sekitar Gua Pawon, Kabupaten Bandung Barat, yang menjadi bukti kehidupan nenek moyang Suku Sunda. Penemuan tersebut tentu menjadi salah satu hal penting bagi masyarakat Suku Sunda yang harus dirawat dan dijaga dengan baik agar dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Oleh karena itu, museum dinilai menjadi tempat yang tepat sebagai pusat konservasi serta sarana media pamer benda penemuan sejarah tersebut. Namun, saat ini jumlah museum yang memamerkan koleksi benda-benda arkeolog terhitung masih sedikit dan belum sepenuhnya diminati oleh beberapa kalangan Hal tersebut kemudian membuat dirancangnya Museum Guha di kawasan sekitar Gua Pawon menciptakan peluang yang sangat baik untuk pelestarian benda peninggalan sejarah. Pendekatan Tema Arsitektur Kontemporer Metafora kemudian diterapkan pada perancangan bangunan ini untuk menciptakan bangunan dan kawasan museum yang unik, dinamis dan tetap terintegrasi dengan alam sekitarnya sehingga dapat menciptakan inovasi baru dalam arsitektur museum sejarah dan arkeologi di Indonesia, khususnya Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.<br>Kata kunci: Arsitektur Kontemporer, Arsitektur Metafora, Museum Arkeologi Gua Pawon</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Thousands of historical relics that have been found throughout Indonesia are evidence of the diversity of cultures, ethnicities, beliefs, and languages in this archipelagic country. One of the historical relics was found in the area around Pawon Cave, West Bandung Regency, which is evidence of the life of the Sundanese ancestors. The discovery is certainly one of the important things for the Sundanese people that must be stored and maintained properly so that it can be preserved by the next generation. Therefore, the museum is considered to be the right place as a conservation center as well as a media facility to show off these historical discoveries. However, currently the number of museums that exhibit collections of archaeological objects is still relatively small and has not been fully attracted by some circles. This has then made the design of the Guha Museum in the area around Gua Pawon creating an excellent opportunity for the preservation of historical heritage objects. The Metaphor Contemporary Architecture Theme approach was then applied to the design of this building to create a unique, dynamic museum building and area that remains integrated with the natural surroundings so as to create new innovations in the architecture of historical and archaeological museums in Indonesia, especially West Bandung Regency, West Java.<br>Keywords: Contemporary Architecture, Metaphor Architecture, Gua Pawon Archeological Museum</p> Nurul Izzah, Meta Riany, Ardhiana Muhsin Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1268 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR PERILAKU PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1269 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Hal yang paling mendasar guna menciptakannya lingkungan yang sehat dan harmonis yakni menyediakan pelayanan dibidang kesehatan yang yang optimal serta prima bagi ibu dan anak. Berbagai upaya dilakukan guna mengoptimalkan pelayan kesehatan bagi Ibu dan Anaka khususnya bagi masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya. Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu adanya peningkatan baik sarana maupun prasarana kesehatan yang dapat mewadahi kebutuhan pasien ibu dan anak dengan berbagai keluhan penyakit ataupun proses persalinan. Rumah Sakit Ibu dan Anak dirancang dengan menerapkan sebuah tema yang didasari atas penelitian terhadap karateristik ibu dan anak dalam suatu bangunan atau kata lain bangunan yang dirancang yaitu rumah sakit Ibu dan Anak dengan penerapan arsitektur perilaku. Arsitektur perilaku diterapkan dalam perancangan pada bagian Interior dengan memaksimalkan fungsi dari ruangan berdasarkan karakteristik, sifat dan asat kebiasaan penggunanaya. Hasil rancangan Rumah sakit Ibu &amp; Anak dengan penerapan arsitektur perilaku diharapkan bangunan dapat memberikan dampak positif khususnya dalam hal sarana dan prasarana bagi pelayan kesehatan untuk ibu dan anak.<br>Kata kunci: Arsitektur Perilaku, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Kota Bandung.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The most basic thing to create a healthy and harmonious environment is to provide optimal and excellent health services for mothers and children. Various efforts were made to optimize health services for mothers and children, especially for the people of Bandung City and its surroundings. To answer these problems, it is necessary to improve both health facilities and infrastructure that can accommodate the needs of mother and child patients with various complaints of illness or childbirth. Mother and Child Hospital is designed by applying a theme based on research on the characteristics of mothers and children in a building or in other words the building designed is a Mother and Child Hospital with the application of behavioral architecture. Behavioral architecture is applied in the interior design by maximizing the function of the room based on the characteristics, nature and habits of its users. The results of the design of the Mother &amp; Child Hospital with the application of behavioral architecture are expected to have a positive impact, especially in terms of facilities and infrastructure for health services for mothers and children.<br>Keywords: Behavioral Architecture, Mother and Child Hospital, Bandung City.</p> Feppy Alyfia Eka Bintari, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1269 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 ARSITEKTUR BERKELANJUTAN PADA RANCANGAN SENGANAN ISLAMIC CENTRE DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1270 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Indonesia sebagai negara yang besar dengan berbagai suku, ras, dan agama memiliki latar belakang yang sangat beragam. Keberagaman inilah menjadikan peradaban Islam khususnya di Kalimantan Barat sebagai penggerak kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan untuk umat Islam. Adanya peradaban ini mendorong terciptanya pembangunan suatu wilayah dan ruang-ruang publik guna memfasilitasi suatu komunitas peradaban tersebut agar terciptanya lingkungan yang aman, dan nyaman. Sustainable Cities and Communities merupakan sebuah solusi yang diharapkan mampu memberikan fasilitas-fasilitas untuk mendukung kegiatan isosial atau komunitas di suatu kota atau wilayah. Tujuan pembangunan Islamic Centre di Kabupaten Sambas diharapkan mampu menjadi wadah untuk menunjang segala aktifitas yang ada di Islamic Centre tersebut. Metoda membangun pada rancangan Senganan Islamic Centre ini dilakukan secara bertahap agar memberi kemudahan dalam pelaksanaan dan pengawasan. Prinsip sustainable design digunakan dengan mengadaptasi material yang murah, efisiensi energi, kualitas dan keberlanjutan, reuse dan recycle, sumber daya terbarukan dan kesehatan. Islamic Centre ini diharapkan dapat menjadi pusat berkumpul atau wadah aktifitas suatu komunitas dan memberikan edukasi, dan komunikasi yang baik antar komunitas dengan adanya adaptasi kebiasaan baru ( new normal).<br>Kata ikunci: Pusat Kegiatan Islam, Sustainable Cities and Communities, Sustainable Design</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Indonesia as a large country with various tribes, races, and religions has a very diverse background. This diversity makes Islamic civilization, especially in West Kalimantan, a driver of a better and more sustainable life for Muslims. The existence of this civilization encourages the creation of the development of an area and public spaces in order to facilitate a community of civilization in order to create a safe and comfortable environment. Sustainable Cities and Communities is a solution that is expected to be able to provide facilities to support social or community activities in a city or region. The purpose of building the Islamic Centre in Sambas Regency is expected to be a forum to support all activities in the Islamic Centre. The method of building on the design of the Senganan Islamic Centre is carried out in stages in order to provide convenience in implementation and supervision. The principle of sustainable design is used adapting low-impact material, energy efficiency, quality and durability, Reuse &amp; Recycle, Renewability, and healthy. This Islamic Centre is expected to be a gathering center or a forum for community activities and provide education, and good communication between communities with the adaptation of new habits (new normal).<br>Keywords: Islamic Centre, Sustainable Cities and Communities, Sustainable Design</p> Bela Fitria Nurmiyati, Dian Duhita Permata, Bambang Subekti Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1270 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 INTEGRASI ARSITEKTUR SKARA BRAE PADA PERANCANGAN NIRLEKA MUSEUM GUA PAWON https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1271 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kurangnya pelestarian dan pemeliharaan sumber peninggalan atau artefak masa purbakala zaman manusia belum mengenal tulisan yang terdapat di Gua Pawon Bandung Barat, masyarakat setempat mengajukan kebutuhan berupa museum sebagai sarana konvensional. Sistem perancangan yang dilakukan yaitu menyediakan media atau sarana konvensional berupa museum sebagai pusat konservasi sekaligus informasi mengenai peninggalan masa purbakala yang ditemukan di Gua Pawon. Ada beberapa fasilitas lain yang disediakan sebagai bangunan penunjang. Diantaranya; perpustakaan museum, restoran, bangunan penerima, amphitheater dan padepokan seni, mushola umum, toilet umum, perkebunan disertai gudang, camping ground, dan villa. Perencanaan dilakukan berdasarkan fungsi, manfaat, dan pengolahan tapak sebagai area Eco Wisata dengan transformasi bentuk yang diharapkan fasad utama pada museum menjadi destinasi utama para wisatawan di Bandung Barat yang mengunjungi Gua Pawon. Tema yang diambil yaitu Integrasi Arsitektur Skara Brae dengan mengusung Konsep Tranquil Coexistence of Nature and Architecture Ancient yang memiliki makna keselarasan antara arsitektur Skara Brae dan lingkungannya dengan penggunaan material alam berupa bebatuan dan kayu yang diaplikasikan dengan material baja sebagai pendukung. Nirleka Museum ini akan menjadi sarana konvensional dengan rancangan museum yang memenuhi kebutuhan dan menjadi tujuan eco wisata baru di Bandung Barat melalui delegasinya sebagai sarana konvensional.<br>Kata kunci: Arsitektur Skara Brae, Material, Museum, Perancangan</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Lack of preservation and maintenance of sources of relics or artifacts from ancient times when humans were not familiar with the writings contained in the Pawon Caves, West Bandung, the local community proposed the need for a museum as a conventional means. The design system carried out is to provide conventional media or facilities in the form of a museum as a conservation center as well as information about ancient relics found in Pawon Cave. There are several other facilities provided as supporting buildings. Among them: museum library, restaurant, reception building, art amphitheater and hermitage, public prayer room, public washrooms, plantation with warehouse, campground and villa. Planning is carried out based on the functions, benefits, and the processing of the site as an Eco Tourism area with the expected transformation of the shape of the main facade of the museum into the main destination for tourists in West Bandung who visit Pawon Cave. The theme taken is the Integration of Skara Brae Architecture by carrying the Tranquil Coexistence of Nature and Architecture Ancient Concept which has the meaning of harmony between Skara Brae architecture and its environment with the use of natural materials in the form of stones and wood which are applied with steel as a support. The Nirleka Museum will become a conventional facility with a museum design that meets the needs and becomes a new eco-tourism destination in West Bandung through its delegation as a conventional means.<br>Keywords: Architecture Skara Brae, Material, Museum, Design</p> Ria Indriani Hidayat, Dian Duhita Permata, Bambang Subekti Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1271 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI KONSEP ARSITEKTUR MODERN PADA KAWASAN EKOWISATA GUNUNGHALU https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1272 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang sering dijadikan sebagai destinasi wisata bagi para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti wisata alam, wisata budaya, wisata pertanian, dan wisata kuliner. Hal ini karena Kota Bandung memiliki berbagai fasilitas seperti kawasan untuk berwisata . Kota Bandung menjadi salah satu yang dikenal sebagai daerah dengan kondisi alam yang masih terjaga dan Kota Bandung masih terdapat banyak daerah hijau yang masih belum dikelola. Kondisi seperti ini memberi peluang bisnis untuk pembangunan kawasan wisata alam. Gununghalu merupakan salah satu kecamatan yang berada di Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung Barat yang memiliki keindahan alam, hal tersebut menjadi salah satu keunggulan untuk mendirikan objek wisata yaitu Kawasan wisata alam. Karakter kegiatan Kawasan wisata alam yaitu ramah terhadap lingkungan yang dapat menguntungkan masyarakat sekitar. Kawasan wisata alam dengan penggunaan tema arsitektur modern dapat menjadi sesuatu yang mencolok pada sebuah kawasan wisata alam dan menjadi nilai lebih pada Kawasan wisata alam yang dibangun. Arsitektur modern mempunyai arti sebagai sebuah bidang ilmu seni merancang dan membuat konstruktsi bangunan yang terbarukan. Kawasan wisata alam memiliki harapan dapat menarik perhatian masyarakat dan menjadi sumber penghasilan bagi pemilik bangunan.<br>Kata kunci: Arsitektur, Ekowisata, Gununghalu, Modern</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The city of Bandung is one of the cities in Indonesia that is often used as a tourist destination for tourists, both local and foreign tourists, to carry out various activities, such as natural tourism, cultural tourism, agricultural tourism, and coolie tourism. This is because the city of Bandung has various facilities such as areas for tourism. The city of Bandung is one of the areas known as an area with natural conditions that are still maintained and the city of Bandung still has many green areas that are still unmanaged. Conditions like this provide business opportunities for the development of natural tourist areas. Gununghalu is one of the sub-districts located in the West Bandung Regency Administrative Area which has natural beauty, this is one of the advantages to establish a tourist attraction, namely a natural tourist area. The character of the activities of natural tourism areas is friendly to the environment that can benefit the surrounding community. Natural tourism areas with the use of modern architectural themes can be something striking in a natural tourist area and become more value in the natural tourism area that is built. Modernarchitecture has the meaning of being a field of art in designing and constructing renewable buildings. Natural tourism areas have the hope that they can attract the attention of the community and become a source of income for building owners.<br>Keywords: Achitectural, Ecotourism, Gununghalu, Modern</p> Satria Rachmat Gumilang, Dian Duhita Permata, Bambang Subekti Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1272 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI KONSEP BIOFILIK SEBAGAI HEALING ENVIRONMENT PADA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1273 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit saat ini telah menjadi bangunan penting sebagai penunjang fasilitas kesehatan masyarakat terutama di Kota Bandung. Seiring dengan bertambahnya waktu banyak ditemukan inovasi baru terkait kesehatan ibu dan anak, juga berkembangnya virus baru, sehingga dibutuhkan pembangunan rumah sakit khusus ibu dan anak yang dapat memfasilitasi kebutuhan baru. Kemudian lambatnya proses penyembuhan yang disebabkan oleh faktor lingkungan, yang mengharuskan sebuah bangunan dapat menciptakan lingkungan yang membantu kesembuhan pasien. Tujuan dari proyek tugas akhir ini membangun rumah sakit ibu dan anak yang memiliki lingkungan untuk membantu kesembuhan pasien. Penerapan konsep biofilik sebagai healing environment dapat menjadi tema yang menguntungkan terhadap pembangunan rumah sakit khusus ibu dan anak. Biofilik sebagai healing environment diaplikasikan melalui pola hubungan visual dengan alam yang dapat memberikan dampak positif terhadap pasien. Implementasi taman dalam, material fasad, interior bangunan rumah sakit menjadi kunci dalam mendekatkan manusia dengan alam. Desain dari rumah sakit ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kesembuhan pasien dan memberikan suasana yang nyaman terhadap pengguna bangunan. Kemudian rumah sakit ibu dan anak ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan menimbulkan dampak positif terhadap lingkungan.<br>Kata kunci: Bandung, Biofilik, Healing Environment, Rumah Sakit Ibu dan Anak</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Recently, hospital has become an important building as a support for public health facilities, especially in the city of Bandung. As time goes by, many new innovations related to maternal and child health were found, and spread of new viruses, so the construction of maternal and child hospital is needed that can facilitate new needs. Then the slow healing process caused by environmental factors, which require a building can create an environment that helps patient's recovery. Purpose of this final project was to build mathernal and child hospital that has environment to help patients recover. The application of the biophilic concept as a healing environment could be profitable theme for the construction of mathernal and child hospital. Biophilic as a healing environment is applied through pattern of visual relationship with nature that can have a positive impact on patients. Implementation of inner gardens, façade materials, interiors of hospital buildings were the key in bringing humans closer to nature. The design of this hospital is expected to have positive impact on the recovery of patients and provide comfortable atmosphere for building users. Then this mathernal and child hospital can benefit the community and have positive impact on the environment.<br>Keywords: Bandung, Biophilic, Healing Environment, Mother and Child Hospital</p> Hilman Putra Wibowo, Juarni Anita Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1273 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA RANCANGAN ISLAMIC CENTRE DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1274 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas merupakan kawasan yang memiliki budaya kesultanan yang kental,<br>sehingga akan dirancang sebuah Islamic Centre sebagai penunjang bagi masyarakatnya.<br>Perancangan Islamic Centre ini menyesuaikan dengan iklim sekitar dikarenakan iklim pulau<br>Kalimantan yaitu tropis yang menjadi dasar penelitian konsep arsitektur bioklimatik, sehingga<br>sangat adaptif terhadap iklim. Hal yang dilakukan dalam pengaplikasian arsitektur bioklimatik<br>dalam bangunan Islamic Centre ini adalah menggunakan indikator arsitektur bioklimatik<br>menurut Kenneth Yeang, sehingga menghasilkan desain masjid yang dapat adaptif terhadap<br>iklim. Indikator-indikator tersebut antara lain orientasi bangunan terhadap iklim, penggunaan<br>warna cerah ke bangunan untuk mengurangi rasa panas, memaksimalkan bukaan searah<br>datangnya angin, courtyard yang dijadikan sebagai alat sirkulasi udara, lantai dasar yang<br>terekspos keluar sehingga terintegrasi dengan elemen lingkungan dan penggunaan material<br>beremisi karbon rendah. Penyelesaian desain arsitektur bioklimatik memperhatikan hubungan<br>antara bentuk arsitektur dan lingkungan. Tujuan rancangan proyek ini adalah menyediakan<br>sarana peribadatan berupa Islamic Centre yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat<br>Kabupaten Sambas. Selain kegiatan peribadatan, Islamic Centre ini juga mendukung kegiatan<br>ekonomi, sosial, dan rekreasi edukatif.<br>Kata kunci: Arsitektur Bioklimatik, Masjid, Pusat Dakwah Islam</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is an area that has a strong sultanate culture, so an Islamic Center will be<br>designed as a support for its people. The design of this Islamic Center adapts to the<br>surrounding climate because the climate of the island of Borneo is tropical which is the basis<br>for research on the concept of bioclimatic architecture, so it is very adaptive to the climate.<br>What is done in the application of bioclimatic architecture in the Islamic Center building is to<br>use indicators of bioclimatic architecture according to Kenneth Yeang, resulting in a mosque<br>design that can be adaptive to the climate. These indicators include the orientation of the<br>building to the climate, the use of bright colors to the building to reduce heat, maximizing the<br>opening in the direction of the wind, the courtyard which is used as a means of air circulation,<br>the ground floor which is exposed to the outside so that it is integrated with environmental<br>elements and the use of carbon-emitting materials. low. Completion of bioclimatic architectural<br>design pays attention to the relationship between architectural forms and the environment. The<br>purpose of this project design is to provide a place of worship in the form of an Islamic Center<br>that can be used for the people of Sambas Regency. In addition to worship activities, the Islamic<br>Center also supports economic, social and educational recreational activities.<br>Keywords: Bioclimatic Architecture, Mosque, Islamic Centre</p> Tri Minarni Ash Sabariah, Dian Duhita Permata, Bambang Subekti Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1274 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI BANDUNG KIDUL https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1275 <p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Kesehatan fungsi mata semakin menurun dengan bertambahnya usia dan perkembangan zaman yang semakin kurang kondusif mengakibatkan munculnya berbagai penyakit mata hal tersebut dapat diasumsikan bahwa setiap tahunnya penderita penyakit mata dapat meningkat apalagi di era modern sekarang beberapa penyebab gangguan penglihatan datang dari polusi udara yang mengandung bakteri dan paparan radiasi alat elektronik. agar derajat kesehatan mata masyarakat semakin meningkat maka perlu upaya pembangunan dibidang kesehatan dengan menyediakan sarana prasarana kesehatan, dengan demikian pelayanan kesehatan semakin luas, cepat, dan memadai, maka seorang arsitek harus dapat memecahkan permasalahan tersebut agar pengguna bangunan mendapatkan pengalaman terapeutik dan memberikan rasa sejahtera. Arsitektur kontemporer merupakan salah satu jawaban dari sebuah persoalan yang terjadi didalam tapak, pemilihan konsep kontemporer lebih fleksibel karena arsitektur kontemporar merupakan arsitektur yang tidak berdiri sendiri melainkan didalam aritektur kontemporer terdapat beberapa gaya bangunan yang membentuk kontemporer. Perancangan rumah sakit khusus mata dengan penerapan konsep arsitektur kontemporer dapat merespon pengguna bangunan untuk melakukan bebrbagai kegiatan baik aktifitas utama (pelayanan kesehatan) maupun aktifitas tambahan (pengalaman ruang) dengan fasilitas yang menunjang kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan.<br>Kata kunci: arsitektur kontemporer, kesehatan mata, penyakit mata, rumah sakit mata</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The health of eye function decreases with increasing age and the development of an increasingly less conducive era, resulting in the emergence of various eye diseases. It can be assumed that every year the number of sufferers of eye disease can increase, especially in the modern era. Some of the causes of visual impairment come from air pollution that contains bacteria and exposure. electronic radiation. Since the degree of public health is increasing, it is necessary to develop efforts in the health sector by providing health infrastructure facilities. Thus, health services must be wider, faster, and adequate. An architect must be able to solve these problems so that building users get a therapeutic experience and provide a sense of well-being. Contemporary architecture is one answer to a problem that occurs on the site. The selection of contemporary concepts is more flexible because contemporary architecture is an architecture that does not stand alone, but in contemporary architecture there are several building styles that make up contemporary. The design of a special eye hospital with the application of contemporary architectural concepts can respond to building users' needs to carry out various activities, both main activities (health services) and additional activities (space experience), with facilities that support comfort, safety, and welfare.<br>Keywords: contemporary architecture, eye health, eye disease, eye hospital</p> Lutfilah Anwar, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1275 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DENGAN MENERAPKAN KONSEP ARSITEKTUR POST MODERN DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1276 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pada jaman modern yang semakin maju, membuat pola pikir masyarakat terhadap banyak hal salah satunya desain bangunan menjadi lebih variasi, hal ini menuntut arsitektur mengembangkan suatu desain yang lebih baik. Pemahaman ini berdampak pada pandangan arsitektur terhadap gaya arsitektur. Namun jauh dari hal itu, bagaimana memperlihatkan suatu desain yang dapat terlihat sesuai dengan jaman modern tanpa mengurangi kreatifitas. Untuk menjawab tantangan tersebut maka yang dapat di lakukan yaitu mengembangkan desain yang lebih dari modern sesuai dengan prinsip arsitektur salah satunya prinsip desain post modern. Gaya arsitektur ini metitikberatkan pada prinsip yang dapat menyesuaikan dari jaman ke jaman dengan memanfaatkan material, bentuk, dan motif pada bangunan dan lansekap. Implementasi pada prinsip ini yaitu motif dan bentuk yang tidak kaku pada material pada pelapis dinding tambahan, interior, atap dan lansekap. Diharapkan dari penerapan konsep desain tersebut merubah keunikan bangunan di jaman sekarang terhadap gaya arsitektur pada bangunan rumah sakit.<br>Kata kunci: Post Modern, Gaya Arsitektur, Rumah Sakit</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>In the modern era that is increasingly advanced, making people's mindsets towards many things, one of which is the design of buildings becoming more varied, this requires architecture to develop a better design. This understanding has an impact on the architectural view of architectural style. But far from that, how to show a design that can look in accordance with modern times without reducing creativity. To answer these challenges, what can be done is to develop a design that is more than modern in accordance with architectural principles, one of which is the postmodern design principle. This architectural style focuses on the principle that it can adapt from time to time by utilizing materials, shapes, and motifs in buildings and landscapes. The implementation of this principle is motifs and shapes that are not rigid in the material for additional wall coverings, interiors, roofs and landscaping. It is hoped that the application of the design concept will change the uniqueness of today's buildings to the architectural style of hospital buildings<br>Keywords: Post Modern, Architectural Style, Hospital</p> Muhamad Rifqi Mutaqin, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1276 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN HEALING ENVIRONMENT DALAM DESAIN RSIA DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1277 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kesehatan pada Ibu dan Anak merupakan upaya dalam bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan maupun pemeliharaan ibu hamil, bersalin, menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Di masa sekarang banyak sekali program pembangunan kesehatan yang ber tujuan untuk menanggulangi masalah kesehatan kepada ibu dan anak. Akan tetapi yang fokus pada pelayanan anak anak jarang sekali ditemui, dengan itu konsep Healing Environment pada desain RSIA dirasa cocok karena para pengunjung maupun pasien anak dapat lebih tenang maupun tidak takut akan Rumah Sakit yang kesannya menakutkan bagi anak-anak, selain itu dari sisi medis kesembuhan dapat didapatkan dengan faktor psikologis. Faktor psikologis dapat ditunjang dengan pendekatan lingkungan, yang bertujuan membentuk persepsi melalui hubungan pikiran dan aktivitas manusia dengan menerapkan tema Healing Environment pada center bangunan dengan dibuat void agar semua pengunjung dan pasien dapat merasakan, selain itu konsep ditempatkan pada bagian main entrance bangunan dengan alasan pengunjung maupun pasien dapat mengurangi kecemasan berlebih dengan menempatkan kolam, vegetasi dan tempat duduk kayu karena konsep yang diambil mempunyai hubungan khusus dengan dengan psikologi manusia dan elemen elemen-alam.<br>Kata kunci:Rumah Sakit Ibu dan Anak, Healing Environment, Void, Main Entrance, Material.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Maternal and Child Health is an effort in the health sector that involves the service and maintenance of pregnant women, mothers in labor, breastfeeding mothers, infants and toddlers and preschool children. Until now, there have been many health development programs in Indonesia aimed at overcoming maternal and child health problems. However, those who focus on services for infants and toddlers and preschool children are very rarely encountered with the Healing Environment concept in the RSIA design, it is considered suitable because visitors and pediatric patients can be calmer or not afraid of the hospital which seems scary for children besides the medical side. healing can be obtained by psychological factors. Psychological factors can be supported by an environmental approach, which aims to form perceptions through the relationship of thoughts and human activities by applying a Healing Environment in a void building center so that all visitors and patients can feel, besides the Healing Environment concept is placed at the main entrance of the building on the grounds that visitors as well as patients can reduce excessive anxiety by placing ponds, vegetation and wooden seats because the concept of Healing Environment has a special relationship with human and environmental psychology.<br>Keywords: Mother and Child Hospital, Healing Environment, Void, Main Entrance, Materials.</p> Rizal Fauzi Rohman, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1277 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PERANCANGAN AL – MAHIB SAMBAS ISLAMIC CENTRE SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1278 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pulau Kalimantan merupakan salah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia dan memiliki julukan sebagai paru paru dunia karena vegetasi yang sangat rindang dan memilki hutan hujan tropis yang luasnya mencapai 40,8 juta hektar. dengan kondisi geografis tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri dalam merancang bangunan tanpa merusak kondisi alam yang sudah ada semestinya. Dalam sebuah perancangan bangunan dibutuhkan konsep yang sesuai dengan tema perancangan agar bangunan yang dibangun dapat tercapai tujuan dan fungsinya. Arsitektur biofilik merupakan konsep yang menawarkan hubungan positif antara manusia juga alam lewat sebuah karya arsitektur. Penerapan Arsitektur Biofilik yakni pada perancangan bangunan Islamic Centre dan bangunan pendukung lainnya, yang bertujuan untuk menyatukan antara manusia dengan alam didalam suatu karya arsitektur. Selain itu Arsitektur Biofilik juga menjelaskan tentang kondisi manusia yang merespon kondisi alam sekitar sehingga tercipta sebuah ekosistem yang baik. Implementasi tema berfokus pada desain ruang luar dan hubungannya dengan beberapa bangunan yang ada di Islamic Centre, juga desain fasad yang terbuka seolah – olah menghubungkan pengguna dengan ruang terbuka, sehingga tujuan awal perancangan dapat terpenuhi.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Islamic centre, Manusia dan Alam</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Kalimantan Island is one of the five largest islands in Indonesia and has the nickname "the lungs of the world" because of its very shady vegetation and tropical rainforest covering an area of 40.8 million hectares. With these geographical conditions, it becomes a challenge in itself to design buildings without destroying the natural conditions that already exist. In a building design, a concept that is in accordance with the design theme is needed so that the building that is built can achieve its goals and functions. Biophilic architecture is a concept that offers a positive relationship between humans and nature through architectural work. The application of Biophilic Architecture is in the design of the Islamic Center building and other supporting buildings, which aim to unite humans and nature in an architectural work. In addition, Biophilic Architecture also explains the human condition that responds to the surrounding natural conditions so as to create a good ecosystem. The implementation of the theme focuses on the design of outdoor spaces and their relationship with several buildings in the Islamic Center; the design of an open facade as if connecting users with open spaces; so that the initial design goals can be fulfilled.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Islamic centre, human with Nature</p> Muhammad Rakha Ilham, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1278 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA NATURE AND HEALTHY BUILDING PADA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1279 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah Sakit diyakini sebagai tempat untuk melayanani kesehatan serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi yang sedang membutuhkan perawatan, juga diyakini sebagi tempat yang memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal, yang akan diberikan pelayanan oleh tenaga ahli dalam bidang kesehatan. Namun, Rumah Sakit tak jarang dipandang negatif oleh masyarakat. Stigma negatif yang dimiliki Rumah Sakit terkadang tidak diperhatikan. Tujuan daru penulisan jurnal ini ialah untuk mewujudkan penyelesaian permasalahan pada rumah sakit. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang dapat meberikan data secara deskriptif yang berupa makna pada penerapan tema yang. Rumah Sakit Ibu dan Anak merupakan bangunan yang akan dirancang dengan penerapan tema Nature and Healthy Building. Tema tersebut diharapkan cocok untuk menghilangkan stigma negatif yang ada.<br>Kata kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Stigma Negatif, Nature, Healthy Building, Pelayanan Kesehatan</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The hospital is believed to be a place to serve health and provide health services for those who are in need of treatment, it is also believed to be a place that provides maximum health services, which will be provided services by experts in the health sector. However, hospitals are often viewed negatively by the public. The negative stigma that hospitals have sometimes goes unnoticed. The purpose of writing this journal is to realize solving problems in hospitals. This writing uses a qualitative descriptive method, which can provide descriptive data in the form of meaning in the application of that theme. The Mother and Child Hospital is a building that will be designed with the application of the theme of Nature and Healthy Building. The theme is expected to be suitable for removing the existing negative stigma.<br>Keywords: Hospital for Women and Children, Negative Stigma, Nature, Healthy Building, Health Services</p> Syiffa Tiara Dewi, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1279 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA RANCANGAN MUSEUM CIKAL PRAKSARA DI GUA PAWON https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1280 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Bandung Barat yang diidalamnya memiliki beragam destinasi wisata yang dikunjungi. Salah<br>satunya situs gua pawon, yang memiliki fosil manusia purba yang bernilai sejarah. Disekitar gua pawon<br>masyarakat masih memiliki adat istiadat yang erat Hal ini berkaitan juga dengan bentuk rumah yang<br>kebanyakan menggunakan gaya arsitektur lokal yaitu arsitektur Sunda dibanding arsitektur modern yang<br>umum digunakan oleh beberapa bangunan. Melalui penemuan fosil manusia purba dari gua pawon<br>dibutuhkan suatu fasilitas yang berfungsi menampilkan dan menampung hasil penemuan sekaligus<br>melestarikannya. Bangunan museum dirasa sangat dibutuhkan sebagai fasilitas utama yang dapat<br>menampung hasil penemuan yang juga dapat bermanfaat sebagai pendukung dari destinasi wisata yang<br>ada di kabupaten Bandung Barat. Perancangan bangunan museum ini mengambil tema pendekatan<br>Arsitektur Neo Vernakular Sunda. Metoda perancangan yang dipakai adalah deskriptif kualitatif melalui<br>metoda ini dilakukan kegiatan mengambil, melihat, dan mengaplikasikan arsitektur lokal Sunda dengan<br>penerapan arsitektur lokal didapatkan melalui penggunaan atap dan elemen tradional Sunda yang dikemas<br>dalam format sesuai dimensi dan tuntutan fungsional yang diperlukan dalam desain. Selain itu olahan atap<br>tradisonal Sunda disesuaikan dengan material modern, sedangkan unsur ornamen diaplikasikan dalam<br>penataan eksterior dan interior. Diharapakan dengan penerapan tema Arsitektur Neo Vernakular Sunda<br>pada museum ini dapat membantu melestarikan arsitektur lokal Sunda yang sesuai dengan konteks<br>perancangan saat ini.<br>Kata kunci: Museum, Arsitektur Neo Vernakular, Situs Gua Pawon. Arsitektur Traditional, Kabupaten<br>Bandung Barat</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>West Bandung Regency which has a variety of tourist destinations to visit. One of them si the Pawon Cave<br>site, which has ancient human fossils of historical value. Around the Pawon Cave, the community still has<br>close customs. This is also related to the shape of the house which mostly uses local architectural<br>styles, namely Sundanese architecture compared to modern architecture which is commonly used<br>by several buildings. Through Thediscovery of ancient human fossils from the Pawon Cave<br>requires a facility that functions to display and accommodate the findings while preserving them.<br>The museum building is felt to be very much needed as the main facility that can accommodate<br>the findings which can also be useful as a supporter of tourist destinations in West Bandung<br>district. The design of this museum building takes the theme of the Sundanese Neo Vernacular<br>Architecture approach. The design method used is descriptive qualitative through this method<br>activities are carried out take, see, and apply local Sundanese architecture with the application of<br>local architecture obtained through the use of roofs and traditional Sundanese elements which<br>are packaged in a format according to the dimensions and functional demands required in the<br>design. In addition, traditional Sundanese roof preparations are adapted to modern materials,<br>while ornamental elements are applied in the exterior and interior arrangement. It is hoped that<br>the application of the Neo Vernacular Sundanese Architecture theme in this museum can help<br>preserve local Sundanese architecture appropriate to the current design context.<br>Keywords: Museum, Neo Vernacular Architecture, Pawon Cave Site, Traditional Architecture,<br>West Bandung Regency.</p> Nazla Ilmania Tsakova, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1280 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MINIMALIS DENGAN KONSEP CONNECTION WITH PRESENCE OF WATER AND NATURE PADA PERANCANGAN ARKHA EYE HOSPITAL DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1281 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Panca Indera merupakan lima elemen penting dalam tubuh manusia yang memungkinkan manusia beraktivitas secara optimal setiap harinya salah satunya adalah mata untuk melihat. Kesehatan mata perlu dijaga karena merupakan hal yang penting dalam beraktivitas. Sayangnya kesehatan mata selalu menurun seiring dengan pertambahan usia. Salah satu cara menjaga kesehatan mata yaitu dengan pemeriksaan secara berkala ke Rumah Sakit Khusus Mata. Fasilitas Rumah Sakit Khusus Mata di Kota Bandung cukup sedikit, maka dari itu perancangan Arkha Eye Hospital sebagai Rumah Sakit Khusus Mata dengan menerapkan tema Arsitektur minimalis dengan konsep Connection With Presence Of Water And Nature yang bertujuan untuk menghilangkan kesan yang kaku dan menyeramkan yang indentik dengan rumah sakit. Menciptakan desain minimalis yang dipadukan dengan unsur alam yang dapat menghilangkan kesan menyeramkan dan kaku pada rumah sakit. Desain bangunan yang menggunakan warna bersih, meminimalisir unsur ornament sehingga menhasilkan suatu keadaan yang sederhana namun tetap elegan dan minimalis. Lalu dipadukan dengan unsur alam yang dapat membantu pengguna agar merasa nyaman dan tenang ktika masuk ke dalam bangunan. Arkha Eye Hospital diharapkan dapat menciptakan desain yang memberi kesan nyaman, aman, tenang, dan menarik bagi pengguna bangunan secara visual dan non-visual.<br>Kata kunci : Arsitektur Minimalist, Elegan, Sederhana, Unsur Alam.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The five senses are the five important elements in the human body that allow humans to perform optimally every day. One of them is the eye to see. Eyes Health needs to be taken care of because it is an important thing in activities. Unfortunately, the health of the eyes always declines with age. One of the ways to maintain the health of M eyes is by having regular check-ups at M-Eyes-Special M-Hospitals. Special Eye Hospital facilities in the city of Bandung are quite few, therefore the design of Arkha Eye Hospital as a Special Eye Hospital by applying a minimalist architectural theme with the concept of Connection With Presence Of Water And Nature which aims to eliminate the stiff and creepy impression that is identical to the house. sick. Creating a minimalist design combined with natural elements that can eliminate the creepy and stiff impression of the hospital. The design of the building that uses clean colors, minimizes the elements of ornament so as to produce a situation that is simple but still elegant and minimalist. Then combined with natural elements that can help users feel comfortable and calm when entering the building. Arkha Eye Hospital is expected to create a design that gives the impression of being comfortable, safe, calm, and attractive to building users both visually and non-visually.<br>Keywords: Minimalist Architecture, Elegant, Simple, Natural Elements.</p> Arsya Maharani Kusumaningrum, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1281 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR NEO-VERNACULAR PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTRE DI KABUPATEN SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1282 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas merupakan salah satu kabupaten yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas merupakan kabupaten yang masih kental dengan budaya kesultanannya dikarenakan pada sejarahnya dahulu pernah berdiri sebuah Kesultanan Sambas, bahkan di Kabupaten Sambas terdapat sebuah masjid tertua di Kalimantan Barat yang bernama Masjid Jami Kesultanan Sambas. Konon awal mula menyebarnya ajaran agama islam ke seluruh wilayah Kabupaten Sambas berawal dari Masjid Kesultanan Sambas tersebut. Maka dengan demikian untuk dapat mempertahankan sebuah culture atau identitas yang sudah ada sejak<br>dahulu tersebut diperlukan sebuah fasilitas sebagai sarana dan kontribusi bagi pemahaman ilmu agama Islam yang lebih mendalam, salah satu fasilitas yang dibutuhkan yaitu sebuah Islamic Centre. Pendekatan perancangan Islamic Centre ini menggunakan tema Arsitektur Neo Vernakular, mengingat Provinsi Kalimantan ini memiliki kekayaan lokal berupa arsitektur lokal. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif dengan implementasi tema Arsitektur Neo Vernakular pada perancangan Islamic Centre ini yaitu pada elemen modern yang dapat terlihat pada beberapa bagian eksterior, interior dan juga beberapa bagian bangunan yang<br>mengacu pada arsitektur tradisional suku dayak yang digabungkan dengan arsitektur modern. Diharapkan dengan penerapan Arsitektur Neo Vernakular pada perancangan Islamic Centre di Kabupaten Sambas ini dapat menjadi sebuah upaya dalam melestarikan arsitektur lokal Kalimantan dan memiliki kontekstual dengan lingkungan.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo Vernakular, Islamic Centre, Kalimantan Barat</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is one of the regencies located in West Kalimantan Province. Sambas Regency is a regency that is still thick with the culture of its sultanate because in its history there was once a Sambas Sultanate, even in Sambas Regency there is an oldest mosque in West Kalimantan called the Jami Mosque of the Sambas Sultanate. It is said that the beginning of the spread of Islamic religious teachings throughout the Sambas Regency began with the Sambas Sultanate Mosque. Thus, to be able to maintain a culture or identity that has existed for a long time, a facility is needed as a means and contribution to a deeper understanding of Islamic science, one of the facilities needed is an Islamic Center. This Islamic Center design approach uses the theme of Neo Vernacular Architecture, considering that Kalimantan Province has local wealth in the form of local architecture. The method used is a qualitative descriptive method with the implementation of the theme of Neo Vernacular Architecture in the design of this Islamic Center, namely in modern elements that can be seen in several parts of the exterior, interior and also some parts of the building that refer to the traditional architecture of the Dayak tribe combined with modern architecture. It is hoped that the application of Neo Vernacular Architecture to the design of the Islamic Center in Sambas Regency can be an effort to preserve the local architecture of Kalimantan and have contextual with the environment.<br>Keywords: Neo Vernacular Architecture, Islamic Centre, West Kalimantan</p> Rizky Mi’raj Furadana, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1282 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ETNIK NUSANTARA MODEREN PADA RANCANGAN KHASUN ISLAMIC CENTER https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1283 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Sambas merupakan kota di Kalimantan Barat dengan budaya dan tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat. Salahsatu cara melestarikan sebuah budaya ialah dengan melestarikan keberadaan rumah adat. Tujuan pelestarian budaya adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya yang ada dalam tradisi, meskipun mengalami proses perubahan zaman. Konsep bangunan yang menerapkan budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, dan religi tanpa meninggalkan kesan modern merupakan upaya melestarikan kebudayaan untuk saat ini. namun, perlu dipertimbangkan dalam penerapannya ke bangunan dengan fungsi khusus seperti<br>Islamic center karena ada beberapa hal yang bertentangan dengan fungsi bangunan tersebut, oleh sebab itu perancangan Islamic center ini mengambil tema Etnis Nusantara Modern, sebuah tema yang memadukan Arsitektur Kedaerahan dengan gaya Arsitektur saat ini seperti bentuk atap, motif khas dan material bangunan. Selain menerapkan tema dan konsep bangunan, perlu diperhatikan bahwa Kalimantan merupakan pulau di indonesa yang menjadi paru-paru dunia sehingga perlu dipertimbangkan untuk aspek lingkungan dalam perencanaannya. Mayoritas masyarakat Kalimantan barat memeluk agama Islam karena itu keberadaan Islamic<br>Center sangat dibutuhkan disana. Dengan adanya Islamic Center ini, diharapkan menyediakan fasilitas – fasilitas bagi masyarakat muslim untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan agama islam.<br>Kata kunci: Kalimantan Barat, Islamic Center, Arsitektur, Etnis Nusantara Modern</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas is a city in West Kalimantan with a rich culture and traditions that are still preserved by the community. One way to preserve a culture is to preserve the existence of traditional houses. The purpose of cultural preservation is to preserve the noble values of culture that exist in tradition, even though they are undergoing a process of changing times. The concept of a building that applies culture, mindset, belief, layout, and religion without leaving a modern impression is an effort to preserve culture for now. However, it needs to be considered in its application to buildings with special functions such as Islamic centers, because there are several things that are contrary to the function of the building. Therefore, the design of this Islamic center takes the theme of modern Indonesian ethnicity, a theme that combines local architecture with current architectural styles such as the shape of the roof, distinctive motifs, and building materials. In addition to applying building themes and concepts, it should be noted that Kalimantan is an island in Indonesia that is the lungs of the world, so it is necessary to consider environmental aspects in its planning. The majority of the people of West Kalimantan embrace Islam, and because of that, the existence of an Islamic center is needed there. With this Islamic Center, it is hoped that it will provide facilities for the Muslim community to carry out activities related to the Islamic religion.<br>Keywords: West Kalimantan, Islamic Center, Architecture, Ethnic Archipelago Modern</p> Aria Kusuma Rahmat Munajat, Meta Riany, Ardhiana Muhsin Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1283 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENDEKATAN PLACE ATTACHMENT PADA PERANCANGAN, RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1284 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pertumbuhan penduduk di Kota Bandung meningkat sekitar 0.20% pertahunnya, dan dalam satu dasawarsa terakhir jumlah penduduk usia anak dalam rentang 0-14 tahun di kota bandung berada di kisaran 500-600 ribu orang, sehingga diperlukan Rumah Sakit khusus Ibu dan Anak. Rumah Sakit khusus Ibu dan Anak merupakan fasilitas kesehatan yang menampung kegiatan untuk mengenali maupun menentukan penyakit, sebab akibatnya, pemeriksaan, pengobatan, rawat inap ataupun rawat jalan. Di Indonesia sudah ada upaya dari rumah sakit menciptakan suasana lingkungan yang ramah dan nyaman, bahkan beberapa rumah sakit dengan arsitektur dan dekorasi interior yang hampir setara dengan pusat perbelanjaan atau hotel kelas atas. Namun bagi anak-anak, kemewahan bukanlah sesuatu yang bisa menenangkan mereka dari rasa sakit, takut akan jarum suntik, atau bahkan pahitnya obat. Oleh sebab itu, Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak ini dalam perancangannya harus menciptakan kesan nyaman,dan aman. Penerapam Futuristik pada perancangan rumah sakit khusus ibu dan anak diharapkan dapat menciptakan suatu lingkungan yang fungsional, nyaman, aman, dan sehat.<br>Kata kunci: Ibu dan Anak, Rumah Sakit Khusus, Perancangan, Place Attachment.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Population growth in the city of Bandung is increasing by around 0.20% per year, and in the last decade the number of children aged 0-14 years in the city of Bandung is in the range of 500-600 thousand people, so a special hospital for mothers and children is needed. Mother and Child Special Hospital is a health facility that accommodates activities to identify and determine disease, its causes and consequences, examination, treatment, inpatient or outpatient. In Indonesia, there have been efforts from hospitals to create a friendly and comfortable environment, even some hospitals with architecture and interior decorations that are almost equivalent to shopping centers or high-end hotels. But for children, luxury is not something that can soothe them from pain, fear of needles, or even the bitterness of medicine. Therefore, in its design, this Special Hospital for Mothers and Children must create the impression of being comfortable, and safe. The application of Futuristics in the design of a special hospital for mothers and children is expected to create an environment that is functional, comfortable, safe, and healthy.<br>Keywords: Mother and child, Special Hospital, Design, Place Attachment.</p> Wuwun Solehudin, Dian Duhita Permata, Shirli Putri Asri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1284 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA HEALING ENVIRONMENT PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1285 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota Bandung, pada 2021 menjadi kota terpadat di Jawa Barat. Kota Bandung yang memiliki luas wilayah 166,59 km dengan kepadatan penduduk di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat tersebut sebanyak 15.17 ribu jiwa per km. Sebagai kota dengan angka kepadatan penduduk tertinggi di Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung didominasi dengan banyaknya rumah penduduk dan bangunan komersil sehingga berkurangnya taman-taman kota dan ruang terbuka hijau sebagai lingkungan yang berperan penting dalam menjaga kesehatan. Selain permasalahan kurang nya taman-taman dan ruang terbuka di Kota Bandung terdapat permasalahan yang banyak dirasakan oleh pasien atau masyarakat yaitu terkait psikologis terutama pasien anak-anak yang beranggapan bahwa rumah sakit dan lingkunganya terkesan menakutkan.Berdasarkan buku Health and Human Behavior menujukan lingkungan berperan sangat besar dengan presentase 40%, faktor medis 10%, kesembuhan oleh faktor genetik 20 dan faktor lainya sebanyak 30%. Dengan pertimbangan masalah-masalah tersebut dalam perancangan dan perencanaan rumah sakit ibu dan anak di Kota Bandung ini akan menggunakan konsep Healing Environment dimana lingkungan dapat membantu proses penyembuhan pasien secara optimal, dalam pengoprasiannya rumah sakit ibu dan anak ini akan menjadi solusi bagi pasien, rumah sakit yang berorientasi pasien ini dapat membantu proses penyebuhan menjadi lebih cepat.<br>Kata kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Healing Environment, Kota Bandung</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The city of Bandung, in 2021, will become the most populous city in West Java. The city of Bandung which has an area of 166.59 km with a population density in the capital city of West Java Province as many as 15.17 thousand people per km. As a city with the highest population density in West Java Province, Bandung City is dominated by many residential houses and commercial buildings, resulting in reduced urban parks and green open spaces as an environment that plays an important role in maintaining health. In addition to the problem of the lack of parks and open spaces in the city of Bandung, there are problems that are often felt by patients or the community, namely psychological ones, especially pediatric patients who think that hospitals and their environment seem scary. According to the book Health and Human Behavior states a very large role in helping accelerate the healing process for patients, namely 40% caused by environmental factors, 10% by medical factors, 20% genetic factors and 30% by other factors. Considering these problems in the design and planning of this maternal and child hospital in Bandung City, it will use the concept of a Healing Environment where the environment can help the patient's healing process optimally, in its operation this maternal and child hospital will be a solution for patients, hospitals This patient-oriented approach can help speed up the healing process.<br>Keywords: Mother and child hospital, Healing Environment, Bandung</p> Muhammad Hendru Permana, Meta Riany Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1285 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK KELAS B DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1286 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah sakit ibu dan anak merupakan fasilitas layanan kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan kandungan, kebidanan, dan kesehatan anak umur 0 – 14 tahun. Rumah sakit pada umumnya bernuansa seram dan tidak menyenangkan yang menyebakan lingkungan di dalam rumah sakit sulit membantu pasien pulih secara psikis. Maka dari itu rumah sakit ibu dan anak Atmaja di jl. Kebonjati No.152 Bandung dirancang dengan penerapan “Healing environment”. Hal ini untuk membantu memulihkan pasien secara psikis tidak hanya secara fisik dengan cara tiga pendekatan yaitu pendeketan alam, psikologis, panca indera yang terdiri dari, pengelihatan, penciuman, peraba, perasa, dan pendegaran. Metode yang dipakai dalam rancangan ini adalah psikologis kualitatif dengan cara melakukan pengamatan psikologis pasien secara mendalam. Penggunaan tema diimplementasikan dengan adanya fasilitas taman pada interior dan eksterior rumah sakit serta penambahan taman outdoor di setiap lantai. Harapan melalui penerapan tema tersebut dalam perancangan RSIA adalah untuk mempercepat proses pemulihan pasien secara psikis.<br>Kata kunci: Healing Environment, Ibu dan anak, Rumah Sakit</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>The mother and child hospital is a public health facility that deals with obstetrics, midwifery, and the health of children aged 0-14 years. Hospitals are generally scary and unpleasant, which causes the environment in the hospital to be unable to help patients recover psychologically. Therefore, the Atmaja mother and child hospital on Jl. Kebonjati No. 152 Bandung is designed with the application of a healing environment to help restore patients psychologically, not only physically, This is to help patients recover psychologically not only physically by means of three approaches, namely natural, psychological, and five-sense approach which consist of sight, smell, touch, taste, and hearing. The method used in this design is qualitative psychology by conducting in-depth psychological observations of patients. The theme is implemented by providing garden facilities on the interior and exterior of the hospital as well as the addition of an outdoor garden on each floor.the hope is, through the application of this theme in the design of the RSIA, patients psychological recovery process can be sped up.<br>Keywords: Healing environment, Mother and Child, Hospital</p> Evananda Nadhira Rahma Pertiwi, Utami Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1286 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA RS CVD KEBONJATI DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1287 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pada tahun 2020, Kota Bandung memiliki angka kematian yang tinggi terhadap penyakit cardiovascular jika dibandingkan dengan penyakit lainnya. Merespon tingginya angka kematian penyakit cardiovascular, diperlukan adanya fasilitas kesehatan khusus yang menangani penyakit tersebut, yaitu rumah sakit cardiovascular. RS CVD Kebonjati bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Bandung dan mengurangi angka kematian. RS CVD Kebonjati dirancang dengan menerapkan tema healing architecture. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi psikis pengguna untuk mengurangi tingkat ketegangan,stress, dll. Penerapan tema pada bangunan RS CVD Kebonjati dapat terlihat pada desain bangunan yang mengandalkan alam dengan membuat suatu area hijau berupa plaza dan healing garden, memanfaatkan bukaan cahaya pada bangunan sebagai media masuknya cahaya matahari ke dalam bangunan dan memberikan view keluar bangunan, dan wayfinding bangunan yang mudah bagi pengguna. Dengan penggunaan tema ini diharapkan agar pengguna dapat merasakan kenyamanan selama berada di rumah sakit.<br>Kata kunci: Bukaan Cahaya, Healing Garden, Wayfinding</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>In 2020, the city of Bandung has a high mortality rate for cardiovascular disease when compared to other diseases. Responding to the high mortality rate of cardiovascular disease, it is necessary to have a special health facility that handles the disease, namely cardiovascular hospital. CVD Kebonjati Hospital aims to meet the needs of the people at Bandung City and reduce the mortality rate. CVD Kebonjati Hospital was designed by applying the healing architecture theme. This is done by considering the user's psychological condition to reduce the level of tension, stress, etc. The application of the theme to the CVD Kebonjati Hospital building can be seen in the design of buildings that rely on nature by creating a green area in the form of a plaza and a healing garden, utilizing light aperture in the building as a medium for sunlight entering the building and providing views out of the building, and easy wayfindingfor buildings users. With the use of this theme, it is hoped that users can feel comfortable while in the hospital.<br>Keywords: Healing Garden, Light Aperture, Wayfinding</p> Adita Handayani, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1287 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN KONSEP TANGGAP BENCANA GEMPA PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1288 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Menurut data dari BNPB Kota Bandung merupakan salah satu dari banyak daerah di Indonesia dengan potensi bencana gempa yang tinggi, bangunan yang berada di area rawan bencana gempa seoerti Bandung sebaiknya menggunakan konfigurasi struktur yang berbeda dari bangunan konvesional untuk menahan gaya lateral dari gempa bumi. Rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah adalah salah satu bangunan yang paling penting dalam upaya melindungi penggunanya, bangunan seperti haruslah dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana gempa, oleh karena itu konsep perancangan yang digunakan pada perencaan rumah sakit ini adalah konsep bangunan tanggap bencana gempa. Dalam perencanaannya, struktur bangunan yang direncanakan didasarkan pada simulasi menggunakan software Resist Ver 4.0.0.2475 dimana konfigurasi struktur akan disimulasikan terhadap kekuatan gempa dan beban angin pada suatu lokasi, struktur yang digunakan juga dtunjukan sebagai tema arsitektural, menunjukan elemen penahan gaya gempa pada pengguna bangunan sebagai fasad bangunan. Diharapkan dengan diterapkannya konsep ini bangunan dapat melindungi penggunanya dari kemungkinan terjadinya bencana gempa, menambah umur struktur bangunan, serta menunjukan kemungkinan struktur tahan gempa sebagai elemen arsitektural.<br>Kata kunci: Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh Darah, Tanggap Bencana Gempa, Kota Bandung</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>According to data from the BNPB, Bandung City is one of many areas in Indonesia with a high earthquake disaster potential, buildings located in earthquake-prone areas such as Bandung should use a different structural configuration from conventional buildings to withstand lateral forces from earthquakes. A heart and blood vessel hospital is one of the most important buildings when it comes to protection of its users, such a building must be able to anticipate the possibility of an earthquake disaster, therefore the design concept used in the planning of this hospital is earthquake resistant building. In its planning, the structure is based on a simulation using Resist Ver 4.0.0.2475 software where the configuration of the structure will be simulated against earthquake strength and wind loads at a particular location, the structure used is also shown as an architectural theme, showing earthquake-resistant elements on the building as facade. It is hoped that with the implementation of this concept the building can protect its users from the possibility of an earthquake disaster, increase the age of the building’s structure, and show the possibility of earthquake-resistant structures as architectural elements.<br>Keywords: Heart and Blood Vessel Hospital, Earthquake Resistant, Bandung</p> Abdurrahman Attamimi, Meta Riany Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1288 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTER SAMBAS https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1289 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Sambas merupakan wilayah kabupaten di provinsi Kalimantan barat, dengan penduduknya yang rata rata beragama islam. Kebutuhan akan ruang untuk melakukan kegiatan dan beribadah sangatlah diperlukan. Dibangunnya Islamic Center ini dapat menjadi sebuah loncatan besar bagi segala aspek pembangunan infrastruktur, dan juga dapat menjadi sebuah ikon bagi Kabupaten Sambas. Mengetahui hal ini menjadi sebuah pertimbangan dalam pemilihan tema untuk bangunan ini, karena dapat menjadi ikon dan daya Tarik bagi masyarakat sekitar maupun luar kota. Oleh karena itu ini menjadi sebuah potensi untuk menerapkan tema yang menjadi ciri khas dari Sambas, salah satunya yaitu budayanya. Neo vernakular menjadi salah satu tema atau konsep yang sangat cocok untuk diterapkan, neo vernakular merupakan sebuah konsep penggabungan antara arsitektur tradisional dan modern. Banyak sekali aspek budaya yang dapat diterapkan pada bangunan ini, untuk perancangan ini konsep yang diambil yaitu mengacu kepada rumah tradisional khas Kalimantan barat yaitu rumah betang radakng. Rumah betang radakng memiliki ciri khas seperti rumah panggung, atap dan ukiran ornament dindingnya, dan masih teerdapat beberapa ciri khas lainnya.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo-Vernakular, Rumah Betang, Sambas, Islamic Center</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas is a district in the province of West Kalimantan, with an average Muslim population. The need for space to carry out activities and worship is very necessary. The construction of this Islamic Center can be a big step for all aspects of infrastructure development, and can also become an icon for Sambas Regency. Knowing this is a consideration in choosing a theme for this building, because it can become an icon and attraction for the surrounding community and outside the city. Therefore, this becomes a potential to apply the theme that is characteristic of Sambas, one of which is culture. Neo vernacular is a theme or concept that is very suitable to be applied, neo vernacular is a concept that combines traditional and modern architecture. There are so many cultural aspects that can be applied to this building, for this design the concept taken is referring to a traditional house typical of West Kalimantan, namely the betang radakng house. The betang radakng house has characteristics such as houses on stilts, roofs and carvings of wall ornaments, and there are still several othercharacteristics.<br>Keywords: Architecture Neo-vernacular, Betang House, Sambas, Islamic Center</p> Muhammad Gerardi Maula, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1289 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA SALUTOGENIC PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG DI KAWASAN KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1290 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Pasien penyakit jantung di indonesia meningkat, sekitar 2.650.340 orang atau 1,5% sesuai diagnosa dokter, sekitar 0,5% nya itu berada di Jawa Barat atau sekitar 160.812 orang sehingga dibutuhkan Rumah Sakit Khusus Jantung untu meredam angka kenaikannya. Rumah sakit khusus jantung merupakan rumah sakit yang focus penyembuhannya secara general menangani, mengobati dan membantu pasien penyakit jantung. Jantung meruapakan organ inti manusia makan pasien yang terkena penyakit jantung cenderung stress akan penyakitnya. Dari total proses penyembuhan, sekitar 40% faktor lingkungan menjadi suatu hal yang berperan besar dalam proses penyembuhan pada pasien. Perancangan Rumah Sakit Jantung ini memprioritaskan penyembuhan pasien penyakit jantung dengan prinsip salutogenic, suatu tema yang mampu memprioritaskan penyembuhan pasien melalui suasana alam yang dapat dirasakan langsung oleh indra dalam menghadapi sumber-sumber stress. Prinsip salutogenic dapat di implementasikan kedalam arsitektur sebagai Comprehensibility: memberikan persepsi pada pasien dengan cara memunculkan testur dan membuat material yang digunakan terekpost, Manageability: melakukan kontrol lingkungan pada dirinya secara menyeluruh, dan Meaningfulness: Memberikan ruang untuk secara estetika sehingga pasien bisa berinteraksi dengan mahluk hidup di sekitarnya.<br>Kata kunci: Jantung, Rumah Sakit Khusus Jantung, Penyembuhan, Salutogenic.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Heart disease patients in Indonesia are rising, with roughly 2,650,340 persons or 1.5% diagnosed, with about 0.5% in West Java or around 160.812 people requiring a Special Hospital before the pace of rise is considered. A particular heart hospital is one that concentrates on general healing, treating, and assisting individuals with heart problems. Because the heart is a highly personal organ, people with heart disease are often anxious about their condition. Environmental influences have a significant part in the patient's healing process, accounting for around 40% of the whole healing process. The design of this Heart Hospital promotes heart disease healing using the salutogenic principle, a theme capable of prioritizing the patient's recovery through a natural process. The salutogenic principle can be implemented into the following architecture. Comprehensibility: assists the patient's perception process. by showing the textures and materials used, Manageability: exercising control over the environment as a whole, and Meaningfulness: increasing the value of the environment on the patient, providing a space of aesthetic value, perhaps even interacting with other living beings.<br>Keywords: Cardiac, Cardiac Specialty Hospital, Healing, Salutogenic.</p> Lukman Nulhaqim, Tecky Hendrarto Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1290 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA WELLNESS ARCHITECTURE PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1291 <p><strong>Abstrak</strong><br>Kenyamanan bangunan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sebuah bangunan. Kenyamanan tidak hanya dapat dirasakan secara fisik, tetapi juga secara emosional oleh para pengguna. Pada perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak, penerapan tema Wellness Architecture dinilai dapat menciptakan kenyamanan terutama bagi ibu yang akan melahirkan dan anak balita. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, makalah ini akan memaparkan penerapan desain yang memperhatikan kenyamanan fisik dan emosional bagi pengguna bangunan. Penerapan tema Wellness Architecture pada perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak diharapkan akan membantu memberikan kenyamanan, karena tema Wellness Architecture memiliki prinsip bangunan dapat menenangkan dan mengurangi kecemasan pada pengguna Rumah Sakit Ibu dan Anak, sehingga dapat mengurangi masa rawat inap pasien. Penerapan tema ini terlihat pada penggunaan elemen yang tidak kaku, seperti bentuk-bentuk lengkung yang diterapkan pada fasad bangunan. Selain itu, digunakan warna-warna netral, seperti warna coklat muda, peach, dan sage sehingga menjadi satu kesatuan. Diharapkan penerapan elemen-elemen tersebut dapat menciptakan kesan nyaman secara visual saat pertama<br>datang ke Rumah Sakit Ibu dan Anak, serta menghilangkan kecemasan. Diharapkan tema Wellness Architecture dapat diterapkan pada bangunan-bangunan serupa untuk memberikan kesan aman dan nyaman yang dapat membantu memulihkan kesehatan pasien.<br>Kata kunci: Kenyamanan, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Wellness Architecture</p> <p><strong>Abstract</strong><br>The comfort of the building is one aspect that needs to be considered in planning a building. Comfort can not only be felt physically, but also emotionally by the users. In the design of the Mother and Child Hospital, the application of the Wellness Architecture theme is considered to be able to create comfort, especially for mothers who are about to give birth and toddlers. By using a qualitative<br>descriptive method, this paper will describe the application of a design that pays attention to physical and emotional comfort for building users. The application of the Wellness Architecture theme in the design of the Mother and Child Hospital is expected to help provide comfort, because the Wellness Architecture theme has a building principle that can calm and reduce anxiety for users of the Mother and Child Hospital, so as to reduce the patient's hospitalization. The application of this theme can be seen in the use of elements that are not rigid, such as curved forms applied to the facade of the building. In addition, neutral colors are used, such as light brown, peach, and sage so that they become one unit. It is hoped that the application of these elements can create a visually comfortable impression when you first come to the Mother and Child Hospital, and eliminate anxiety. It is hoped that the Wellness Architecture theme can be applied to similar buildings to give a safe and comfortable impression that can help restore patient health.<br>Keywords: Comfort, Mother and Child Hospital, Wellness Architecture</p> Dinda Dwi Melani, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1291 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR BIOFILIK PADA RANCANGAN RUMAH SAKIT MATA ‘NETRA’ DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1292 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Desain rumah sakit seringkali mengedepankan penyembuhan dari segi fisik, namun mengesampingkan dari segi psikis.kesan yang timbul ketika berada dirumah sakit cukup berpengaruh terhadap kondisi pasien terutama saat dalam masa penyembuhan. Pada dasarnya manusia cenderung untuk dapat berhubungan dengan alam yang bisa memberikan dampak positif secara psikologis maupun fisik. Melihat dari tingginya tingkat kebutaan di Indonesia terutama di Jawa Barat, maka diperlukannya pembangunan rumah sakit mata yang baik. Penerapan arsitektur biofilik pada rumah sakit adalah suatu hal yang akan sangat berdampak baik dikarenakan proses penyembuhan pasien sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pada rumah sakit ini terdapat ruang terbuka hijau di tengah bangunan yang merupakan salah satu dari prinsip Arsitektur Biofilik. Ruang terbuka hijau memberikan hubungan visual dengan alam dan dapat menjadi lubang agar sinar matahari dapat masuk ke dalam bangunan. Rumah sakit ini pun menjadi salah satu rumah sakit yang memberikan pengalaman baru karena penerapan arsitektur biofilik di Kota Bandung.Dengan penerapan tema ini diharapkan kecemasan pasien terhadap rumah sakit dapat berkurang dan mempercepat masa penyembuhan pasien dari segi psikologis maupun fisik.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Rumah Sakit, Penyembuhan</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Hospital design often prioritizes healing from a physical point of view, but excludes from a psychic point of view.the impression that arises when in the hospital is quite influential on the patient's condition, especially during the healing period. Basically, humans tend to be able to relate to nature which can have a positive impact psychologically and physically. Judging from the high level of blindness in Indonesia, especially in West Java, it is necessary to build a good eye hospital. The application of biophilic architecture in hospitals is something that will have a very good impact because the patient's healing process is greatly influenced by the environment. In this hospital, there is a green open space in the middle of the building which is one of the principles of Biophilic Architecture. Green open space provides a visual connection with nature and can be a hole so that sunlight can enter the building. This hospital is also one of the hospitals that provides new experiences because of the application of biophilic architecture in the city of Bandung. With the application of this theme, it is hoped that patient anxiety towards the hospital can be reduced and accelerate the patient's healing period in terms of psychological and physical aspects.<br>Keywords: biophilic architecture, hospital, healing</p> Fikri Maulana, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1292 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR ISLAM PADA RANCANGAN SAMBAS ISLAMIC CENTER https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1293 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Islam di Indonesia adalah agama dengan penyebaran yang beragam berawal dari dakwah, perdagangan, hingga pernikahan. Perancangan Sambas Islamic Center merupakan solusi bagi permasalahan untuk mewadahi umat muslim. Kabupaten Sambas merupakan bagian dari provinsi Kalimantan Barat yang digunakan sebagai tempat pembangunan Islamic center. Lahan di Kabupaten Sambas memiliki kendala dan potensi tersendiri, dan dengan kontur tanah yang cukup datar memungkinkan untuk mendirikan<br>Islamic center sesuai dengan solusi desain yang diterapkan. Perancangan ini menerapkan tema arsitektur Islam untuk menciptakan masyarakat lokal maupun nonlokal agar taat terhadap Allah S.W.T. Terkait tema terdapat enam dari delapan prinsip pengingatan Utaberta yang diterapkan, meliputi prinsip pengingatan terhadap tuhan, prinsip pengingatan pada ibadah &amp; perjuangan, prinsip pengingatan akan kerendahan hati, prinsip pengingatan terhadap toleransi kultural, prinsip pengingatan akan kehidupan<br>berkelanjutan, dan prinsip kehidupan akan keterbukaan. Prinsip tersebut akan diterapkan pada perencanaan tapak, tata masa bangunan, dan tampilan bangunan. Perancangan Sambas Islamic Center menggunakan metode kualitatif, khususnya menangani masalah dengan mengumpulkan informasi tentang arsitektur Islam dan Islamic center serta data-data yang berkaitan dengan proyek. Perancangan ini diharapkan menjadi fasilitas untuk umat muslim dalam menjalankan ibadah, meningkatkan kepatuhan manusia terhadap Allah S.W.T., menjaga lingkungan dengan baik sebagaimana alam sepenuhnya milik Allah S.W.T., serta meningkatkan sosial dan ekonomi masyarakat sekitarnya.</p> <p>Kata kunci: Arsitektur Islam, Islam, Islamic Center, Kabupaten Sambas</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Islam in Indonesia is a religion with a diverse spread starting from da'wah, trade to marriage. The design of the Sambas Islamic Center is a solution to the problem of accommodating Muslims. Sambas Regency is part of the province of West Kalimantan which is used as a place for the construction of an Islamic center. The land in Sambas Regency has its own constraints and potentials and with a fairly flat land contour it is possible to establish an Islamic center according to the applied design solutions. This design applies the<br>theme of Islamic architecture to create local and non-local communities to obey Allah S.W.T. Regarding the theme, there are six of the eight principles of remembering Utaberta that are applied, including the principle of remembering God, the principle of remembering worship &amp; struggle, the principle of remembering humility, the principle of remembering cultural tolerance, the principle of&nbsp; remembering sustainable life, and the principle of openness. These principles will be applied to site planning, building mass planning, and building appearance. The design of the Sambas Islamic Center uses qualitative methods, specifically dealing with problems by collecting information about Islamic architecture and Islamic center as well as data related to the project. This design is expected to be a facility for Muslims in carrying out worship, increasing human obedience to Allah S.W.T. maintain the environment properly as<br>nature fully belongs to Allah S.W.T., as well as improve the social and economic environment of the surrounding community.<br>Keywords: Islamic Architecture, Islam, Islamic Center, Sambas District</p> Muhammad Ahfadz Hikam, Nur Laela Latifah Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1293 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR INDUSTRIAL PADA RANCANGAN SORA NO HOSHI MOTHER CHILD HOSPITAL https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1294 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Summarecon Bandung merupakan wilayah Permukiman yang berlokasi di Gedebage kota Bandung, berlokasi di daerah Gedebage yang dikenal dengan Kawasan industry nya yang memfokuskan ke dalam jasa pengantaran barang-barang hasil bumi dan sebagai nya.penerapan gaya industrial pada rancangan rumah sakit di dasari oleh bangunan pabrik-pabrik yang berada di daerah gedebage, bangunan pabrik tersebut memiliki warna yang gelap dan bangunan pabrik itu pun menyebar di daerah gedebage di sekitar Summarecon,serta fasilitas kesehatan seperti rumah sakit pun belum ada di Kawasan Summarecon Bandung dan harus menuju ke jalan Soekarno-Hatta untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit, rancangan rumah sakit ini bertujuan untuk membuka fasilitas kesehatan untuk masyarakat di summarecon dan sekitar nya, serta menghilangkan kesan menyeramkan dari rumah sakit dengan penerapan arsitektur industrial.Untuk merancang rumah sakit dengan pendekatan gaya industrial dengan cara pendekatan dengan penampilan bangunan pabrik yang ada di sekitar Gedebage dan mengimplementasikan nya kedalam design rumah sakit,hasil rancangan rumah sakit berupa penerapan beberapa elemen industrial di beberapa komponen bangunan seperti di beberapa area landscape, penerapan warna pada fasad exterior dan interior dan beberapa furniture di beberapa area yang menggunakan bahan unfurnished, dan penggunaan bahan daur ulang sepeti kursi taman yang berada di area landscape.<br>Kata kunci: Summarecon Bandung,GedeBage, Arsitektur Industrial, Rumah Sakit, Kesehatan</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Summarecon Bandung is a residential area located in Gedebage, Bandung city, located in the Gedebage area which is known for its industrial area which focuses on delivering agricultural goods and so on. The application of industrial style in hospital design is based on factory buildings. The factory is located in the gedebage area, the factory building has a dark color and the factory building has spread in the gedebage area around Summarecon, and health facilities such as hospitals do not yet exist in the Summarecon area of Bandung and have to go to Soekarno<br>-Hatta road to get services in hospitals, the design of this hospital aims to open health facilities forthe community in summarecon and its surroundings, as well as eliminate the scary impression ofthe hospital by applying industrial architecture. To design a hospital with an industrial styleapproach by approaching the appearance of a factory building around Gedebage and implementit into the design of the hospital, the results of the hospital design are the application of severalindustrial elements in several building components such as in some landscape areas, theapplication of color on the exterior and interior facades and some furniture in some areas thatuse unfurnished materials, and the use of recycled materials such as garden chairs in thelandscape area.<br>Keywords: Summarecon Bandung, GedeBage, Industrial Architecture, Hospital, Health</p> Farhan Sa’adilah Munawar, Theresia Pynkyawati Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1294 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KALBU DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1295 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Bandung merupakan kota besar di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk yang paling banyak di provinsi tersebut. Angka pertumbuhan penduduknya yang meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa angka kelahiran bayi juga semakin bertambah. Oleh karena itu, perencanaan fasilitas kesehatan yang khusus melayani ibu dan anak sangat diperlukan, salah satu bentuknya adalah rumah sakit khusus kelas B yaitu Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kalbu. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah<br>deskriptif kualitatif. Bangunan rumah sakit umumnya memiliki desain yang kaku sehingga seringkali pasien anak merasa kurang nyaman. Hal tersebut dapat diantisipasi melalui perencanaan yangmenerapkan tema arsitektur modern. Tema ini menyesuaikan dengan tren desain saat ini. Arsitektur modern juga sangat mengutamakan fungsi dalam bangunan dibandingkan bentuknya<br>sehingga sesuaiuntuk perencanaan rumah sakit dimana memiliki banyak kebutuhan ruang yang kompleks dan sangat<br>memperhatikan zoning dan sirkulasi dalam bangunan. Pada RSIA Kalbu arsitektur modern ini diterapkan pada pengaturan sirkulasi tapak, pengaturan zona dan sirkulasi dalam bangunan, perencanaan bentuk massa sesuai kebutuhan dan fungsi ruang dalam, pengolahan fasad, dan pemilihan material baik pada fasad maupun interior. Perencanaan bangunan rumah sakit ibu dan anak ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan wanita dan anak-anak khususnya di Kecamatan Andir dan umumnya di<br>Kota Bandung.<br>Kata kunci: Arsitektur Modern, Fungsi, Rumah Sakit, Rumah Sakit Ibu dan Anak</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Bandung is a big city in West Java Province with the largest population in the province. The population growth rate that increases every year shows that the number of baby births is also increasing. Therefore, planning for health facilities that specifically serve mothers and children is very necessary, one of which is a special class B hospital, namely the Mother and Child Hospital (RSIA) Kalbu. The data collection method used is descriptive qualitative. Hospital buildings generally have a rigid design so that pediatric patients<br>often feel uncomfortable. This can be anticipated through planning that applies the theme of modern architecture. This theme adapts to the current design trends. Modern architecture also places great emphasis on function in the building rather than its shape, making it suitable for hospital planning which has many complex space requirements and pays great attention to zoning and circulation within the building. At RSIA Kalbu, modern architecture is applied to setting the circulation of the site, setting the zone and circulation in<br>the building, planning the shape of the mass according to the needs and functions of the inner space, processing the facade, and selecting materials for both the facade and interior. The planning of the building for the mother and child hospital is expected to meet the needs of women's and children's health services, especially in Andir District and generally in the city of Bandung<br>Kata kunci: Function, Hospital, Modern Architecture, Mother and Child Hospital</p> Daisy Retnoayu Kusumaningrini, Nur Laela Latifah Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1295 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN SUSTAINABLE ARCHITECTURE PADA PERANCANGAN KAWASAN MUSEUM PURBAKALA KARST PAWON DI KABUPATEN BANDUNG BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1296 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki sejarah dalam hal peradaban di Indonesia, Situs Gua Pawon menjadi salah satunya. Penemuan di Situs Gua Pawon berupa kerangka manusia purba merupakan salah satu bukti adanya peradaban lamayang tinggal pada daerah ini. Saat ini kawasan gua pawon sedang dilakukan pengembangan terhadap Cagar Budaya, dan tidak adanya tempat untuk menyimpan penemuan tersebut makapemilihan lokasi perancangan Kawasan Museum Purbakala Karst Pawon didasarkan padabeberapa hal tersebut. Terletak di kawasan sub urban yang dimana banyak terdapatperkebunan maka perlunya metode perancangan yang memperhatikan lingkungan sekitar. Sustainable architecture yang bertujuan agar pengunjung merasakan healthy living dinilai tepat untuk diterapkan pada kawasan ini yaitu pada kawasan wisata sekaligus rekreasi yang<br>bersifat edukatif serf a ditunjang oleh fasilitas pendukung lain agar pengguna merasakan ruang yang sehat dengan memperhatikan kesehatan penggunanya. Diharapkan penerapan konsep ini dapat memberikan akses kepada seluruh pengunjung dan memberikannya kenyamanan baik jasmani maupun rohani serf a tidak lupa dapat mengurangi penggunaan energi pada kawasan.<br>Kata kunci: Gua Pawon, Kabupaten Bandung Barat, Museum Purbakala, Sustainable Architecture</p> <p>ABSTRACT<br>West Bandung District is one area that has a history of civilization in Indonesia, the Pawon<br>Cave Site is one of them. The discovery at the Pawon Cave Site in the form of an ancient human<br>skeleton is one proof of the existence of an old civilization that lived in this area. Currently the<br>Pawon Cave area is being developed for the Cultural Conservation, and there is no place to<br>store the discovery, so the selection of the design location for the Pawon Karst Archaeological<br>Museum Area is based on several things. Located in a sub-urban area where there are many<br>plantations, there is a need for a design method that pays attention to the surrounding<br>environment. Sustainable architecture which aims to make visitors feel healthy living is<br>considered appropriate to be applied to this area, namely in tourist areas as well as recreation<br>that is educational and supported by other supporting facilities so that users feel a healthy<br>space by paying attention to the health of its users. It is hoped that the application of this<br>concept can provide access to all visitors and provide comfort both physically and spiritually<br>and do not forget to reduce energy use in the area.<br>Keywords: Pawon Cave, West Bandung District, Ancient Museum, Sustainable Architecture</p> Muhammad Rafi Desramahendra, Widji Indahing Tyas, Reza Pahlevi Sihombing Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1296 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR TROPIS PADA PERANCANGAN ISLAMIC CENTER MENGGUNAKAN KOMPONEN FABRIKASI DI KAB. SAMBAS KALIMANTAN BARAT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1297 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah yang cukup luas namun tidak terdapat cukup fasilitas umumuntuk menampung kebutuhan masyarakat, disamping itu dengan berjalannya waktu peningkatan populasi masyarakat di Kabupaten Sambas berdampak pada naiknya kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas masyarakat yang sebagian besar masyarakatnya beragama islam. Oleh karena itu dibutuhkan fasilitas publik yang mampu mewadahi aktivitas masyarakat.Dengan dibangun nya Islamic Center yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat sebagaiwadah aktivitas kegiatan, selain menjadi wadah untuk aktivitas masyarakat sekaligus menjadi pusat beribadah di Kabupaten Sambas. Dengan memanfaatkan teknologi pembangunan yang tersedia di Indonesia salah satunya yaitu Fabrikasi yang dapat meningkatkan efektifitas waktu pembangunan Islamic Center. Kabupaten Sambas juga termasuk daerah yang beriklim tropislembab maka dari itu agar membuat masyarakat lebih nyaman di dalamnya, Pada Perancangan ini diterapkan prinsip-prinsip Arsitektur Tropis seperti ventilasi udara silang, penggunaan material lokal, atap miring dan tinggi, bukaan besar yang banyak dan penempatan massa yangberjejer. Selain merespon iklim, keadaan dan cuaca namun juga menghasilkan karakter baru dari bangunan yang dihasilkan dari perpaduan antara metode membangun Fabrikasi dengan pendekatan Arsitektur Tropis beserta prinsip-prinsipnya.<br>Kata kunci: Arsitektur, Fabrikasi, Islamic Centre, Tropis.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas Regency is one of the regencies in the province of West Kalimantan. Sambas Regency has a fairly large area but there are not enough public facilities to accommodate needs. Inaddition, with the passage of time, the increase in the population of the community in Sambas Regency has an impact on the increase in the need for space to accommodate community activities, most of which are Muslim. Therefore, public facilities are needed that are able to accommodate community activities. With the construction of an Islamic center that can answer the needs of the community as a forum for activities, in addition to being a forum for community activities, as well as being a center of worship in Sambas Regency. Utilizing the developmenttechnology available in Indonesia, one of which is fabrication, which can increase the effectiveness of the construction time of the Islamic Center. Sambas Regency also includes a humid tropical climate, In order to make people more comfortable in it, In this design, theprinciples of Tropical Architecture are applied such as cross ventilation, the use of local materials, sloping and high roofs, many large openings and the placement of lined masses. In addition to responding to climate, conditions and weather, it also produces new characters frombuildings resulting from a combination of Fabrication building methods with Tropical Architecture approaches and their principles.<br>Keywords: Architecture, Fabricate, Islamic Center, Tropical.</p> Romdoni Gozali, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1297 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA PERANCANGAN LINGKAR SAMBAS ISLAMIC CENTER https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1298 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kabupaten Sambas merupakan salah satu wilayah administrasi yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah yang sangat luas dengan begitulahan dapat dipergunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat untuk dimanfaatkan salah satunya membuat kawasan berbasis agamis. Berbagai respon terhadap pemanfaatan lahan kosong yang luas yang mana untuk dijadikan kawasan berbasis agamismemiliki respon positif dari masyarakat. Kenyataan dilapangan beberapa kendala ditemukan seperti kawasan tersebut memiliki tanah gambut menjadi salah satu kendala saat membangun sebuah kawasan, selain itu air sungai dapat meluap diwaktu – waktu tertentu. Memanfaatkanlahan kosong dengan jenis tanah gambut dan pemanfaatan pinggir sungai agar tidak meluap ke permukaan tanah untuk dijadikan kawasan berbasis Islamic Center. Kawasan yang akan didirikan merupakan kawasan Islamic Center dengan penerapan tema Arsitektur Neo-Vernakular dirasa cocok karena mengangkat kembali kebudayaan setempat yang diterapkan pada kawasan tersebut. Hal ini dikaitkan dengan konsep yang diimplementasikan kedalam bentuk gagasan desain bangunan masjid yang memiliki atap limas potong, dan menyediakan area lahan hijau untuk penyerapan air yang berlebihan sebagai pencegahan banjir. Kawasan Islamic Center dapat menampung dan mewadahi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan ilmukeagamaan seperti shalat, mengaji, manasik haji, dan kegiatan lainnya serta tidak melupakan akan sang Maha Pencipta sebagai tempat bersandar bagi umat manusia.<br>Kata kunci: Arsitektur Neo-Vernakular, Islamic Center, Kabupaten Sambas, Kawasan</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Sambas regency is one of the administrative regions located in West Kalimantan province.Sambas regency has a very large area so that the land can be used for the benefit and benefit ofthe community to be used, one of which is to make a religious-based area. Various responses to the use of vast vacant land which is to be used as a religious-based area have a positive responsefrom the community. The reality in the field is that some obstacles are found such as the area has peat soil to be one of the obstacles when building an area, besides that river water can overflow at certain times. Utilizing vacant land with peat soil types and utilization of river banks so as not tooverflow the soil surface to be used as an Islamic Center-based area. The area to be established is an Islamic Center area with the application of Neo-Vernacular Architecture theme is considered suitable because it re-raises the local culture applied to the area. This is associated with theconcept that is implemented into the form of a mosque building design idea that has a pyramid roof, and provides a green land area for excessive water absorption as a flood prevention. The Islamic Center area can accommodate and accommodate activities related to religious sciencessuch as prayer, recitation, Hajj rituals, and other activities and do not forget the Creator as a place to lean on for mankind.<br>Keywords: Neo-Vernacular Architecture, Islamic Center, Sambas regency, region</p> Dede Setiawan, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1298 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH ASA KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1299 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Penyakit jantung dan pembuluh darah masuk ke dalam sepuluh besar penyebab kematian di Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Bandung membutuhkan rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah karena masih kurangnya sarana dan prasarana untuk memfasilitasi penderita penyakit jantung dan pembuluh darah. Rumah sakit merupakan tempat untuk penyembuhan dan pencegahan penyakit. Namun, tanpa disadari rumah sakit bisa menjadi tempat terbentuknya penyakit itu sendiri, baik secara fisik atau non fisik (psikologi). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dan memikirkan perilaku dalam proses perancangan rumah sakit. Tema arsitektur perilaku akan diaplikasikan melalui aspek pengaturan perilaku, kognisi spasial, dan persepsi lingkungan. Penerapan irama visual yang statis pada fasad, penggunaan material alam serta warna cerah, pengaturan zoning ruang yang terencana, dan courtyard sebagai taman terapi serta sarana edukasi merupakan hasil desain yang diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang sehat. Hasil desain tersebut dapat mengubah tipologi rumah sakit dari tempat yang terkesan menyeramkan menjadi tempat yang nyaman dan tenang.<br>Kata kunci: Arsitektur Perilaku, Jantung dan Pembuluh Darah, Rumah Sakit Khusus</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Heart and blood vessel disease are the top ten causes of death in Bandung. This shows that Bandung needs a special heart and blood vessel hospital because there is still a lack of facility and infrastructure to facilitate people with heart and blood vessel disease. Hospital is a place for healing and preventing disease. However, without realizing it, hospital can become a place for the formation of the disease itself, either physically or non-physically (psychologically). Therefore, it is important to consider and think about behavior in the hospital design process. The behavioral architecture theme will be applied through aspects of behavioral regulation, spatial cognition, and environmental perception. The application of a static visual rhythm on the facade, the use of natural materials and bright colors, a planned space zoning arrangement, and a courtyard as a therapeutic garden as well as an educational facility are the results of designs that are expected to create a healthy environment. The design results can change the typology of the hospital from a scary place to a comfortable and calm place.<br>Keywords: Behavioral Architecture, Hearth and Blood Vessel, Special Hospital</p> Khairina Alfin Nada, Dian Duhita Permata, Shirli Putri Asri Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1299 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1300 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Produktivitas kerja dan kinerja dipengaruhi oleh kualitas SDM yang baik. SDM yang baik tercipta dari perilaku hidup sehat. Pandemi Covid-19 yang melanda sepanjang 2020 membawa pengaruh negatif pada pertumbuhan pembangunan manusia. Perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan penyembuhan yang baik dengan bangunan yang ramah lingkungan agar dapat memberi pengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Perancangan ini mementingkan fleksibilitas metode kerja dokter, perawat, dan staf rumah sakit. Pada perubahan yang dialami dalam metode kerja di masa depan, bangunan harus mampu mengakomodasi perubahan tersebut. Revolusi dalam desain rumah sakit yaitu penerapan prinsip arsitektur biofilik. Segala hal yang mencakup dan mempengaruhi secara tepat konfigurasi rumah sakit masa kini dan masa depan melalui tren yang memanusiakan dan menaturalisasi bidang kesehatan. Salah satu pilar humanisasi yaitu dalam penerapan prinsip arsitektur biofilik. Fasilitas kesehatan sebagai ruang yang tidak menyenangkan dapat menyebabkan stress dan bahkan ketakutan yang signifikan tergantung pada perancangannya.Perancangan fasilitas perawatan kesehatan mempersiapkan tantangan masa depan. Rumah sakit umumnya tidak dirancang untuk membatasi pergerakan, solusi desain pada perancangan ini yaitu menciptakan ruang dan koridor yang mendorong aliran searah. Aliran searah dapat mengurangi transmisi permukaan. Hasil perancangan mengatasi penularan melalui udara.<br>Kata kunci: Arsitektur Biofilik, Pola Horizontal, Rumah Sakit Ibu dan Anak</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Work productivity and performance are influenced by the quality of good human resources. Good human resources are created from healthy living behavior. The Covid-19 pandemic that hitthroughout 2020 had a negative impact on the growth of human development. The design of the Mother and Child Hospital is expected to create a good healing environment with environmentally friendly buildings in order to have a positive influence on the Human Development Index (IPM).This design emphasizes the flexibility of the working methods of doctors, nurses, and hospital staff. In the changes experienced in the method of work in the future, the building must be able to accommodate these changes. The revolution in hospital design is the application of biophilic architecture principles. Anything that includes and influences precisely the current and future configuration of hospitals through trends that humanize and naturalize the field of healthcare.One of the pillars of humanization is the application of biophilic architecture principles. A healthcare facility as an unpleasant space can cause significant stress and even fear depending on its design. Health care facility design prepares for future challenges. Hospitals are generally not designed to restrict movement, the design solution in this design is to create spaces and corridors that encourage unidirectional flow. Direct flow can reduce surface transmission. The results of the design overcome transmission through air.<br>Keywords: Biophilic Architecture, Horizontal Pattern, Mother and Child Hospital</p> Armi Pertiwi Nugraha, Widji Indahing Tyas Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1300 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER FUTURISTIK PADA RUMAH SAKIT KHUSUS MATA DI BANDUNG KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1301 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Kota Bandung, pada 2021 menjadi kota terpadat di Jawa Barat. Kota Bandung yang memiliki luas wilayah 166,59 km dengan kepadatan penduduk di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat tersebut sebanyak 15.17 ribu jiwa per km. Sebagai kota dengan angka kepadatan penduduk tertinggi di Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung. Bangunan rumah sakit khusus mata dengan konsep arsitektur kontemporer futuristik dapat menjadikan bangunan mempunyai ciri khas dan menambah nilai bangunan agar dapat bersaing. Desain futuristik yang diterapkan pada bangunan rumah sakit khusus mata dengan memperhatikan kebutuhan ruang dan tampilan bangunan. Tujuan rumah sakit khusus mata sendiri ialah untuk penunjang kesehatan untuk mata yang nyaman dan baik bagi masyarakat sekitar. Bangunan rumah sakit khusus mata dengan pengaplikasian konsep arsitektur kontemporer futuristik dapat menciptakan bangunan dengan berkarakteristik yang memiliki ciri khas. Adapun dalam penerapan konsep bangunan kontemporer futuristik mempunyai prinsip ramah lingkungan, keselarasan dengan alam / keadaan sekitar bangunan sekaligus daya tarik untuk fungsi Rumah Sakit khusus mata. Arsitektur Kontemporer Futuristik sebuah bangunan rumah sakit khusus mata yang mana dimaksud yaitu rumah sakit khusus mata yang memiliki konsep Kontemporer yang dipadukan dengan konsep Arsitektur Futuristik melalui pendekatan lingkungan maupun alam untuk membuat para pengguna nya nyaman sekaligus bisa bermanfaat bagi kesehatan manusia.<br>Kata kunci: Kota Bandung, Bangunan Rumah Sakit Khusus Mata, Arsitektur Kontemporer, Futuristik</p> <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The city of Bandung, in 2021, will become the most populous city in West Java. The city of Bandung which has an area of 166.59 km with a population density in the capital city of West Java Province as many as 15.17 thousand people per km. As the city with the highest population density in West Java Province, Bandung City. Special eye hospital buildings with futuristic contemporary architectural concepts can make the building have a characteristic and add value to the building so that it can compete. A futuristic design that is applied to a special eye hospital building by taking into account the space requirements and appearance of the building. The purpose of the special eye hospital itself is to support health for eyes that are comfortable and good for the surrounding community. Special eye hospital buildings with the application of contemporary futuristic architectural concepts can create buildings with distinctive characteristics. As for the application of the concept of a futuristic contemporary building that has environmentally friendly principles, harmony with nature / conditions around the building as well as an attraction for the function of a special eye hospital. Futuristic Contemporary Architecture is a special eye hospital building, which is a special eye hospital that has a Contemporary concept combined with the concept of Futuristic Architecture through environmental and natural approaches to make its users comfortable and can benefit human health. Keywords: Bandung City, Special Eye Hospital Building, Contemporary Architecture, Futuristic</p> Moch Ceng Fauzy Dj, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1301 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA PAWON ANCIENT https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1302 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Wisata edukasi merupakan salah satu sarana pendidikan yang digunakan sebagai media pembelajaran yang sangat efektif karena tidak membosankan dan menarik sehingga menumbuhkan rasa semangat belajar, salah satu sarana wisata edukasi tersebut adalah museum. Museum yang akan dibangun di Padalarang ini merupakan sebuah bangunan yang mewadahi, memamerkan dan menjadi pusat penelitian benda bersejarah yang ditemukan di Gua Pawon, Padalarang. Gua pawon itu sendiri merupakan salah satu situs purbakala yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat yang telah diteliti dan terdapat temuan-temuan yang memiliki nilai<br>sejarah yang tinggi seperti kerangka manusia purba, bebatuan dan temuan lainnya. Museum Purbakala Gua pawon ini dikemas dalam konsep Arsitektur Organik yang menerapkan beberapa sub-konsep utama Arsitektur Organik pada site dan beberapa bagian bangunan yang ada di kawasan museum tersebut. Konsep tersebut diantaranya Building as Nature, Of the People, Of the Hill, Of the Materials yang setiap konsepnya diterapkan pada bagian tertentu bangunan baik pada museum, visitor center, guest house, site dan tatanan massa bangunan yang desainnya sudah disesuaikan dengan aktivitas pengunjung saat pandemi covid-19 yaitu munculnya<br>kebiasaan baru atau new sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung.<br>Kata kunci: Arsitektur Organik, Museum, Purbakala</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Educational tourism is one of the educational facilities that is used as a very effective learning medium because it is not boring and interesting so that it fosters a sense of enthusiasm for learning, one of the educational tourism facilities is a museum. The museum that will be built in Padalarang is a building that accommodates, exhibits and becomes a research center for historical objects found in Pawon Cave, Padalarang. Pawon Cave itself is one of the archaeological sites in West Bandung Regency which has been researched and there are findings that have high historical value such as ancient human skeletons, rocks and other findings. The Pawon Cave Archaeological Museum is packaged in the concept of Organic Architecture which applies several main sub-concepts of Organic Architecture on the site and some parts of the buildings in the museum area. These concepts include Building as Nature, Of the People, Of the Hill, Of the Materials, where each concept is applied to a certain part of the building, both at the museum, visitor center, guest house, site and building mass structure whose designs have been adapted to visitor activities during the pandemic. Covid-19 is the emergence of new or new habits so as to provide a sense of security and comfort for visitors.<br>Keywords: Ancient, Museum, Organic Architecture</p> Kristie Silviana, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1302 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN PADA PERENCANAAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK ALTHEA HOSPITAL BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1303 <p><strong>ABSTRAK</strong><br>Rumah Sakit Ibu dan Anak merupakan sebuah layanan bagi masyarakat pada bidang kesehatan yang perlu diperhatikan khususnya di kota besar seperti Kota Bandung. Pada kawasan BandungTimur keberadaan Rumah Sakit Ibu dan Anak dirasa kurang karena hanya terdapat beberapa rumah sakit ibu dan anak, sehingga jangkauan fasilitas pelayanan kesehatan sangat jauh bagi masyarakat. Oleh karena itu akan dirancang Althea Hospital di daerah Bandung Timur dengan fasilitas pelayanan pra kehamilan, persalinan, perawatan ibu dan anak, tumbuh kembang anak,imunisasi, program KB (Keluarga Berencana) serta masalah kandungan, kebidanan hingga konsultasi mengenai reproduksi. Pertimbangan desain yang perlu diperhatikan pada rumah sakit salah satunya adalah keefesiensian ruang dan kecepatan akses pada beberapa aktifitas seperti kegiatan darurat. Perancangan Althea Hospital ini akan menerapkan konsep Arsitektur Modern.Arsitektur modern adalah sebuah konsep desain yang mengutamakan fungsi di dalam bangunan.Penerapan Arsitektur modern pada bangunan rumah sakit dikhususnya pada bentuk bangunan dan ruang dalam yang efesien. Implementasi tema selain pada bentuk bangunan, juga pada material fasad dengan menggunakan material terbaru atau material khas dari arsitektur moderncontohnya kaca yang akan mendominasi pada fasad dengan penambahan secondary skin sebagai penegas garis garis vertikal-horizontal pada fasad. Dengan menerapkan arsitektur modern diharapkan secara visual dan fungsional Althea Hospital dapat mewujudkan rumah sakit dengan suasana yang modern/kekinian.<br>Kata Kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak,Pelayanan, Arsitektur Modern, Fungsi, Efesiensi</p> <p><strong>ABSTRACT</strong><br>Mother and Child Hospital is a service for the community in the health sector that needs attention,especially in big cities like Bandung City. In the East Bandung area, the presence of a Mother and Child Hospital is felt to be lacking because there are only a few maternal and child hospitals,so that the reach of health care facilities is very far for the community. Therefore, Althea Hospital will be designed in the East Bandung area with facilities for pre-pregnancy, delivery, maternal and child care, child development, immunization, family planning (KB) programs as well as obstetrics, midwifery and reproductive consultations. One of the design considerations that needto be considered in hospitals is space efficiency and speed of access to several activities such as emergency activities. Althea Hospital design will apply the concept of Modern Architecture.Modern architecture is a design concept that prioritizes functions in buildings. The application of modern architecture in hospital buildings, especially in the form of buildings and efficient interior spaces. Implementation of the theme in addition to the shape of the building, also on thefacade material by using the latest materials or materials typical of modern architecture, for example glass that will dominate the facade with the addition of a secondary skin as a confirmation of the vertical-horizontal lines on the facade. By applying modern architecture, it is hoped that visually and functionally Althea Hospital can create a hospital with a modern feels.<br>Keywords: Mother and Child Hospital,Services, Architecture Modern, Function, effeciency</p> Tasya Cantika, Dwi Kustianingrum Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1303 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 BIOPHILIC DESIGN: HEALTH STIMULANT AND WELL-BEING PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1304 <p><strong>Abstrak</strong><br>Hidup sehat menjalani masa tua dengan bahagia dan sejahtera merupakan dambaan bagi semua orang. Keadaan seperti ini hanya dapat dicapai oleh seseorang apabila orang tersebut memiliki pola hidup yang teratur secara fisik, mental dan emosional. Penyakit tidak menular (PTM) saat ini diprediksi akan meningkat sejalan dengan pola hidup masyarakat perkotaan. Salah satu penyakit tidak menular tersebut yaitu penyakit kardiovaskular yang menjadi penyumbang angka kematian terbesar di dunia. Penyakit ini harusnya dapat dicegah dengan melalui pendeteksian dini dan pengendalian faktor resiko seperti penyakit hipertensi. Di Kota Bandung sendiri, wilayah Bandung Barat merupakan wilayah dengan cakupan pemeriksaan dan penanganan terendah pada tahun 2020. Hal ini berbanding terbalik dengan tingginya jumlah perkiraan pengidap penyakit kardiovaskular di wilayah ini yang menjadi faktor pemilihan lokasi. Dengan hadirnya Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh Darah di wilayah Bandung Barat ini diharapkan dapat meratanya penanganan penyakit kardiovaskular. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui penerapan prinsip Biophilic design pada bangunan fasilitas kesehatan Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh darah. Dengan mengedepankan hubungan manusia dan alam melalui stimulus visual pada desain arsitektur yang dapat meningkatkan perasaan nyaman, mengurangi perasaan stress, menurunkan tekanan darah dan detak jantung. Dapat disimpulkan melalui penerapan biophilic design sebagai stimulan kesehatan dan kesejahteraan yang bertujuan untuk mendorong percepatan kesehatan baik secara fisik maupun emosional.<br>Kata Kunci: Desain Biofilik, Stimulan Kesehatan, Kesejahteraan, Rumah Sakit Khusus, Kardiovaskular</p> <p><strong>Abstract</strong><br>Living a healthy life to live a happy and prosperous old age is everyone's dream. A situation like this can only be achieved by a person if the person has a healthy regular lifestyle physically, mentally, and emotionally. Non-communicable diseases (NCDs) are currently predicted to increase in line with the lifestyle of urban communities nowadays. One of these non-communicable diseases, namely cardiovascular disease, is the largest contributor to mortality in the world. This disease should be prevented through early detection and control of risk factors such as hypertension. In the city of Bandung itself, the West Bandung area is the area with the lowest<br>coverage of examination and treatment in 2020. This is inversely proportional to the high estimated number of people with cardiovascular disease in this area which is a factor in choosing the location. With the presence of the Specialized Cardiovascular Hospital in the West Bandung area, it is to be hoped that the treatment of cardiovascular disease will be evenly distributed. The method used in this research is the application of the principle of Biophilic design in the health facility building of the Specialized Cardiovascular Hospital. This promotes the relationship between humans and nature through visual stimulants in architectural designs that have been proven to increase feelings of comfort, reduce stress, lower blood pressure and heart rate. It can be ascertained through the application of biophilic design as a health stimulant and well-being that aims to encourage the acceleration of physical and emotional health.<br>Keywords: Biophilic Design, Health Stimulant, Well-Being, Specialized Hospital, Cardiovascular</p> Arifidarto Muliawan, Erwin Yuniar Rahadian Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1304 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000 PENERAPAN TEMA SALUTOGENESIS PADA PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA BANDUNG https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1305 <p><strong>Abstrak</strong><br>Rasa takut dan cemas ketika memasuki Rumah Sakit merupakan respon yang umum ditemukan pada pasien baik untuk ibu melahirkan maupun bagi pasien anak – anak. Suasana dari Rumah Sakit yang bersifat klinis memberikan kesan negatif sehingga pasien cenderung menghindari untuk berobat di Rumah Sakit. Menanggapi permasalahan tersebut teori Salutogenesis mampu menemukan faktor - faktor apa saja yang dibutuhkan pasien dalam melawan rasa takut dan cemas berdasarkan pola perilaku, aspek psikologis dari pasien hingga kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh pasien sehingga dapat diterapkan di dalam desain Rumahi SakitiIbuidaniAnak. Tujuan dari pendekatan konsep Salutogenesis adalah mencapai sense of coherence, yaitu persepsi sehat seseorang yang berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi stres dan menjaga kondisi sehat dalam hidup.<br>Menggunakan metode penelitian deduktif dalam pengumpulan data serta metode Force-Based Design dalam merancang Rumah Sakit Ibu dan Anak, konsep Salutogenesis diterapkan pada bentuk fasad bangunan, pola hubungan ruang yang berpusat pada ruang – ruang terbuka, detail arsitektur dan interior yang memiliki beberapa aspek diantaranya adalah lingkungan yang dapat meningkatkan mood pasien, pencayahaan alami, dan ruang – ruang untuk interaksi sosial yang aman bagi anak – anak.<br>Kata Kunci: Salutogenesis ,Sense of Coherence, Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak</p> <p><strong>Abstract</strong><br>Fear and anxiety when entering the hospital is a common response found in patients, especially children. The clinical atmosphere of the hospital gives a negative impression so that patients tend to avoid seeking treatment at the hospital The behavior of these pediatric patients must be accommodated in designing health services for mothers and children to support the patient's healing<br>process. Responding to these problems, the application of the theory of Salutogenesis is able to find what factors are needed by the patient to fight the fear and anxiety so that it can be applied in the design of the Maternal and Child Hospital. The purpose of the Salutogenic concept approach is to achieve a sense of coherence, which is a person's perception of health related to one's ability to deal with stress and maintain healthy conditions in life. By using deductive research methods in data collection and Force-Based Design methods in designing Maternal and Child Hospitals, the concept of Salutogenesis is applied to facades, pattern of spatial relations centered on open spaces, architectural and interior details which have several aspects including an environment that can<br>improve the patient's mood, natural lighting , and spaces for safe social interactions for children.<br>Keywords: Salutogenesis, Sense of Coherence, Maternal and Child Hospital</p> Irfan Fakhruddin, Nurtati Soewarno Copyright (c) 2022 https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/fad/article/view/1305 Tue, 25 Oct 2022 00:00:00 +0000