Prosiding FTSP Series
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp
<p>Prosiding FTSP Series ini adalah merupakan kumpulan Paper Seminar Nasional dan Tugas Akhir mahasiswa yang sudah diseminasikan</p>en-USProsiding FTSP SeriesPERENCANAAN PENGADAAN MATERIAL PADA PEKERJAAN STRUKTUR PADA PROYEK PEMBANGUNAN GUEST HOUSE WIJAYA
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4513
<p>Manajemen material krusial dalam konstruksi karena menyerap biaya signifikan. Penelitian ini menganalisis dampak pengadaan material terhadap Time Value of Money untuk memaksimalkan sisa saldo proyek Guest House Wijaya. Metode Precedence Diagram Method (PDM) digunakan sebagai acuan jadwal, dan analisis ekonomi dilakukan pada lima skenario menggunakan pendekatan Future Value (FV) dengan mempertimbangkan inflasi dan bunga simpanan. Hasil menunjukkan Skenario 2 (pembelian sesuai kebutuhan) adalah strategi terbaik, menghasilkan sisa saldo tertinggi Rp113.450.389. Strategi ini efektif karena menyelaraskan pembelian dengan jadwal kerja, sehingga memaksimalkan keuntungan bunga simpanan dari dana yang belum terpakai. Penelitian menyimpulkan bahwa integrasi jadwal pengadaan dan pelaksanaan sangat penting untuk efisiensi finansial proyek.</p>RICKY RAMADHANHAZAIRIN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-0714Perbandingan Skema Pembiayaan Bank Konvensional dan Bank Syariah Akad Musyarakah Pada Proyek Konstruksi
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4512
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan efisiensi finansial antara skema pembiayaan bank konvensional dan bank syariah dengan akad musyarakah pada proyek Rumah Sakit Jantung Paramarta, Bandung. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif melalui simulasi arus kas pada empat skenario komposisi modal menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel. Indikator penilaian meliputi saldo kas akhir, Return on Equity (ROE), dan Effective Rate of Loan (ERL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema bank konvensional lebih efisien dibandingkan bank syariah akad musyarakah pada seluruh skenario. Bank konvensional secara konsisten memberikan saldo kas akhir lebih tinggi dengan nilai<br>ROE mencapai 0,553, sementara bank syariah maksimal 0,439. Dari sisi beban biaya, ERL bank konvensional berada pada kisaran 0,00972 hingga 0,01000, jauh lebih rendah dibandingkan bank syariah yang mencapai 0,1065 hingga 0,1381. Kesimpulannya, sistem bunga tetap pada bank konvensional saat ini lebih unggul dalam meminimalkan biaya modal kerja bagi kontraktor. </p>MUHAMMAD FAIZ HIKAM ALFARISI
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07510Pengaruh Tingkat Suku Bunga Pinjaman Bank terhadap Kelayakan Investasi Sarana Olahraga Padel “X” Di Padalarang
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4515
<p>Fenomena olahraga padel yang berkembang pesat di kawasan Padalarang menawarkan peluang investasi yang menjanjikan. Namun, tingginya kebutuhan modal awal memaksa investor bergantung pada pinjaman<br>bank yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan finansial pembangunan sarana olahraga Padel "X" dan menguji sensitivitasnya terhadap perubahan suku bunga pinjaman. Metode yang digunakan adalah Discounted Cash Flow (DCF) dengan indikator NPV, IRR, BCR, dan Payback Period. Berdasarkan analisis terhadap total investasi sebesar Rp5,2 miliar dengan skema pembiayaan 74% hutang, ditemukan bahwa pada suku bunga acuan 12,5%, proyek dinyatakan tidak layak (unfeasible) dengan nilai NPV negatif sebesar -Rp118.422.706 dan IRR 7,71%. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa investasi ini memiliki batas toleransi maksimal suku bunga di angka 11,00%. Kenaikan suku bunga di atas ambang batas tersebut akan mendestruksi nilai profitabilitas proyek secara signifikan. </p>RIZALDY RACHMAT MARTAPERDANAHAZAIRIN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-071115KAJIAN STRENGTH DEVELOPMENT PADA REACTIVE POWDER SELF COMPACTING CONCRETE (RPSCC) DENGAN PENGGUNAAN SILICA FUME
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4516
<p>Perkembangan infrastruktur di Indonesia mendorong adanya inovasi beton dengan mutu tinggi, salah satu inovasinya ialah Reactive Powder Self Compacting Concrete (RPSCC). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strength development pada beton RPSCC, dimana variasi kuat tekan rencana yang ditinjau adalah 50 MPa dengan besaran persentase rasio silica fume yang digunakan sebanyak 20% terhadap kebutuhan berat powder. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton meningkat secara signifikan pada umur 7, 14, dan 28 hari, dengan laju peningkatan terbesar berada antara periode umur 7 sampai 14 hari, menandakan fase hidrasi semen dan reaksi pozzolan silica fume berlangsung secara efektif. Kenaikan kuat tekan yang stabil hingga umur 28 hari membuktikan bahwa campuran beton tetap mengalami proses pengerasan yang baik. Namun, laju peningkatan kuat tekan cenderung melambat di akhir periode umur.</p>NUANCHARY CAHYAH SUPRIYADIBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-071621Analisis Keputusan Kepemilikan Kendaraan Listrik Komersial dengan Model UTAUT 2 di Kota Bandung
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4517
<p>Sektor logistik dan transportasi mulai bertransmisi menuju penggunaan kendaraan listrik komersial, dimana Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu pengguna potensial kendaraan truk kecil listrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis intensi pelaku UMKM terhadap adopsinkendaraan truk Listrik menggunakan kerangka model <em>Unified Theory of Acceptance and Use of Technolgy 2 (UTAUT 2). </em>Metode penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pelaku UMKM yang menggunakan kendaraan truk kecil. Data diolah menggunakan aplikasi SPSS untuk menguji hubungan antar variable dalammodel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>performance expectancy</em> berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi adopsi, peningkatan keyakinan pada efisiensi operasional akan memperkuat niat adopsi. <em>Perceived Safety</em> juga ditemukan berpengaruh signifikan sebagai factor determinan, rendahnya nilai deskriptif variable ini menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap aspek keamanan teknis menjadi penghambat utama niat UMKM. Selain itu, <em>Policy Measure</em> memiliki pengaruh positif dan signifikan membuktikan bahwa dukungan regulasi merupakan pendorong krusial bagi UMKM.</p>Nazriel Ahmad GhifaryMuhamad Rizki
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-072240ANALISA PENGARUH KADAR CAMPURAN GULA PASIR TERHADAP WAKTU IKAT DAN KUAT TEKAN BETON MEMADAT SENDIRI
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4519
<p>Penelitian mengenai gula pasir sebagai bahan tambah pada beton normal telah banyak dilaporkan memberikan efek retardasi, namun kajiannya pada beton memadat sendiri (Self-Compacting Concrete/SCC) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kadar gula pasir dan interval waktu pengecoran terhadap waktu ikat dan kuat tekan beton memadat sendiri. Variasi gula pasir terhadap powder yaitu 0%; 0,2%; dengan interval pengecoran 0, 1, dan 2 jam. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gula pasir pada beton memadat sendiri memberikan efek akselerasi atau mempercepat waktu ikat beton, dan menurunkan kekuatan tekan beton pada kadar gula lebih dari 0,2% dan interval pengecoran lebih dari 1 jam.</p>GERALD JANUARBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-074145Penggunaan Bola Styrofoam sebagai Agregat Halus pada Lightweight Self Compacting Concrete
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4520
<p>Hasil penelitian scc dengan campuran normal dan penggunaan bola styrofoam d 1-2 40% sebagai pasir pada agregat halus pada pengujian berat jenis dan kuat tekan pada umur 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Nilai berat jenis pada scc dengan campuran normal pada umur 28 hari sebesar 2.315 Kg/m³ dan substitusi bola styrofoam 40% pada umur 28 hari sebesar 2,111 Kg/m. Nilai kuat tekan pada scc dengan campuran normal pada umur 28 hari sebesar 31.94 MPa dan substitusi bola styrofoam 40% pada umur 28 hari sebesar 22.800 MPa. Pada penelitian ini memenuhi kuat tekan beton struktural minimal kuat tekan 17 MPa, pada standar beton ringan tidak memenuhi menurut SNI 2487:2013.</p>ACHMAD FAUZIBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-074651Pemanfaatan Limbah Tetes Tebu sebesar 0,15% dari Berat Semen sebagai Retarder pada Beton
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4521
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah tetes tebu sebagai retarder terhadap waktu ikat dan kuat tekan beton. Variasi yang digunakan meliputi beton normal (0%) dan beton dengan penambahan tetes tebu 0,15% dari berat semen, dengan interval cetak 0, 1, dan 2 jam. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari dengan mutu rencana beton 25 MPa, sedangkan pengujian waktu ikat menggunakan metode Vicat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah tetes tebu memperlambat waktu ikat awal dan akhir dari 150 menjadi 165 menit, dan 225 menjadi 285 menit. Pada umur 28 hari variasi 0,15% dengan interval 2 jam cetak menghasilkan kuat tekan sebesar 26,403 MPa, lebih tinggi dibandingkan beton normal sebesar 25,650 MPa. Hasil ini menunjukkan bahwa limbah tetes tebu berpotensi digunakan sebagai bahan retarder pada beton.</p>AGIP RAHMAT MUHARAMBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-075256Rancangan Rekayasa Manajemen Lalu Lintas Di Jaringan Jalan Perkotaan Dengan Bantuan Model Mikrosimulasi
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4522
<p>Evaluasi kinerja lalu lintas pada Simpang Jalan A.H. Nasution – Jalan Pasir Impun dilakukan melalui pemodelan mikrosimulasi menggunakan perangkat lunak PTV VISSIM untuk menilai efektivitas alternatif rekayasa manajemen lalu lintas. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting simpang memiliki<br>kinerja yang sangat buruk dengan tundaan rata-rata sebesar 125,07 detik per kendaraan dan tingkat pelayanan simpang berada pada kategori F. Alternatif penanganan pertama berupa pemasangan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) mampu menurunkan tundaan rata-rata menjadi 86,36 detik per kendaraan, namun tingkat pelayanan simpang masih berada pada kategori F, sehingga perbaikan kinerja belum signifikan. Alternatif kedua berupa kombinasi pemasangan APILL dan penambahan lajur pada pendekat simpang memberikan peningkatan kinerja yang lebih baik, ditunjukkan oleh penurunan tundaan rata-rata menjadi 48,89 detik per kendaraan dan peningkatan tingkat pelayanan simpang menjadi kategori E. Meskipun demikian, kinerja simpang belum optimal akibat adanya penyempitan lajur pada segmen setelah simpang yang berpotensi menimbulkan konflik arus lalu lintas baru. Secara keseluruhan, kombinasi pengaturan sinyal dan penambahan lajur merupakan alternatif paling efektif, namun diperlukan<br>penanganan geometrik lanjutan untuk meningkatkan kinerja simpang secara optimal.</p>MOHAMAD IRGI FADHILAH RUSANDREAN MAULANA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-075761STUDI KINERJA PELAYANAN OPERASIONAL TERMINAL PETI KEMAS PELABUHAN TRISAKTI BANJARMASIN
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4523
<p>Pelabuhan Trisakti Banjarmasin merupakan pelabuhan utama di Kalimantan Selatan yang berperan penting dalam pelayanan kegiatan terminal peti kemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pelayanan operasional Terminal Peti Kemas berdasarkan indikator Berth Occupancy Ratio (BOR), Yard<br>Occupancy Ratio (YOR), rasio waktu kerja kapal di tambatan (ET/BT), serta produktivitas bongkar muat. Data yang digunakan meliputi data operasional tahun 2025 dan data historis arus kapal periode 2017–2024. Metode analisis yang diterapkan meliputi perhitungan kinerja operasional eksisting serta peramalan arus kapal menggunakan metode tren linier hingga tahun 2045. Hasil analisis menunjukkan bahwa produktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas tergolong baik, namun nilai rasio ET/BT sebesar 71,16 persen masih berada di bawah standar 75 persen sehingga kinerja operasional kapal dikategorikan cukup baik. Secara keseluruhan, peningkatan efisiensi operasional dan optimalisasi fasilitas diperlukan untuk mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas di masa mendatang secara berkelanjutan.</p>MUHAMMAD ZALHAN AR RAFIYATI MULIATI
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-076267PEMANFAATAN SISA PEMBAKARAN SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN PENAMBAHAN PCC SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS PADA MORTAR GEOPOLIMER
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4524
<p>Peningkatan volume limbah padat hasil pembakaran sampah rumah tangga menjadi tantangan lingkungan yang serius, sementara kebutuhan material konstruksi terus meningkat. Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan sisa pembakaran sampah rumah tangga sebagai substitusi agregat halus pada mortar geopolimer dengan penambahan Portland Composite Cement (PCC). Variasi substitusi abu dilakukan sebesar 0%, 10%, 15%, dan 20% terhadap pasir, dengan aktivator berupa larutan KOH 8M dan Na₂SiO₃. Pengujian utama meliputi karakteristik material, berat jenis, serta kuat tekan mortar pada umur 7 dan 28 hari. Hasil menunjukkan bahwa substitusi 10% memberikan kuat tekan optimum pada umur 28 hari berkisar 24,09–26,83 MPa, sementara kadar lebih tinggi cenderung menurunkan kekuatan akibat peningkatan porositas. Pra-perlakuan abu dan penambahan PCC terbukti efektif mengurangi potensi swelling. Temuan ini menunjukkan bahwa abu sisa pembakaran sampah berpotensi dimanfaatkan sebagai material konstruksi berkelanjutan pada mortar geopolimer.</p>Irfan Hadi DarmawanEuneke Widyanigsih
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-076873PERBANDINGAN KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER DENGAN SUBSTITUSI FLY ASH OLEH ZEOLIT DAN SILICA FUME SEBAGAI BAHAN POZZOLAN
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4525
<p>Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh substitusi parsial fly ash dengan zeolite dan silica fume terhadap kuat tekan mortar geopolymer. Mortar geopolymer berbasis fly ash kelas F dimanfaatkan sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti semen Portland. Variasi yang digunakan adalah substitusi zeolite (3%, 7%, 10%, 15%) dan silica fume (3%, 7%, 10%, 15%) terhadap berat fly ash. Sebanyak 27 benda uji kubus berukuran 5x5x5 cm dibuat dna diuji kuat tekannya pada umur 28 hari. Haisl penelitian menunjukkan bahwa komposisi optimum dicapai pada substitusi zeolite 15% dengan kuat tekan 39.97 MPa (peningkatan 120,71% dari baseline 18,11 MPa) dan substitusi silica fume 10% dengan kuat tekan 35,62 MPa (peningkatan 97%). Substitusi di atas kadar optimum menyebabkan penurunan kuat tekan. Zeolite menunjukkan peningkatan kuat tekan yang lebih tinggi pada persentase rendah (3% dan 7%) dibandingkan silica fume. Berdasarkan SNI 6882:2014, seluruh mortar dengan substitusi zeolite (hingga 50%) dikategorikan sebagai mortar tipe M (kuat tekan > 17,2 MPa). Disimpilkan bahwa zeolite dan silica fume efektif sebagai bahan pozzolan substitusi parsial fly ash dalam mortar geopolymer dengan kadar optimum masing-masing 15% dan 10%.</p>Josep BonamoEuneke Widyanigsih
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-077478Self-Compacting Lightweight Concrete dengan Substitusi Sebagian Agregat Kasar Batu Apung
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4526
<p>Penelitian ini betujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi agregat kasa batu apung (30%, 40%, 50%) dengan penggunaan diatomit 20% pengganti sebagian semen pada kinerja Self-Compacting Lightweight Concrete (SCLC). Parameter yang diuji adalah berat jenis dan kuat tekan beton pada umur 28 hari dengan mutu beton 30 Mpa. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa peningkatan kadar batu apung dapat menurunkan berat jenis beton, dari 2102,99 kg/m³ (30%) menjadi 1763,01 kg/m³ (50%).<br>Kuat tekan yang dihasil pada umur 28 hari mengalami penurunan seiring meningkatnya kadar batu apung yaitu 20,53 MPa (30%), 14,69 Mpa (40%), 12,03 MPa (50%). Penggunaan substitusi diatomit<br>20% pada semen berkontribusi terhadap pemadatan mikrostruktur melalu reaksi pozzolanik, namun tidak dapat mengkompensasi penurunan kekuatan akibat batu apung.</p>ERLAND MUTHAHHARI IRAWANBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-077984Pertumbuhan Kekuatan High Volume Fly Ash Self Compacting Concrete
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4527
<p>Industri konstruksi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar akibat penggunaan semen Portland. Salah satu upaya untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut adalah dengan memanfaatkan material pozzolanik seperti fly ash sebagai bahan substitusi semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan kuat tekan High Volume Fly Ash Self-Compacting<br>Concrete (HVFA-SCC) dengan kadar substitusi fly ash sebesar 70% terhadap semen. Metode penelitian meliputi perancangan campuran beton berdasarkan SNI 03-2834-2000 dan metode<br>Okamura dengan faktor air semen (FAS) sebesar 0,32. Benda uji berupa silinder berdiameter 10 cm dan tinggi 20 cm dirawat dengan perendaman air dan diuji kuat tekannya pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton HVFA-SCC mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur beton, yaitu sebesar 10,28 MPa pada umur 7 hari, 16,96 MPa pada umur 14 hari, dan mencapai 22,36 MPa pada umur 28 hari. Kuat tekan yang relatif rendah pada umur awal disebabkan oleh tingginya kadar fly ash yang memperlambat proses hidrasi awal semen, namun reaksi pozzolanik fly ash berkontribusi terhadap peningkatan kuat tekan pada umur lanjut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa HVFA-SCC dengan substitusi fly ash 70% memiliki potensi sebagai beton ramah lingkungan dengan perkembangan kuat tekan yang baik pada umur lanjut, sehingga layak digunakan untuk aplikasi struktur yang tidak memerlukan kekuatan awal tinggi.</p>ADITYA GUSTIARAHMANBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-078589Pengaruh Variasi Gradasi Bercelah Terhadap Kuat Tekan Beton SCC
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4528
<p>Self Compacting Concrete (SCC) merupakan beton yang mampu mengalir dan memadat sendiri tanpa memerlukan proses pemadatan. Kinerja SCC sangat dipengaruhi oleh karakteristik agregat halus, di mana Modulus Kehalusan (Fineness Modulus) sering dijadikan parameter utama. Namun, nilai FM saja belum tentu menggambarkan distribusi ukuran butiran yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi gradasi agregat halus (bercelah) terhadap sifat beton segar (workability). Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental dengan variasi gradasi agregat halus (bercelah) yang disusun berdasarkan pengendalian nilai modulus kehalusan (FM). Mix design menggunakan metode kombinasi Okamura dan SNI 03-2834-2000 dengan faktor air semen (FAS) 0,32, serta dilakukan pengujian kuat tekan pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton SCC dengan gradasi variasi 1, 2, dan 3 masing-masing sebesar 44,63 MPa, 40,70 MPa, dan 49,60 MPa. Variasi gradasi bercelah 3 menghasilkan kuat tekan tertinggi karena susunan butiran yang lebih seimbang mampu meningkatkan kepadatan dan interlocking agregat. Perbedaan nilai kuat tekan tersebut menunjukkan bahwa gradasi agregat halus dengan distribusi ukuran butir yang lebih lengkap mampu mengurangi rongga pori dan meningkatkan interlocking antar butiran, sehingga menghasilkan kuat tekan beton SCC yang lebih tinggi meskipun memiliki nilai FM yang sama.</p>RIFQI DHIYAWANA RAMADHANBERNARDINUS HERBUDIMAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-079094ANALISIS STRUKTUR BAJA BANGUNAN BERTINGKAT DENGAN SISTEM ISOLASI DASAR TIPE LEAD RUBBER BEARING (LRB) TERHADAP BEBAN GEMPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS NONLINIER RIWAYAT WAKTU
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4530
<p>Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas seismik tinggi sehingga pengendalian respons gempa pada bangunan bertingkat menjadi hal penting. Sistem isolasi dasar tipe Lead Rubber Bearing (LRB) dikembangkan untuk mengurangi respons seismik struktur. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penerapan LRB terhadap simpangan antar tingkat (interstory drift) pada bangunan baja bertingkat dibandingkan sistem fixed base. Pemodelan tiga dimensi dilakukan menggunakan ETABS dengan analisis respon spektrum dan riwayat waktu. Penilaian simpangan antar tingkat mengacu pada batasan SNI 1726:2019. Hasil menunjukkan bahwa struktur dengan LRB memiliki simpangan antar tingkat yang lebih<br>kecil dibandingkan fixed base. Meskipun perpindahan global meningkat, deformasi terkonsentrasi pada isolator sehingga simpangan antar tingkat superstruktur tetap di bawah batas izin. Hasil ini menunjukkan bahwa LRB efektif dalam mengendalikan simpangan antar tingkat dan meningkatkan kinerja seismik<br>bangunan.</p>MUHAMMAD FERDLY FERDIYANTO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-079598PENGARUH SUBSTITUSI 5% ABU TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI BINDER TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4531
<p>Penggunaan semen portland dalam industri konstruksi memberikan kontribusi besar terhadap emisi karbon, sehingga diperlukan material alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah mortar geopolimer berbasis fly ash dengan pemanfaatan limbah abu tempurung kelapa. Cairan alkali aktivator yang digunakan adalah natrium hidroksida (NaOH) dengan molaritas 12 M dan natrium silikat (Na₂SiO₃) dengan perbandingan 1:1. Variasi campuran yang digunakan terdiri dari fly ash sebesar 100%; dan 95% dengan substitusi abu tempurung kelapa 0%; dan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan kuat tekan 53,71 Mpa diperoleh pada campuran 100% fly ash pada umur<br>28 hari, sedangkan substitusi ATK 5% menunjukkan kuat tekan sebesar 33,56 Mpa pada umur 28 hari. Berdasarkan hasil penelitian, abu tempurung kelapa dapat menurunkan kuat tekan.</p>MUHAMAD AN DHARU PAMUNGKASERMA DESIMALIANA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-0799103PENGARUH SUBSTITUSI 5% CANGKANG KEMIRI SEBAGAI FILLER TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4532
<p>Penggunaan semen pada mortar konvensional berdampak negatif terhadap lingkungan, sehingga dikembangkan mortar geopolimer yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan cangkang<br>kemiri sebagai material pengisi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan variasi cangkang kemiri terhadap pasir Garut sebesar 0%; dan 5%. Uji kuat tekan dilakukan pada umur<br>28 hari. Hasil menunjukkan kuat tekan 24,70 MPa diperoleh pada campuran 100% pasir garut pada usia 28 hari, sedangkan substitusi cangkang kemiri 5% menunjukkan kuat tekan sebesar 22,40 MPa pada umur 28 hari. Hal ini membuktikan bahwa cangkang kemiri dapat menurunkan kuat tekan.</p>RIMCO MARCO NAIBAHOERMA DESIMALIANA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07104109PENGARUH SUBTITUSI 15% ABU AMPAS TEBU DAN 15% LIMBAH KARBIT SEBAGAI BINDER TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4533
<p>Penggunaan semen dalam mortar konvensional berdampak negatif terhadap lingkungan karena tingginya emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksinya. Sebagai alternatif, mortar geopolimer<br>dikembangkan dengan memanfaatkan material limbah seperti fly ash (FA), abu ampas tebu (AAT), dan limbah karbit (LK) sebagai bahan penyusun yang lebih ramah lingkungan. Kandungan silika (SiO₂) dan alumina (Al₂O₃) pada FA dan AAT berfungsi sebagai bahan pozzolan untuk membentuk jaringan aluminosilikat, sedangkan kandungan kalsium oksida (CaO) pada LK berperan dalam mempercepat proses pengerasan melalui pembentukan fase C–S–H. Penelitian ini dilakukan dengan substitusi 15% AAT dan 15%<br>LK terhadap FA sebagai binder, kemudian dilakukan pengujian kuat tekan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi AAT dan LK mampu meningkatkan kuat tekan mortar geopolimer secara signifikan, dengan nilai optimum mencapai 40,16 MPa pada umur 28 hari. Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan limbah biomassa dan limbah industri dapat mendukung pengembangan material konstruksi ramah lingkungan dengan performa mekanik yang baik.</p>HILMI ABDUL GHANIERMA DESIMALIANAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07110114Analisis Stabilitas Bendungan Urugan Zona Inti Tegak Terhadap Kondisi Muka Air Banjir dan Muka Air Terendah Menggunakan Software PLAXIS 2D
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4534
<p>Bendungan urugan zona tipe inti tegak banyak digunakan di Indonesia karena konstruksinya yang relatif ekonomis, namun stabilitasnya sangat dipengaruhi oleh perubahan muka air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas bendungan urugan terhadap kondisi muka air banjir (FWL) dan muka air<br>terendah (LWL) menggunakan perangkat lunak PLAXIS 2D berbasis metode elemen hingga. Analisis dilakukan dengan pendekatan shear strength reduction (φ–c reduction) untuk memperoleh nilai faktor keamanan. Pemodelan dilakukan berdasarkan data geometri bendungan, parameter tanah fondasi dan material urugan, serta variasi elevasi muka air. Hasil analisis menunjukkan nilai faktor keamanan sebesar 3,435 pada kondisi muka air banjir dan 3,220 pada kondisi muka air terendah. Kedua nilai tersebut memenuhi persyaratan stabilitas sesuai SNI 8064:2016. Dengan demikian, bendungan urugan yang dianalisis dinyatakan stabil dan aman terhadap variasi kondisi muka air yang ditinjau.</p>ARDI SETIADI CHANIAGOINDRA NOER HAMDHAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07115119ANALISIS PERBANDINGAN PENENTUAN EMISI KARBON MENGGUNAKAN IPCC DAN SATELIT PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus: Perkebunan Kelapa Sawit di Panglejar, Subang)
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4535
<p>Estimasi stok dan emisi karbon di sektor perkebunan kelapa sawit menjadi instrumen krusial dalam mitigasi perubahan iklim global serta pelaporan inventarisasi gas rumah kaca. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis perbandingan mendalam mengenai efektivitas penentuan nilai karbon menggunakan metodologi standar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Tier 1 dan metode penginderaan jauh berbasis model Light Use Efficiency (LUE). Fokus utama penelitian adalah untuk mengevaluasi variabilitas spasial dan akurasi hasil perhitungan emisi yang dihasilkan dari dinamika perubahan tutupan lahan di Perkebunan Kelapa Sawit Panglejar, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dalam rentang waktu dua dekade, yakni tahun 2004 dan 2024.</p> <p>Metodologi penelitian ini mengintegrasikan teknologi komputasi awan melalui platform Google Earth Engine (GEE) dengan memanfaatkan data multitemporal dari citra satelit Landsat 5 TM (2004) dan Landsat 8 OLI (2024). Tahapan awal dimulai dengan klasifikasi tutupan lahan menggunakan algoritma Random Forest untuk memetakan empat kelas utama: Kelapa Sawit, Lahan Kosong, Badan Air, dan Bangunan/Infrastruktur. Dalam pendekatan IPCC Tier 1, perhitungan stok karbon dilakukan secara linear dengan mengalikan luas setiap kelas tutupan lahan dengan nilai densitas karbon default (ton C/ha) berdasarkan pedoman IPCC 2006, di mana nilai fraksi karbon ditetapkan sebesar 0,47 dan rasio akar-pucuk (root-to-shoot ratio) sebesar 0,37. Pendekatan ini menghasilkan angka estimasi yang terstandarisasi namun bersifat homogen secara spasial.</p> <p>Sebagai pembanding, metode penginderaan jauh (Satelit) diterapkan menggunakan pendekatan biofisik melalui parameter Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang diturunkan menjadi fraction of Photosynthetically Active Radiation (fPAR) dan Net Primary Production (NPP). Metode ini memungkinkan deteksi karbon dilakukan secara berbasis piksel (pixel-based), sehingga mampu menangkap respon spektral vegetasi secara riil di lapangan. Secara naratif, hasil penelitian menunjukkan bahwa metode IPCC Tier 1 sangat handal untuk kebutuhan administratif dan kebijakan nasional karena kesederhanaannya dalam pengolahan data, namun memiliki keterbatasan dalam menggambarkan degradasi atau pertumbuhan vegetasi di dalam satu blok lahan yang sama. Sebaliknya, metode penginderaan jauh (LUE/NPP) menunjukkan variabilitas spasial yang tinggi dan mampu mendeteksi fluktuasi serapan karbon yang dipengaruhi oleh fase usia tanaman serta kesehatan kanopi kelapa sawit secara dinamis.</p> <p>Hasil analisis perubahan karbon (carbon change) periode 2004–2024 menunjukkan adanya tren peningkatan stok karbon seiring dengan ekspansi lahan produktif dari lahan kosong menjadi perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kedua metode tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi; metodologi IPCC Tier 1 memberikan kepastian hukum dan standar pelaporan, sementara analisis satelit memberikan akurasi spasial untuk manajemen karbon tingkat mikro. Temuan ini diharapkan dapat menjadi pedoman teknis bagi pengelola perkebunan dalam memantau emisi karbon secara efisien dan akurat guna mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan di Indonesia.Kunci: Emisi karbon, tutupan lahan, kelapa sawit, IPCC Tier 1.</p>Mochammad Irsyad AliyyadiSONI DARMAWAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07120134Analisis Spasial Potensi Banjir Rob Di Wilayah Pesisir Kabupaten Cirebon
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4536
<p>Banjir rob merupakan bencana akibat meluapnya air laut ke daratan saat pasang tinggi, terutama di wilayah pesisir dengan topografi datar. Kabupaten Cirebon termasuk kawasan rawan karena memiliki ketinggian lahan rendah dan berada dekat garis pantai. Kajian ini bertujuan memetakan zona potensi banjir rob di pesisir Kabupaten Cirebon menggunakan metode skoring, pembobotan dengan<br>Analytical Hierarchy Process (AHP), dan analisis spasial berbasis overlay union. Parameter yang dianalisis meliputi ketinggian lahan, kemiringan lahan, jarak garis pantai, jarak sungai, tutupan lahan, dan curah hujan, dengan sumber data DEMNAS, RBI, CHIRPS, serta pasang surut. Analisis menunjukkan ketinggian lahan memiliki bobot tertinggi (0,3237), diikuti jarak garis pantai (0,2233),<br>sedangkan curah hujan bobot terendah (0,0518). Zona potensi sangat tinggi mencakup ±31,36 km², kategori tinggi 58,58 km², sedang 94,43 km², rendah 735,54 km², dan sangat rendah 158,19 km². Kecamatan Losari dan Kapetakan menempati posisi dengan potensi rob tertinggi, sedangkan Mundu didominasi oleh kategori rendah. Peta zonasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar mitigasi dan adaptasi bencana di wilayah pesisir Kabupaten Cirebon.</p>HELMI NURHUDAYATHONAS INDRA MARYANTO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07135142IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN AREA TERBAKAR (BURNED AREA) DI GUNUNG ARJUNO, PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2023 MENGGUNAKAN METODE RELATIVED BURN RATIO (RBR) BERBASIS CITRA SENTINEL-2A
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4537
<p>Kebakaran hutan dan lahan merupakan gangguan ekologis yang berdampak signifikan terhadap ekosistem konservasi. Salah satu wilayah yang terdampak pada tahun 2023 adalah Gunung Arjuno,<br>Provinsi Jawa Timur. Identifikasi dan pemetaan area terbakar dilakukan menggunakan citra Sentinel-2A dengan metode Relativized Burn Ratio (RBR) berbasis Normalized Burn Ratio (NBR). Informasi hotspot dari sensor VIIRS dan MODIS (NASA FIRMS) digunakan sebagai data pendukung untuk memvalidasi kejadian kebakaran. Hasil analisis menunjukkan luas area terbakar sebesar 4.504,93 ha dengan dominasi tingkat keparahan sedang hingga tinggi pada lereng Gunung Arjuno. Kesesuaian spasial antara sebaran hotspot dan peta area terbakar mencapai akurasi 98,8%, yang menunjukkan efektivitas metode RBR dalam merepresentasikan distribusi dan tingkat keparahan kebakaran.</p>MUHAMMAD LUTHFI ZULFAUZIHARY NUGROHO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07143158ANALISIS KORELASI KERAPATAN VEGETASI DAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN NDVI, EVI, NDWI, DAN LST DENGAN RANDOM FOREST PADA GOOGLE EARTH ENGINE
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4539
<p>Kerapatan vegetasi yang tinggi berperan penting dalam mengurangi kerentanan suatu wilayah terhadap kekeringan sehingga analisis kerapatan vegetasi diperlukan sebagai dasar pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Analisis spasial untuk mengetahui korelasi antara kerapatan vegetasi dan kekeringan dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan machine learning. Penelitian ini menganalisis hubungan tersebut menggunakan data citra satelit Sentinel-2A untuk menghitung parameter NDVI, EVI, dan NDWI, data citra satelit MODIS untuk menghitung parameter Land Surface Temperature<br>(LST), serta data CHIRPS untuk menentukan indeks kekeringan. Pengolahan data dilakukan pada platform Google Earth Engine (GEE) dengan menerapkan algoritma Random Forest Regression untuk prediksi kekeringan, sedangkan analisis korelasi dilakukan menggunakan regresi linear. Hasil penelitian di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang pada tahun 2020 dan 2024 menunjukkan bahwa seluruh parameter tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap kekeringan. Nilai korelasi NDVI, EVI, NDWI, dan LST pada tahun<br>2020 masing-masing sebesar 0,103; 0,150; 0,098; dan 0,057, sedangkan pada tahun 2024 sebesar 0,005; 0,001; 0,004; dan 0,187.</p>LODEWYK SAKANHARY NUGROHO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07159165DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP MASYARAKAT DI KELURAHAN KEMUMU KECAMATAN ARMA JAYA KABUPATEN BENGKULU UTARA
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4540
<p>Alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan, khususnya padi sawah, menjadi lahan perkebunan dan kawasan permukiman merupakan permasalahan yang semakin meningkat seiring<br>perkembangan wilayah. Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, yang secara peruntukan ruang diarahkan sebagai kawasan pertanian tanaman pangan (padi sawah), mengalami perubahan guna lahan yang signifikan akibat konversi lahan sawah ke penggunaan perkebunan dan permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi<br>perubahan guna lahan serta menganalisis dampak alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan terhadap masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan<br>spasial dan kualitatif melalui analisis overlay peta penggunaan lahan tahun 2014, 2019, dan 2024 serta data Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), yang didukung oleh data mata<br>pencaharian dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan sawah berdampak pada perubahan struktur mata pencaharian, menurunnya partisipasi masyarakat dalam kelembagaan pengairan sawah (P3A), serta berkurangnya kegiatan pasca panen seperti bawonan. Temuan ini menegaskan perlunya pengendalian alih fungsi lahan dan penguatan kelembagaan pertanian tanaman pangan untuk menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat.</p>SADAR YUNI RAHARJOREZA FITRIANSYAH ALSEPKY HADI
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07166172TINGKAT KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR DI KECAMATAN BANJARAN
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4541
<p>Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, rutin menghadapi bencana banjir akibat luapan Sub-aliran Cisangkuy. Kurangnya kesiapsiagaan yang terukur berisiko memperburuk dampak<br>pasca-bencana, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah tersebut. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data primer<br>dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner kepada masyarakat terdampak bencana banjir. Analisis data dilakukan menggunakan, perhitungan rata-rata dan analisis interval. Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat kesiapsiagaan antar desa. Desa Kiangroke meraih skor tertinggi sebesar 3,65 (kategori Siap), yang didorong oleh keunggulan indikator sistem peringatan dini. Sebaliknya, Desa Tarajusari memperoleh skor 3,31 (kategori Hampir Siap) karena rendahnya indikator rencana tanggap darurat. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan rencana evakuasi dan koordinasi darurat di tingkat desa guna meminimalkan risiko<br>bencana. Perbedaan capaian tiap desa menunjukkan bahwa strategi mitigasi harus disesuaikan dengan kelemahan spesifik pada masing-masing indikator lokal.</p>Regar BolyviaZulfadly Urufi
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07173179DAMPAK KERUSAKAN TERHADAP KINERJA JALAN PADA KABUPATEN ENDE, PULAU FLORES, NTT (STUDI KASUS : SEGMEN JALAN KECAMATAN KOTA BARU, KECAMATAN MAUKARO, KECAMATAN MAUROLE, KECAMATAN WEWARIA)
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4542
<p>Ruas Jalan pada segmen di Kecamatan Maurole, Maukaro, Wewaria, dan Kota Baru mengalami kerusakan akibat abrasi, banjir musiman, dan tanah longsor. Penelitian ini menganalisis dampak kerusakan terhadap kinerja jalan di keempat kecamatan tersebut. Metode analisis data pada penelitian ini memakai perhitungan analisis segmen, volume lalu lintas, kecepatan dan level of service (LOS). Hasil menunjukkan kapasitas jalan 2.576,8–2.677,2 smp/jam dengan volume lalu lintas maksimum 495,4 smp/jam, didominasi sepeda motor. Derajat kejenuhan rata-rata 0,10 menunjukkan LoS A, menurun menjadi LoS B pada jam puncak di Wewaria. Namun, kecepatan operasional kendaraan hanya 28–32 km/jam, jauh di bawah kecepatan arus bebas 52–54 km/jam, menandakan kerusakan jalan signifikan memengaruhi kecepatan, kenyamanan, dan keselamatan.</p>FAUSTINUS ENGGAR KUSNO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07180190KINERJA LALU LINTAS PADA RUAS JALAN SURYAKENCANA KECAMATAN CIBADAK KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN PEDOMAN PKJI 2023
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4543
<p>Ruas Jalan Suryakencana di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi merupakan jalan nasional dengan aktivitas lalu lintas tinggi akibat fungsi penghubung antarwilayah dan keberadaan kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang koridor jalan. Kondisi tersebut memicu peningkatan volume lalu lintas dan hambatan samping yang berdampak pada penurunan kinerja jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja lalu lintas berdasarkan parameter volume lalu lintas, kapasitas jalan, derajat kejenuhan (DS), dan tingkat pelayanan jalan (Level of Service/LoS) dengan mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan<br>teknik pengambilan data yaitu survei lalu lintas pada hari Minggu dan Senin saat jam puncak pagi dan sore. Hasil analisis menunjukkan nilai DS pada beberapa periode pengamatan<br>melebihi 1,00 dengan tingkat pelayanan LOS E hingga F, yang mengindikasikan kondisi lalu lintas tidak stabil. Hambatan samping yang tinggi menjadi faktor utama penurunan kinerja jalan.</p>FATIH MUHAMMAD FADHLIRATNA AGUSTINA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07191197TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN NYENGSERET K
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4544
<p>Perkembangan permukiman kumuh semakin pesat di Indonesia terutama di daerah Jawa Barat. Banyak faktor yang menjadikan masyarakat untuk memilih tinggal di daerah permukiman kumuh, adanya kepadatan penduduk di kawasan permukiman kumuh adalah melonjaknya tingkat urbanisasi. Sedangkan untuk faktor ekonomi adalah kebutuhan akan mata pencaharian untuk memenuhi keperluan ekonomi kehidupan sehari – hari. Metode<br>penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, data di peroleh di wilayah kelurahan nyengseret astanaanyar Kota Bandung, terutama pada wilayah yang telah terindikasi memiliki tingkat kekumuhan yang tinggi yaitu pada (RW 001, RW 003, dan RW 004). Variabel penelitian terdiri dari dua aspek utama, yaitu Bangunan (kepadatan, jenis, konstruksi) dan Utilitas (limbah, sampah, drainase, jalan, air<br>bersih, proteksi kebakaran). Analisis data dilakukan melalui uji validitas, reliabilitas, dan analisis deskriptif.</p>Putri Dian HerlinaZulfadly Urufi
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07198203Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Berkunjung Wisatawan ke Bendungan Jatigede Kabupaten Sumedang
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4545
<p>Bendungan Jatigede merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Sumedang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata terpadu. Namun, perkembangan pariwisata di kawasan ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan berkunjung wisatawan ke Bendungan Jatigede berdasarkan konsep atribut 3A, yaitu atraksi wisata, aksesibilitas, dan amenitas. Metode penelitian yang<br>digunakan adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data dilakukan menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) untuk mengetahui struktur faktor yang terbentuk berdasarkan persepsi wisatawan. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang sedang atau pernah berkunjung ke kawasan wisata Jatigede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan berkunjung wisatawan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang merupakan kombinasi indikator atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Temuan ini menegaskan bahwa ketiga atribut tersebut saling berkaitan dalam membentuk persepsi dan keputusan wisatawan untuk berkunjung.</p>SYAHRUL MUZAFFARSADAR YUNI RAHARJO
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07204208Persepsi Pengunjung terhadap Komponen Destinasi Wisata 4A di Taman Pantai Piwang, Kabupaten Natuna
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4547
<p>Pengembangan destinasi wisata pesisir memerlukan evaluasi kualitas destinasi berdasarkan persepsi pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi pengunjung terhadap komponen destinasi wisata berdasarkan pendekatan 4A (attraction, accessibility, amenity, dan ancillary) di Taman Pantai Piwang, Kabupaten Natuna. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif melalui penyebaran kuesioner skala Likert lima tingkat kepada 100 responden yang dipilih<br>menggunakan teknik insidental sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata masing-masing komponen 4A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen attraction dan accessibility berada pada kategori sangat baik, sedangkan komponen amenity dan ancillary berada pada<br>kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi pengunjung terhadap Pantai Piwang lebih kuat pada aspek daya tarik dan kemudahan akses, sementara fasilitas dan layanan pendukung masih perlu ditingkatkan untuk menunjang kualitas destinasi wisata secara keseluruhan.</p>RAFIKA CITRA NATASYA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07209213Karakteristik Permukiman Sempadan Sungai Cibeureum Kelurahan Isola Berdasarkan Kriteria Kekumuhan dan Persepsi Penghuni
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4548
<p>Permukiman kumuh di sempadan sungai merupakan permasalahan perkotaan yang masih banyak dijumpai di kota-kota besar, termasuk Kota Bandung. Kawasan sempadan Sungai Cibeureum di Kelurahan Isola telah ditetapkan sebagai kawasan kumuh oleh Pemerintah Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kekumuhan permukiman berdasarkan tujuh kriteria permukiman kumuh serta menganalisis persepsi penghuni terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik observasi lapangan dan wawancara terstruktur terhadap 30 responden yang tinggal di RT 04 Kelurahan Isola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima dari tujuh kriteria kekumuhan belum terpenuhi, terutama pada aspek kondisi bangunan hunian, aksesibilitas lingkungan, pelayanan air bersih, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Persepsi penghuni<br>menunjukkan tingkat kenyamanan yang rendah terhadap kondisi lingkungan, meskipun sebagian besar warga tetap bertahan karena keterbatasan ekonomi dan kedekatan lokasi dengan tempat<br>kerja. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam upaya penataan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh di sempadan Sungai Cibeureum secara berkelanjutan.</p>WAHYU RAMADHAN AL FATTAH
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07214217PRIORITAS PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PERIKANAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KECAMATAN KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4549
<p>Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan perikanan tangkap, dengan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kumai sebagai pusat kegiatan. Pengembangan kawasan ini memerlukan infrastruktur perikanan yang terintegrasi dan tepat sasaran. Keterbatasan sumber daya pembangunan mengharuskan penentuan prioritas dalam pengembangan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan prioritas pengembangan infrastruktur perikanan di kawasan minapolitan Kecamatan Kumai. Metode yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP), melibatkan empat<br>pemangku kepentingan utama: Bappeda Kabupaten Kotawaringin Barat, UPT Pelabuhan Perikanan Kumai, dan dua perwakilan tokoh nelayan. Hasil analisis menunjukkan bahwa subsistem <br>minabisnis usaha produksi memiliki bobot prioritas tertinggi sebesar 41%, diikuti oleh sub-sistem hilir pengolahan hasil sebesar 34%. Infrastruktur prioritas utama secara global terdiri dari pabrik es (16,83%), armada penangkapan ikan (14,93%), dan peralatan<br>penangkapan ikan (13,62%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan infrastruktur perikanan yang lebih efektif dan berkelanjutan di kawasan minapolitan Kecamatan Kumai.</p>NABILLA PUTERI NUR RADA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07218224Identifikasi Risiko Banjir Berdasarkan Sistem Drainase dan Penggunaan Lahan di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Kota Bekasi
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4550
<p>Banjir genangan di kawasan permukiman perkotaan umumnya dipicu oleh dominasi penggunaan lahan terbangun dan keterbatasan kapasitas sistem drainase dalam menyalurkan limpasan permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi rawan genangan banjir di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Kota Bekasi, berdasarkan karakteristik penggunaan lahan dan kinerja sistem drainase eksisting. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif<br>melalui pemodelan hidrologi–hidraulika dengan EPA SWMM 5.2 yang dikombinasikan dengan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis dilakukan menggunakan hujan rencana periode ulang 10 tahun (Q₁₀) dengan hujan efektif sebesar 125,6 mm. Hasil penelitian menunjukkan nilai Curve Number komposit sebesar 85,8 yang mengindikasikan limpasan permukaan tinggi. Risiko genangan bersifat terlokalisasi dan terkonsentrasi pada Saluran Dahlia, khususnya di Junction J201 dengan debit luapan maksimum sekitar 0,70 m³/detik. Temuan ini memberikan dasar spasial untuk penentuan prioritas penanganan banjir pada skala permukiman.</p>MUHAMMAD NAUFAL FATHANYANTI BUDIYANTINI
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07225229Evaluasi Kinerja Kawasan Terminal Leuwi Panjang Menggunakan Node-Place Model
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4551
<p>Terminal Leuwi Panjang merupakan simpul transportasi strategis di Kota Bandung, namun perkembangan kawasan sekitarnya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keseimbangan antara fungsi transportasi (Node) dan intensitas aktivitas (Place)<br>menggunakan Node-Place Model. Metode yang digunakan adalah campuran (mixedmethods) dengan teknik buffering radius 800 meter. Hasil analisis menunjukkan nilai agregasi dimensi Node sebesar 0,75 (High Node) dan dimensi Place sebesar 0,404 (Low<br>Place). Berdasarkan matriks Bertolini, kawasan Terminal Leuwi Panjang terklasifikasi sebagai Unbalanced Node, yang mengindikasikan adanya kapasitas transportasi yang besar namun<br>tidak diimbangi dengan intensitas kegiatan perkotaan yang memadai . Kondisi ini disebabkan oleh dominasi penggunaan lahan hunian horizontal dan pemanfaatan ruang vertikal yang minim. Rekomendasi utama meliputi densifikasi hunian vertikal dan pengembangan fungsi mixed-use untuk mencapai keseimbangan kawasan.</p>RIPAN NURSALAM
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07230240Perbandingan Persepsi Pengguna terhadap Aksesibilitas Layanan Koridor 1 dan Koridor 4 Metro Jabar Trans berdasarkan Indikator Public Transport Accessibility Levels
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4546
<p>Metro Jabar Trans merupakan layanan transportasi publik di Kota Bandung yang bertujuan meningkatkan<br>mobilitas dan mengurangi kemacetan. Penelitian ini bertujuan menganalisis aksesibilitas layanan Metro<br>Jabar Trans berdasarkan persepsi pengguna menggunakan indikator Public Transport Accessibility Levels<br>(PTAL). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data<br>melalui kuesioner dan observasi lapangan pada Koridor Leuwipanjang–Dago dan Leuwipanjang–Soreang.<br>Indikator yang dianalisis meliputi waktu tempuh berjalan kaki menuju halte, keandalan bus, headway, dan<br>waktu tunggu rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas layanan Metro Jabar Trans<br>secara umum berada pada kategori cukup hingga baik, meskipun masih terdapat keterbatasan pada<br>konsistensi jadwal dan jarak halte di beberapa lokasi. Selain itu, Koridor 1 memiliki kinerja waktu tunggu<br>yang lebih baik dibandingkan Koridor 4.<br><br><br></p> <p> </p>MOCHAMMAD IRGI MAULANA YUSUFRatna Agustina
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07241249Penilaian Indeks Risiko Sanitasi Menggunakan Kuesioner EHRA (Environmental Health Risk Assessment) di Kelurahan Rancabolang Bandung
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4552
<p>Kondisi sanitasi lingkungan yang belum merata dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat dan<br>pencemaran lingkungan, terutama di wilayah perkotaan dengan karakteristik permukiman yang beragam.<br>Kelurahan Rancabolang merupakan salah satu wilayah di Kota Bandung yang termasuk dalam area berisiko<br>sanitasi tinggi berdasarkan Strategi Sanitasi Kota Bandung Tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menilai tingkat risiko sanitasi lingkungan dan mengidentifikasi aspek sanitasi yang paling berisiko di<br>Kelurahan Rancabolang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui<br>wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Environmental Health Risk Assessment (EHRA). Jumlah<br>responden sebanyak 92 kepala keluarga yang ditentukan menggunakan metode Slovin dan didistribusikan<br>secara proporsional pada setiap RW dengan teknik stratified random sampling. Penilaian risiko dilakukan<br>dengan menghitung Indeks Risiko Sanitasi (IRS) yang mencakup aspek sumber air, air limbah domestik,<br>persampahan, genangan, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br>air limbah domestik merupakan aspek dengan risiko tertinggi dengan nilai IRS sebesar 230, yang<br>dipengaruhi oleh 100% tangki septik berisiko tidak aman, 83% pembuangan tinja tidak memenuhi<br>ketentuan, serta 100% pembuangan greywater langsung ke saluran drainase.</p> <p> </p>THARRA AZKA NOOR AZIZAH1NICO HALOMOAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07250258OPTIMALISASI PENGOLAHAN LIMBAH KOTORAN HEWAN DENGAN MENGGUNAKAN ANAEROBIC DIGESTER DI KAMPUNG CIKONENG, DESA CIBIRU WETAN, KABUPATEN BANDUNG
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4554
<p>Aktivitas peternakan sapi dan kambing di Kampung Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi pemanfaatan limbah peternakan sebagai bahan baku biogas serta mengevaluasi kinerja biodigester sederhana sebagai upaya pengendalian pencemaran lingkungan dan penyediaan energi terbarukan. Metode penelitian meliputi pengumpulan data primer melalui observasi lapangan dan pengukuran karakteristik limbah, serta data sekunder dari studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ternak dengan produksi rata-rata 105 kg/hari memiliki karakteristik yang sesuai untuk proses pencernaan anaerob. Biodigester berkapasitas 10 m³ mampu beroperasi secara stabil dengan volume slurry 0,210 m³/hari dan waktu tinggal hidrolik 50–60 hari, serta menghasilkan biogas sekitar 3,6 m³/hari. Selain menghasilkan energi, slurry hasil digester berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan. Dari aspek teknis, sosial, dan ekonomi, penerapan teknologi biogas dinilai layak dan berpotensi berkelanjutan bagi masyarakat Kampung Cikoneng.</p>JEREMY SANOHUGO ZEBUANICO HALOMOAN
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07259264Literature Review : Dinamika Nitrogen Anorganik Terlarut di Hilir Sungai Cimanuk Kabupaten Indramayu
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4555
<p>Nitrogen anorganik terlarut merupakan salah satu indikator utama kualitas perairan sungai karena berperan langsung dalam siklus nutrien dan berpotensi menimbulkan eutrofikasi. Bentuk utama nitrogen anorganik terlarut meliputi nitrat (NO₃⁻), nitrit (NO₂⁻), dan amonium (NH₄⁺), yang keberadaannya dipengaruhi oleh faktor alami serta aktivitas antropogenik. Wilayah hilir Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu merupakan kawasan dengan dominasi aktivitas pertanian, pemukiman, dan aliran limbah domestik yang berpotensi meningkatkan beban nitrogen ke badan air. Berdasarkan berbagai kajian literatur, peningkatan konsentrasi nitrat dan nitrit umumnya berkaitan dengan penggunaan pupuk nitrogen dan limpasan lahan pertanian, terutama pada musim hujan, sedangkan amonium cenderung ditemukan sepanjang tahun akibat proses mineralisasi bahan organik dan input limbah domestik. Dinamika nitrogen anorganik terlarut juga dipengaruhi oleh parameter fisika-kimia perairan seperti oksigen terlarut, pH, suhu, dan total padatan<br>terlarut, meskipun hubungan antarparameter tidak selalu bersifat linier atau signifikan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap dinamika nitrogen anorganik terlarut di hilir Sungai Cimanuk menjadi penting sebagai dasar pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran nutrien secara berkelanjutan di Kabupaten Indramayu.</p>IWAN JUWANATARISA OCTAVIENA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07265270Pengaruh Karakteristik Fisika-Kimia dan Tata Guna Lahan terhadap Distribusi Logam Berat Terlarut di Sungai Cimanuk, Kabupaten Indramayu
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4556
<p>Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu berperan penting sebagai sumber air irigasi dan penunjang aktivitas masyarakat, namun berpotensi mengalami penurunan kualitas akibat tekanan aktivitas antropogenik di daerah aliran sungai. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh karakteristik fisika-kimia air dan tata guna lahan terhadap distribusi logam berat terlarut di Sungai Cimanuk berdasarkan kajian literatur. Metode yang digunakan berupa studi literatur terhadap jurnal nasional dan internasional yang membahas logam berat terlarut, parameter fisika-kimia air, serta pengaruh tata guna lahan terhadap kualitas air sungai, didukung oleh analisis spasial menggunakan peta segmen sungai dan peta tata guna lahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa parameter fisika-kimia air seperti pH, DO, TDS, dan konduktivitas berperan dalam mengontrol kelarutan dan mobilitas logam berat terlarut. Selain itu, tata guna lahan pertanian, permukiman, dan tambak berkontribusi signifikan terhadap potensi masukan logam berat di setiap segmen sungai. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan kualitas air Sungai Cimanuk secara berkelanjutan.</p>Annissa Azzahra Mutia IndryaniIWAN JUWANA
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07271276Variasi Spasial dan Temporal Konsentrasi PM10 di Kota Bandung
https://eproceeding.itenas.ac.id/index.php/ftsp/article/view/4557
<p>Pencemaran udara merupakan permasalahan lingkungan yang umum terjadi di kota-kota besar, termasuk Kota Bandung, dengan partikulat kasar (PM10) sebagai salah satu parameter utama kualitas udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM10 di Kota Bandung serta variasinya secara spasial dan temporal. Pengukuran dilakukan pada 60 titik yang terbagi ke dalam kawasan urban dan background, menggunakan instrumen AirVisual Outdoor. Pengambilan data dilakukan pada tiga periode waktu, yaitu pagi, siang, dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 berkisar antara 1,00–82,85 μg/m³ dengan rata-rata 58,63 μg/m³. Secara spasial, kawasan urban memiliki konsentrasi PM₁₀ lebih tinggi dibandingkan kawasan background. Secara temporal, konsentrasi partikulat cenderung lebih tinggi pada pagi hari dan menurun pada siang hingga sore hari. Penelitian<br>ini memberikan gambaran umum kondisi kualitas udara ambien di Kota Bandung berdasarkan lokasi dan waktu pengamatan.</p>HANI AZIZAHMILA DIRGAWATI
Copyright (c) 2026
2026-08-072026-08-07277282