PEMANTAUAN DEFORMASI GUNUNG API DENGAN METODE DIFFERENTIAL INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (DInSAR) PERIODE TAHUN 2019–2024 (Studi Kasus: Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Ijen, dan Gunung Awu)
Keywords:
Gunungapi, Deformasi, DInSAR, Penginderaan JauhAbstract
Manifestasi dari keberadaan gunung api tentunya memiliki dampak secara langsung terhadap lingkungan baik itu positif atau negatif, salah satu dampak negatifnya adalah bahaya letusan gunung api. Pemantauan aktivitas gunung diperlukan untuk mengetahui status gunung mulai dari aktif normal, waspada, siaga hingga awas, untuk dilakukannya tindakan preventif atau evakuasi apabila ada bencana letusan. Dalam pelaksanaan monitoring deformasi ini menggunakan metode Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR), yaitu suatu metode teknologi penginderaan Jauh yang menggunakan citra hasil dari satelit radar. Pada penelitian ini menggunakan data citra sentinel-1, yang diproses secara cloud computing pengolahan DInSAR melalui laman ASF Alaska. Hasil pemantauan deformasi pada Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Ijen, dan Gunung Awu, didapatkan Gunung Merapi mengalami aktivitas deformasi inflasi pada periode 2019, 2020, 2023, dan 2024 dengan nilai rata-rata sebesar 0.00548335 m - 0.0340384 m. Sedangkan aktivitas deformasi deflasi terjadi pada periode 2021 dan 2022 dengan rata-rata deflasi sebesar -0.0247824 m - -0.05256405 m. Selanjutnya Gunung Sinabung mengalami aktivitas deformasi inflasi pada periode 2019, 2020, 2023, dan 2024 dengan nilai rata-rata sebesar 0.01156355 m - 0.0226108 m. Sedangkan aktivitas deformasi deflasi terjadi pada periode 2021 dan 2022 dengan rata-rata sebesar -0.030459 m - -0.04549775 m. Berikutnya, Gunung Ijen mengalami aktivitas deformasi inflasi pada periode tahun 2020, 2022, 2023, dan 2024 dengan nilai rata-rata sebesar 0.00121845 m - 0.0126187 m. Sedangkan aktivitas deformasi deflasi terjadi pada periode 2019 dan 2021 dengan rata-rata sebesar -0.02245965 m - -0.03785745 m. Selanjutnya, Gunung Awu mengalami aktivitas deformasi inflasi pada periode tahun 2019, 2020, 2021, 2023, dan 2024 dengan nilai rata-rata sebesar 0.00424515 m - 0.0232712 m. Sedangkan aktivitas deformasi deflasi terjadi pada periode 2022 dengan rata-rata sebesar - 0.0525549 m. Dari hasil tersebut terjadi beberapa kesesuaian aktivitas dengan data catatan aktivitas vulkanik dari Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Ijen, dan Gunung Awu pada periode 2019–2024.