ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH (LAND SUBSIDENCE) DI PULAU JAWA BAGIAN UTARA MENGGUNAKAN DATA CORS TAHUN 2021-2025

Authors

  • TEDY MAS BUDIMAN Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung, Jl. PPH. Hasan Mustapa No.23 Kota Bandung, Jawa Barat
  • SONI DARMAWAN Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung, Jl. PPH. Hasan Mustapa No.23 Kota Bandung, Jawa Barat

Keywords:

Penurunan Muka Tanah, CORS, GNSS, GAMIT/GLOBK

Abstract

Penurunan muka tanah merupakan permasalahan serius yang berdampak pada wilayah Indonesia, khususnya di kawasan utara Pulau Jawa. Fenomena ini telah tercatat secara signifikan di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan, menyebabkan kerusakan infrastruktur, peningkatan risiko banjir rob, dan tantangan dalam penataan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola perubahan penurunan muka tanah di wilayah utara Pulau Jawa dalam rentang waktu 2021–2025 berdasarkan data yang diperoleh dari sistem Continuously Operating Reference Station (CORS). Data GNSS diolah menggunakan perangkat lunak GAMIT untuk estimasi posisi harian, kemudian dilanjutkan dengan GLOBK untuk memperoleh kecepatan vertikal. Metode Precise Point Positioning (PPP) dan Kalman Filtering digunakan guna meningkatkan akurasi data serta meminimalisir gangguan atmosfer dan pergeseran tektonik.Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh titik pengamatan mengalami penurunan muka tanah (subsidence) dengan kecepatan vertikal berkisar antara –5,15 mm/tahun hingga –9,94 mm/tahun. Stasiun CPAI (Pati) mencatat penurunan tertinggi sebesar –9,94 mm/tahun, sedangkan penurunan terendah tercatat di stasiun CREM (Madura) sebesar –5,15 mm/tahun. Secara spasial, wilayah pantura Jawa seperti Jakarta Utara, Cirebon, Semarang, dan Surabaya menunjukkan tingkat penurunan yang lebih signifikan dibandingkan wilayah lainnya. Evaluasi kualitas data menunjukkan bahwa seluruh hasil pengolahan memenuhi kriteria teknis, yaitu Fract < 0,10 dan WRMS < 10 mm, yang mengindikasikan bahwa estimasi posisi dan kecepatan yang dihasilkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan dapat diandalkan untuk analisis spasial dan pengambilan kebijakan mitigasi secara berkelanjutan.

Downloads

Published

2026-09-09